Curhat Sang Amplop, “Aku Cuma Ingin Dicintai, Kenapa Malah Dipulangkan?”
Oleh
Jasir, Wartawan KPK sigap
Namaku Amplop. Bukan Amplop Putih. Bukan pula Amplop Lebaran yang setiap Idulfitri membuat keponakan mendadak hormat kepada om-om kaya.
Aku hanyalah amplop biasa. Dilahirkan di sebuah toko alat tulis, bermimpi suatu hari akan mengantarkan surat cinta, ijazah kelulusan, atau minimal kuitansi fotokopi.
Takdir ternyata lebih kejam. Aku justru terjebak di dunia politik. Sejak kecil aku diajarkan filosofi sederhana: setiap amplop pasti punya tujuan. Ada yang membawa undangan nikahan. Ada yang membawa kartu ucapan. Ada yang membawa surat PHK yang membuat orang mendadak ingin jadi petani.
Tetapi aku…Aku tidak sempat mengetahui siapa diriku. Aku ditinggalkan. Lalu ditolak.
Bayangkan sakitnya. Biasanya manusia ditolak cinta. Ini aku, amplop, ditolak pejabat. Harga diriku langsung jatuh. Aku mendengar sendiri suara itu.
“Pak, amplopnya dikembalikan saja.”
Dikembalikan?
Dikembalikan?
Apa aku ini paket belanja online yang salah alamat?
Apa aku ini sandal hotel yang tanpa sengaja terbawa pulang?
Seumur-umur menjadi amplop, baru kali ini aku mengalami diskriminasi administratif. Lebih menyakitkan lagi, proses pemulanganku luar biasa megah. Ada surat tugas. Ada koordinasi dengan Kapolda. Ada perjalanan dinas. Ada dokumentasi. Ada tanda terima bermaterai.
Astaga…
Aku ini amplop atau kepala negara yang sedang melakukan kunjungan kenegaraan? Selama perjalanan itu aku banyak merenung. Mungkin benar kata filsuf. Hidup bukan soal ke mana kita pergi, tetapi kepada siapa kita diberikan.
Kalau aku diberikan kepada anak SD saat Lebaran, mungkin sekarang sudah dipeluk sambil dicium. Kalau aku diberikan kepada pengantin, mungkin aku disimpan dalam kotak kenangan.
Kalau aku menjadi surat penerimaan kerja, mungkin seseorang menangis bahagia.
Lah aku? Aku malah dikawal negara untuk pulang ke rumah. Sedih sekali nasibku. Aku mulai bertanya kepada semesta.
“Apakah salah menjadi amplop?” Semesta diam. Yang menjawab justru map tempatku bernaung.
“Tenang, wak. Yang bermasalah bukan kamu. Reputasi keluarga kita.” Aku terdiam. Benar juga. Di negeri ini, nama belakang kami sudah rusak.
Begitu orang mendengar kata “amplop”, mereka tidak lagi membayangkan surat cinta. Yang muncul justru musik latar film kriminal. Padahal tidak semua amplop bersalah. Ada amplop rapor. Ada amplop zakat. Ada amplop undangan. Ada amplop ucapan belasungkawa.
Tetapi gara-gara beberapa oknum amplop yang salah pergaulan, seluruh keturunan Amplopian menjadi korban stereotip nasional. Ini jelas tidak adil. Kalau ada tikus mencuri beras, masa semua hamster ditangkap?
Kalau ada nyamuk menggigit, masa kupu-kupu ikut disemprot? Kami para amplop juga punya hak asasi. Hak untuk dipercaya. Hak untuk dibuka dengan penuh harapan. Bukan langsung dicurigai seperti mantan yang tiba-tiba menghubungi tengah malam.
Lalu datanglah babak paling tragis. KPK melakukan OTT. Mendadak semua orang membicarakan aku. Aku viral. Padahal sebelumnya aku hanyalah amplop biasa yang ingin hidup tenang.
Aku pun kembali merenung. Kalau saja OTT itu tidak pernah terjadi, mungkin aku sudah pensiun dalam kesunyian. Tidak ada yang mengenalku. Tidak ada konferensi pers. Tidak ada cerita pengembalian. Tidak ada tanda terima bermaterai yang membuatku seperti benda pusaka kerajaan.
Ironis sekali. Aku menjadi amplop paling terkenal di Indonesia bukan karena isiku, melainkan karena nasibku.
Sejak hari itu aku memahami satu pelajaran filsafat yang sangat mahal. Manusia ternyata bukan hanya dinilai dari isi kepalanya. Amplop juga bukan hanya dinilai dari isinya. Kadang-kadang, sebelum dibuka, orang sudah membuat kesimpulan.
Begitulah hidup di republik yang terlalu lama bertengkar dengan korupsi. Kepercayaan mati lebih dulu dari rasa penasaran. Aku…Aku hanyalah amplop kecil bercita-cita menjadi pembawa kabar bahagia.
Tak kusangka, takdir justru mengangkatku menjadi tokoh utama drama politik nasional. Tolong, kalau suatu hari nanti kalian bertemu amplop di meja, jangan langsung memandangnya dengan tatapan penuh dosa. Siapa tahu… dia cuma ingin mengantar undangan pernikahan kedua.
Jasir KPK Sigap
