Blitar | Kpksigap.com – Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar terus memperkuat upaya pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayi melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang di dalamnya mencakup pemeriksaan triple eliminasi, yakni HIV, sifilis, dan hepatitis B bagi ibu hamil.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P3P) Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar, Drg Anggit Ditya Putranto mengatakan pemeriksaan tersebut merupakan bagian dari layanan Antenatal Care (ANC) untuk mendeteksi sedini mungkin kondisi kesehatan ibu hamil sehingga penanganan dapat dilakukan sebelum persalinan.
“Salah satunya pemeriksaan ibu hamil itu tes laboratorium, yaitu triple eliminasi meliputi HIV, sifilis, dan hepatitis. Kami fokus pada HIV. Kalau terdeteksi, ibu harus segera mengikuti treatment oleh tim medis di puskesmas atau rumah sakit, termasuk mendapatkan terapi ARV,” kata drg. Anggit, saat dikonfirmasi diruang kerjanya, Selasa,(21/7/2026)
Menurutnya, ibu hamil yang menjalani terapi akan dipantau melalui pemeriksaan viral load saat usia kehamilan memasuki 36 hingga 37 minggu. Pemeriksaan ini menjadi dasar bagi tenaga kesehatan untuk menentukan metode persalinan yang paling aman.
“Pada usia kehamilan 36 sampai 37 minggu dilakukan pemeriksaan viral load untuk mengetahui apakah virus sudah tidak terdeteksi atau masih ada. Hasil itu menjadi dasar perencanaan persalinan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, apabila hasil pemeriksaan menunjukkan viral load tidak terdeteksi (undetectable) dan tidak terdapat indikasi obstetri tertentu, ibu dapat menjalani persalinan normal sesuai rekomendasi dokter spesialis kandungan.
“Bila viral load tidak terdeteksi, tim medis rumah sakit akan memberikan rekomendasi kepada puskesmas atau fasilitas kesehatan tingkat pertama. Persalinan bisa dilakukan tanpa operasi sesar apabila memang tidak ada indikasi obstetri,” jelasnya.
Setelah bayi lahir, lanjut drg. Anggit, bayi juga akan memperoleh terapi pencegahan atau profilaksis guna meminimalkan risiko penularan HIV.
“Setelah bayi lahir, bayi juga mendapatkan treatment berupa profilaksis sebagai langkah pencegahan penularan HIV,” tuturnya.
Selain memperkuat layanan kesehatan, Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar juga terus mengedukasi masyarakat agar berani menolak seks bebas, menolak seks pranikah yang berisiko, menghindari perilaku seksual berisiko, serta berani jujur mengenai status kesehatannya agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.
Melalui deteksi dini, pengobatan yang teratur, serta pendampingan selama kehamilan hingga persalinan, pemerintah berharap penularan HIV dari ibu ke bayi dapat ditekan semaksimal mungkin sehingga target eliminasi HIV, sifilis, dan hepatitis B pada bayi baru lahir dapat tercapai.
Redaksi | Pramono




