Maumere, Sikka- kpksigap.com
Tersiana Mala Dara, SST, sejak kecil tak pernah terbayang dalam pikirannya menjadi pekerja sosial untuk mengasuh para lansia di Panti Jompo. Tres demikian disapa mulanya bercita-cita menjadi guru atau pendeta. Namun jalan hidupnya berkata lain.
“Waktu itu mendaftar di SPG tetapi gagal karena persyaratan tinggi badan. Tinggi badannya 145 centimeter. Tidak memenuhi persyaratan, ” ungkap Tres Selasa ( 4/02/2025).
Akhirnya ibu kelahiran Mesara Kabupaten Sabu Raijua memutuskan masuk Sekolah Menengah Pekerja Sosial ( SMPS) Nusa Putra Kupang tahun 1990. Kemudian mengikuti Diklat Pekerja Sosial Masyarakat ( PSM) Satgassos.
Sejak Oktober 1995 ibu dari dua orang anak ini resmi bekerja di Panti Jompo Padu Wau Waepare Maumere hingga saat ini.
Rentang waktu 30 tahun Tres merangkai kisah kasih bersama para jompo di Panti Jompo yang selalu diwarnai suka dan duka.
Tantangan utamanya kata istri dari Christian Raga, SST, bagaimana menghadapi lansia yang pikun atau sering lupa, juga masalah pendengaran membutuhkan kesabaran.
“Sebagai pekerja sosial harus melayani mereka dengan sentuhan kasih dan kesabaran. Karena para lansia kembali menjadi anak kecil. Juga sebagai sahabat yang punya perhatian dengan kita. Kadang memperlakukan para pekerja sosial sebagai anak dan cucu mereka. Maka perhatian harus penuh kesabaran juga memberikan hiburan sekaligus memberi kesempatan untuk lansia berekspresi sesuai usia mereka, ” tandas Tres.
Sedangkan rutinitas di Panti sambung Tres bangun pagi pukul 05.00, setelah itu menyiapkan diri untuk berdoa pagi bersama pada pukul 06.00. Selanjutnya makan pagi pada pukul 07.00.
“Setelah bersihkan diri ikut kegiatan sesuai jadwal. Ada senam pagi, jalan sehat, terapi konseling, bimbingan sosial, bimbingan ketrampilan, bimbingan rohani, periksa kesehatan, “tambah Tres.
Makan siang dilaksanakan pada pukul 12.00, setelah itu istirahat siang. Pada pukul 15.00,doa kerahiman bersama. Makan malam bersama pukul 18.30 dan pada pukul 21.00 penghuni panti jompo sudah harus berada di tempat tidur masing- masing.
Dikatakan ada berbagai alasan para lansia memilih tinggal di Panti Jompo pada umumnya karena faktor ekonomi. Selain itu merasa tidak aman dengan menantu juga anak kandung. Ada juga karena kemauan sendiri.
“Saya masuk Panti jompo atas kemauan sendiri karena sudah tua dan tidak bisa urus diri sendiri lagi juga tidak bisa kerja, ” kata Oma Yasinta Parera.
Senang dan Puas
Kisah para lansia di Panti, mereka menemukan kebahagian nan sederhana tetapi penuh semangat ditengah keterbatasan karena usia yang telah lanjut. Seperti diakui Opa Yakobus Herman ( 74) penghuni Wisma Opa Olyander.
“Saya sangat senang karena makan dan minum di Panti teratur. Kegiatan sehari- hari sudah terjadwal dan selalu memperhatikan hidup doa. Selain itu puas dengan pelayanan para pekerja atau petugas di Panti karena mereka betul- betul melayani kami dengan hati yang ikhlas, ” ujar Opa Yakobus seraya mengatakan masuk Panti jompo atas kemauan sendiri dan tidak mau menyibukkan keluarga.
Senada dengan Opa Yakobus, Oma Dalima Moong ( 74) ketika ditanya tentang hidupnya di Panti Jompo dengan linangan air mata hanya mengatakan gaga golo ( baik sekali, Bahasa Sikka, red).
Oma asal Bola Wolonwalu menghuni Panti Jompo karena suaminya telah pergi abadi. Selain itu rumahnya roboh sehingga tidak ada tempat untuk berteduh.
“Saya berterimakasih kepada bapa dan ibu yang selalu melayani kami seperti orang tua mereka sendiri. Mari kita saling mendoakan, “kata Oma dulunya bekerja ikat tenun.
Kesaksian datang lagi dari Oma Magdalena Bedo Tapun ( 76). Menurut Bujangan ini hidup bersama di Panti Jompo sangat kental persaudaraan. Tidak membeda- bedakan Sara.
” Walau kami datang dari berbagai suku tetapi di Panti ini kami diperlakukan sebagai saudara atau orang tua sendiri, “ungkap Oma asal Watubuku Kecamatan Wulanggitang Flores Timur ini.
Itulah seberkas kisah Tersiana Mala Dara yang tahun depan akan purna tugas di Panti Jompo Padu Wau Waepare ini. Rentang waktu 30 tahun Tres merajut kasih bersama para lansia ini dengan hati yang tulus. Sejalan dengan motto pekerja sosial ” Engkau adalah Aku, Aku adalah Engkau”.
KPK SIGAP Sikka-Red- Yuven Fernandez




