*Ketika Air Mengalirkan Harapan: Doa dan Seruan dari Mbaenuamuri*
_(Seruan Hati Petani_ )
Nagekeo – KPK-SIGAP.com — Di balik perbukitan Keo Tengah yang berselimut kabut pagi dan desir angin yang membawa harum tanah basah, ada sebuah desa yang bernama Mbaenuamuri. Di sana, harapan tak tumbuh dari janji, tapi dari tanah kering yang dirindukan air dan dari tangan-tangan petani yang tak pernah berhenti berdoa.
Pada tahun 2023, bantuan 30 kotak kawat bronjong dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Nagekeo tiba di desa itu. Tak banyak, namun cukup untuk menyalakan bara semangat. Dengan gotong royong sebagai modal, warga membangun sebuah bendungan mini di ujung saluran irigasi—bukan proyek megah, melainkan ikhtiar sederhana agar air sungai yang kecil bisa dialirkan ke lahan pertanian mereka yang lama tertidur.
Bukan ekskavator, bukan crane. Hanya tangan-tangan yang terbakar matahari dan kaki-kaki yang akrab dengan lumpur. Mereka menyatu dalam kerja sunyi, membendung ketidakpastian dengan harapan, mengikat batu demi batu dengan kawat dan keyakinan.
Dan harapan itu sempat menjadi nyata. Air mengalir perlahan, membasahi tanah yang gersang, memantulkan cahaya pagi di sela-sela padi muda yang baru tumbuh. Senyum petani merekah, cangkul kembali menari di ladang, dan desa itu kembali hidup.
Namun, musim tak selalu bersahabat. Hujan deras datang, sungai mengamuk, dan bendungan yang rapuh pun luluh. Dalam sekejap, air bukan lagi sahabat—ia menjadi arus yang menggulung kerja keras, menghanyutkan bendungan, dan membiarkan lahan kembali mengering seperti semula.
Kini, di tengah ladang yang kembali sunyi, petani hanya bisa menggenggam harapan. Cangkul menggantung di dinding, dan mata menatap kosong ke arah tanah yang tak lagi bisa diolah.
“Kami mohon, semoga pemerintah bisa bantu dengan bendungan yang lebih kuat, yang tak lagi roboh saat banjir datang,” ujar Rikardus Sambu, salah seorang anggota kelompok Tani ‘Aedape’ Desa Mbaenuamuri, dengan suara yang pelan namun penuh keteguhan, kepada KPK-SIGAP pada Sabtu, 25 Mei 2025.
Rikardus bukan sekadar bicara atas nama warga. Ia mewakili jeritan desa yang selama ini berdiri di antara kekurangan dan keuletan. Mbaenuamuri kini tak sekadar menunggu bantuan, tetapi menanti kebijakan—intervensi anggaran yang bisa menghadirkan solusi permanen, bukan tambalan darurat.
Dulu mereka menanam dengan bahagia, kini mereka hanya bisa menanam doa. Namun di desa kecil itu, doa bukanlah akhir. Ia adalah awal dari sebuah harapan yang masih bertahan, meski air telah berhenti mengalir.
Rokan Hulu,kpksigap.com – Panen hadiah Simpedes Periode 2 : september 2024 – Februari 2025 Bank BRI Branch Office Pasir Pengaraian di gelar di Hotel […]
Lampung Tengah,kpksigap.com. Dalam Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Perwakilan Provinsi Lampung Nomor :37B/LHP/XVIII.BLP/2024 Tanggal 2 Mei 2024, BPK menyimpulkan ada 17 Temuan […]
Kukar, kpksigap.com – Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) telah menerima hasil kegiatan pembangunan Desa Presisi/Kecamatan Data (DDP) Kabupaten Kukar yang diserahkan oleh Pj Gubernur Akmal Malik […]