Longsor Maut Sancifu: Alam Marah atau Pemerintah Lalai?

Bengkayang,kpksigap.com – Kalbar – Perburuan emas di tambang ilegal Sancifu, Desa Kinande, berujung tragedi.

Hujan deras yang mengguyur selama berhari-hari memicu longsor mematikan pada Minggu (9/2/2025) pukul 14:45 WIB. Enam penambang tewas tertimbun, sementara tiga lainnya kritis.

 

Ketika tanah mulai bergerak, para penambang tak sempat menyelamatkan diri. Mereka terkubur bersama impian emas yang dikejar.

Warga sekitar yang mengetahui kejadian ini langsung berusaha mengevakuasi korban dengan peralatan seadanya, menggali tanah dengan tangan kosong, berpacu melawan waktu.

Namun, harapan kian menipis saat satu per satu korban ditemukan tak bernyawa.

Korban tewas terdiri dari satu warga Kinande, dua dari Mayasopa, dan tiga dari Selakau, Sambas. Sementara itu, tiga penambang yang selamat dalam kondisi kritis dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan intensif.

Pemerintah Bungkam, Warga Geram

Di tengah duka, ada amarah yang membara. Kepala Desa Kinande, Philipus, belum memberikan tanggapan hingga Senin (10/2/2025) pukul 10:48 WIB.

Diamnya pemerintah desa menambah kekecewaan warga yang sudah lama resah dengan aktivitas tambang emas tanpa izin (PETI) ini.

“Sudah berulang kali ada korban, tapi tambang tetap beroperasi. Sampai kapan ini dibiarkan?” ujar Herman, seorang tokoh masyarakat setempat.

PETI telah lama menjadi mata pencaharian berisiko tinggi di daerah ini. Meski berkali-kali menelan korban, tambang ilegal tetap berjalan tanpa pengawasan ketat.

Kapolres Bengkayang, AKBP Surya Dharma, berjanji akan melakukan penyelidikan dan menindak para pelaku.

Namun, warga tak lagi percaya hanya pada janji. Mereka menuntut tindakan nyata: penutupan tambang ilegal dan solusi ekonomi yang lebih aman bagi mereka.

“Kalau dibiarkan, ini hanya soal waktu sampai ada korban lagi. Kami butuh solusi, bukan sekadar berita,” tambah Herman.

Nyawa vs. Segenggam Emas

Jenazah para korban telah dimakamkan, meninggalkan keluarga yang berduka dalam ketidakpastian. Tragedi ini menjadi peringatan keras bagi semua pihak: sampai kapan nyawa manusia menjadi harga yang harus dibayar demi segenggam emas?

Editor  : Rahmad Maulana

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *