Bersih Desa Tuliskriyo Meriahkan HUT ke-80 RI, Warga Gelar Jaranan hingga Wayangan Semalam Suntuk

Blitar | Kpksigap.com — Suasana Desa Tuliskriyo, Kecamatan Sanankulon, Kabupaten Blitar, Kamis (4/9/2025) malam tampak semarak. Warga setempat memperingati HUT ke-80 Republik Indonesia sekaligus melaksanakan tradisi tahunan berupa bersih desa dengan suguhan kesenian tradisional jaranan.

Kepala Desa Tuliskriyo, Mashuriono, mengatakan rangkaian kegiatan bersih desa sebenarnya sudah dimulai sejak 17 Agustus 2025 lalu. “Pada malam 17 Agustus kita adakan tirakatan, lalu malam 18 Agustus digelar pengajian dengan Dzikrul Ghofilin. Itu semua bagian dari rangkaian bersih desa,” jelasnya.

Puncak acara bersih desa tahun ini ditandai dengan pagelaran kesenian jaranan. Pertunjukan yang dilaksanakan di lapangan desa tersebut menampilkan grup jaranan dari Blitar. Warga pun berbondong-bondong hadir untuk menyaksikan kesenian yang menjadi bagian dari warisan budaya Jawa.

Tak berhenti di situ, besok rangkaian kegiatan masih berlanjut. Warga akan dihibur dengan pertunjukan wayang kulit semalam suntuk yang mendatangkan dalang lokal, Deni Sableng. “Kami mengundang para tokoh masyarakat, stakeholder desa, tokoh agama, hingga kader kesehatan untuk hadir,” tutur Mashuriono.

Menurutnya, pagelaran wayang bukan sekadar hiburan, melainkan sarana mempererat silaturahmi antarwarga. “Dengan wayangan, warga bisa saling sambung rasa. Ini menjadi momen kebersamaan, bukan hanya sekadar tontonan,” ujarnya.

Usai acara wayangan malam hari, keesokan paginya kegiatan dilanjutkan dengan ruwatan desa. Ruwatan dipercaya sebagai bentuk doa bersama agar masyarakat terhindar dari marabahaya. “Harapan kami dengan ruwatan ini, desa Tuliskriyo dijauhkan dari sengkolo atau musibah,” terang Kades.

Ia juga menyinggung kondisi bangsa yang belakangan ini diwarnai berbagai unjuk rasa. Mashuriono mengimbau warganya agar tetap menjaga situasi kondusif. “Kami berharap warga Tuliskriyo tidak ikut-ikutan dalam aksi unjuk rasa yang bisa mengganggu kamtibmas. Yang ada di desa kita adalah kegembiraan, persatuan, dan kebersamaan,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, ia juga menitipkan pesan agar masyarakat tetap mendukung pembangunan bangsa lewat langkah sederhana di lingkup desa. “Membangun bangsa dimulai dari desa. Jika desa kondusif dan guyub rukun, maka negara juga akan kuat,” ucapnya.

Mashuriono menyebutkan, tradisi bersih desa merupakan warisan leluhur yang terus dilestarikan dari generasi ke generasi. “Ini budaya adi luhung, budaya yang sudah ada sejak nenek moyang kita. Tradisi ini harus terus dijaga sebagai jati diri bangsa,” paparnya.

Selain menjadi bentuk rasa syukur, tradisi bersih desa juga dianggap sebagai media spiritual untuk membersihkan diri dari hal-hal negatif. “Dengan syukuran berupa jaranan dan wayangan ini, kami berharap Allah SWT meridhai dan melindungi desa kami,” ungkapnya.

Mashuriono menambahkan, pelaksanaan bersih desa akan selalu digelar setiap tahun, baik dalam skala besar maupun kecil di masing-masing dusun. “Ini bukan sekadar acara, tetapi doa bersama agar Tuliskriyo menjadi desa yang penuh berkah, baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur,” tandasnya.

Warga yang hadir pun tampak antusias mengikuti setiap rangkaian acara. Tradisi tahunan ini diharapkan tak hanya memperkuat ikatan sosial masyarakat, tetapi juga menjadi simbol rasa syukur atas kemerdekaan bangsa dan kelestarian budaya.

Redaksi | Pramono

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *