9 Syawal 1446 H / 8 April 2025 M – Bulan Syawal menjadi momentum penuh makna bagi umat Islam di Indonesia. Khusus bagi kalangan santri, momen ini bukan hanya sebagai hari kemenangan pasca-Ramadhan, tetapi juga waktu istimewa untuk menjemput berkah melalui tradisi mulia: sowan.
Sowan atau silaturahim ke nDalem (kediaman kiai atau nyai) merupakan laku spiritual yang lekat dalam tradisi pesantren. Lebih dari sekadar bertamu, sowan adalah upaya batiniah untuk menghidupkan kembali ikatan guru dan murid, memperkuat sanad keilmuan, serta mencari keberkahan dari para sesepuh.
Pada Selasa, 8 April 2025 M bertepatan 9 Syawal 1446 H, sekelompok santri dan alumni IPNU-IPPNU bersama Sahabat Hadar—anggota DPRD Jombang dari Fraksi PPP—melaksanakan sowan ke kediaman Bu Nyai Hj. Munjidah Wahab, putri dari Pendiri Nahdlatul Ulama sekaligus Pahlawan Nasional KH. Wahab Hasbullah.
Kunjungan yang berlangsung hangat selama kurang lebih satu jam tersebut diwarnai diskusi santai namun berbobot. Para peserta sowan menyimak dengan takzim setiap petuah dan pandangan Bu Nyai Munjidah, yang selama ini dikenal sebagai sosok pemimpin perempuan yang tegas, berwawasan luas, dan penuh welas asih.
“Saya Alhamdulillah diberi kenikmatan oleh Allah SWT untuk berdiskusi langsung dengan Bu Nyai Munjidah. Banyak hal kami bahas bersama. Ruang yang saya masuki adalah ruang atsarussolihin—jejak orang-orang saleh yang memberi ketenangan batin,” ungkap salah satu peserta sowan.
Dalam pertemuan tersebut, Bu Nyai Munjidah juga menanggapi wacana publik terkait program sekolah rakyat yang tengah digulirkan di beberapa daerah. Menurutnya, program tersebut sebenarnya adalah program pasar rakyat yang dialihkan fungsi, dan penerapannya di Jombang dinilai tidak relevan.
“Selama saya menjabat sebagai Bupati, 99% masyarakat Jombang sudah lulus SMA, bahkan banyak yang melanjutkan ke perguruan tinggi. Maka, saya menilai Jombang tidak layak mengambil program itu. Kita harus fokus pada peningkatan kualitas pendidikan, bukan kembali ke belakang,” tegasnya.
Tradisi sowan di bulan Syawal seperti ini membuktikan bahwa budaya pesantren masih sangat relevan di tengah dinamika zaman. Ia menjadi ruang kontemplasi, penyambung rasa, dan forum pemikiran tentang masa depan umat, daerah, dan bangsa. Bagi para santri dan pemuda, momen ini adalah bagian dari perjalanan spiritual sekaligus penguatan identitas perjuangan.
Polres Bangka Ungkap Kasus Pencurian Rumah dan Bengkel di Mendo Barat Tiga Pelaku di Amankan KPKsigap.com-Bangka Satuan Reserse Kriminal, (Satreskrim) Polres Bangka, berhasil mengungkap kasus, […]
Airmadidi – Proyek pembangunan jalan pedestrian dalam kota Airmadidi yang menggunakan anggaran sebesar Rp 4.360.974.374 dari Dana Alokasi Umum (DAU) APBD-P Kabupaten Minahasa Utara (Minut) […]
KpkSigap.com,Gowa – Rektor UIN Alauddin Makassar, Prof. Hamdan Juhannis, mengambil tindakan tegas dengan memecat dua pegawai kampus yang terlibat dalam sindikat produksi dan peredaran uang […]