Laut Nelayan Diserbu Ponton Timah, Pekerja Diduga Todongkan Pistol Saat Warga Protes

Bangka Barat, kpksigap.com – Ketegangan pecah di kawasan perairan Laut Enjel, Dusun Kemang Asam, Kelurahan Air Putih, Kecamatan Mentok, Kabupaten Bangka Barat, Kamis (4/6/2026) pagi. Sejumlah nelayan yang memprotes aktivitas tambang timah diduga ilegal di wilayah tangkap mereka mengaku mendapat intimidasi setelah seorang pekerja ponton diduga mengeluarkan senjata api jenis pistol.

Insiden yang terjadi sekitar pukul 07.00 WIB itu bermula ketika para nelayan mendatangi lokasi operasi Ponton Isap Produksi (PIP) yang sedang bekerja di kawasan laut yang selama ini menjadi sumber mata pencaharian masyarakat pesisir.

Kehadiran ponton-ponton tersebut memicu kemarahan nelayan. Mereka menilai aktivitas penambangan telah mengganggu ruang tangkap ikan dan mengancam keberlangsungan ekonomi keluarga nelayan yang menggantungkan hidup dari hasil laut.

Menurut keterangan sejumlah nelayan, upaya mereka untuk meminta aktivitas tambang dihentikan justru berujung pada situasi yang menegangkan. Salah seorang pekerja ponton diduga mengeluarkan senjata api saat terjadi perdebatan di lokasi.
Merasa terancam, para nelayan memilih mundur dan segera melaporkan kejadian tersebut kepada pihak kepolisian.

“Laut ini tempat kami mencari makan. Kami datang bukan untuk membuat keributan, tetapi meminta aktivitas yang merugikan nelayan dihentikan. Saat ada yang diduga mengeluarkan pistol, kami langsung menghindar karena takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” ujar salah seorang nelayan.

Mendapat laporan masyarakat, aparat kepolisian bergerak cepat menuju lokasi bersama sejumlah nelayan. Namun ketika petugas tiba di perairan Laut Enjel, para pekerja ponton diduga telah melarikan diri.

Meski para pelaku tidak ditemukan di lokasi, aparat berhasil mengamankan dua unit Ponton Isap Produksi (PIP) yang ditinggalkan di area penambangan.

Peristiwa ini kembali membuka tabir persoalan lama yang terus menghantui kawasan pesisir Bangka Belitung, yakni maraknya aktivitas tambang timah yang diduga beroperasi tanpa mengindahkan kepentingan nelayan tradisional.

Bagi masyarakat pesisir, laut bukan sekadar hamparan air, melainkan sumber kehidupan. Karena itu, kehadiran ponton di wilayah tangkap nelayan kerap memicu konflik yang berulang dari tahun ke tahun.

Warga mendesak aparat penegak hukum untuk tidak berhenti pada pengamanan ponton semata. Mereka meminta dilakukan penyelidikan menyeluruh guna mengungkap pemilik ponton, pihak yang mengoperasikan tambang, serta dugaan penggunaan senjata api untuk mengintimidasi masyarakat.

Jika benar terdapat unsur ancaman menggunakan senjata api, maka kasus ini tidak hanya berkaitan dengan dugaan penambangan ilegal, tetapi juga menyangkut keamanan warga dan penegakan hukum di wilayah pesisir.

Hingga berita ini diturunkan, belum diperoleh keterangan resmi dari pihak yang mengoperasikan ponton maupun pihak koperasi yang disebut-sebut terkait aktivitas penambangan tersebut. Sementara itu, aparat kepolisian dikabarkan masih melakukan pendalaman dan penyelidikan lebih lanjut.

Peristiwa di Laut Enjel menjadi pengingat bahwa konflik antara aktivitas tambang dan hak hidup nelayan belum benar-benar berakhir. Di tengah kekayaan sumber daya alam yang melimpah, masyarakat berharap hukum hadir untuk melindungi mereka yang selama ini menggantungkan hidup dari laut, bukan membiarkan ruang tangkap nelayan terus tergerus oleh aktivitas yang dipersoalkan legalitasnya.

Penulis Hn Gea

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *