Antara Lubang dan Kemewahan: Dialog Bonjol dan Yani”

BERITA : IMAGINER

Kpksigap.com- Malam itu, hujan turun dengan setia, membasuh setiap jengkal kota. Di antara gemuruh air yang jatuh dari langit, dua jalan yang berbeda nasibnya mulai berbincang dalam diam.

“Aku capek,” keluh Jalan Imam Bonjol, tubuhnya penuh lubang yang kini berubah jadi kolam dadakan. Genangan air menari di atasnya, sementara para pengendara yang melintas hanya bisa mengumpat sebelum akhirnya terguncang karena lubang-lubang yang menganga. “Setiap hujan datang, aku bukan lagi jalan, tapi kubangan. Aku lelah menjadi jebakan bagi yang tak waspada.”

Dari kejauhan, terdengar suara tawa kecil. Itu Jalan Ahmad Yani, dengan aspal mulusnya yang selalu diperbarui. “Kasihan sekali kamu, Bonjol. Tapi ya, wajar. Aku ini istimewa.”

Imam Bonjol menghela napas. “Kenapa? Bukankah kita sama-sama jalan? Bukankah kita sama-sama penting.

Ahmad Yani terkekeh. “Bukan soal penting atau tidak, saudaraku. Ini soal siapa yang sering melintasi kita. Aku selalu dilewati mobil-mobil pejabat, kendaraan mewah, dan kaki-kaki berkepentingan. Aku tak boleh rusak, karena kalau aku berlubang, mereka mengeluh. Lalu secepat kilat aku diperbaiki.

Bonjol terdiam. Ia tahu, sudah lama dirinya bukan prioritas. Setiap retaknya hanya dilirik sekilas, dicatat dalam daftar perbaikan yang entah kapan giliran tiba. Yang pasti, selama tak ada yang ‘berpengaruh’ tersandung di tubuhnya, ia akan tetap menjadi sekadar jalan yang dibiarkan merana.

Hujan semakin deras. Imam Bonjol tak lagi berbicara. Ia hanya pasrah menunggu satu-satunya cara agar diperbaiki: berharap ada pejabat tersesat dan merasakan sendiri bagaimana rasanya melintasi dirinya. Mungkin saat itulah perhatian akan datang .

Penulis : Rahmad Maulana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *