KPK SIGAP INVESTIGASI JATIM BANYUWANGI
BANYUWANGI — Rapat koordinasi (Rakor) antara Komisi IV DPRD Banyuwangi dan PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Ketapang yang membahas solusi kemacetan lintasan penyeberangan Jawa–Bali sempat diwarnai ketegangan, Kamis (25/6/2026).
Anggota Komisi IV dari Fraksi Partai Gerindra, Suwito, melontarkan kritik keras mulai dari peremajaan armada kapal hingga kedisiplinan peserta rapat saat lagu kebangsaan Indonesia Raya dikumandangkan.
Rapat yang digelar di ruang pertemuan DPRD Banyuwangi ini awalnya ditujukan untuk memetakan akar masalah kemacetan kronis di Pelabuhan Ketapang. Namun, suasana memanas saat Suwito menyoroti kelayakan armada kapal yang beroperasi di selat Bali.
Desak Peremajaan Kapal: Dari 1.000 GT ke 2.500 GT
Dalam interupsinya, Suwito menilai bahwa sebagian kapal yang dikerahkan di lintas Ketapang–Gilimanuk sudah berumur dan tidak lagi relevan dengan volume kendaraan yang terus melonjak. Ia mendorong ASDP selaku operator untuk mengevaluasi keberadaan kapal berkapasitas kecil.
“Kapasitas kapal harus ditingkatkan agar mampu mengimbangi pertumbuhan kendaraan dan kebutuhan distribusi logistik. Jangan sampai persoalan kemacetan terus berulang karena keterbatasan daya angkut armada,” tegas Suwito di hadapan manajemen ASDP.
Suwito menyarankan agar kapal-kapal berukuran sekitar 1.000 Gross Tonnage (GT) secara bertahap digantikan oleh armada baru yang lebih modern dengan kapasitas minimal 2.500 GT. Menurutnya, modernisasi ukuran kapal adalah kunci utama mempercepat load factor dan mengurai antrean panjang di pelabuhan.
Kritik Pedas Soal Penghormatan Lagu Kebangsaan
Tidak hanya soal teknis operasional pelabuhan, tensi rapat semakin meninggi ketika Suwito menyinggung sikap sejumlah peserta rapat. Ia menyayangkan adanya pihak yang dinilai kurang khidmat saat lagu kebangsaan Indonesia Raya diputar secara terpusat pada pukul 10.00 WIB.
Dengan nada tinggi, politisi Gerindra tersebut mengingatkan bahwa penghormatan pada simbol negara adalah kewajiban moral yang mutlak, terlebih bagi institusi pelayan publik.
“Penghormatan terhadap lagu kebangsaan bukan sekadar formalitas, melainkan bagian dari sikap kebangsaan yang harus dijaga oleh seluruh elemen,” ujarnya, yang sempat membuat ruang rapat hening sejenak.
Komitmen Solusi Menyeluruh untuk Jalur Jawa–Bali
Meski sempat berjalan dinamis dan tegang, rapat koordinasi tetap menghasilkan sejumlah poin strategis demi kelancaran arus logistik dan penumpang antara Pulau Jawa dan Bali.
Selain usulan peremajaan kapal dari pihak legislatif, Komisi IV DPRD Banyuwangi bersama stakeholder terkait menyepakati beberapa langkah taktis, di antaranya:
Peningkatan Infrastruktur: Mendorong percepatan pembangunan dermaga baru.
Optimalisasi Teknis: Meningkatkan kapasitas dermaga Movable Bridge (MB) agar proses bongkar-muat lebih fleksibel.
Manajemen Lalu Lintas: Penguatan fungsi buffer zone (area penyangga) di luar pelabuhan guna mencegah penumpukan kendaraan di jalan protokol.
Sinergi Kelembagaan: Meningkatkan koordinasi antarkomponen seperti ASDP, BPTD, pihak kepolisian, dan otoritas terkait.
Pihak manajemen ASDP Cabang Ketapang menyambut baik masukan-masukan tersebut sebagai bahan evaluasi komprehensif. Pertemuan ini diharapkan menjadi titik balik perbaikan pelayanan di salah satu jalur penyeberangan paling sibuk di Indonesia tersebut. Sumber berita: (Red Kurnia)




