Sintang,kpksigap.com – Kalimantan barat Suasana subuh yang biasanya tenang di Kelurahan Kapuas Kanan Hulu, Kabupaten Sintang, mendadak berubah mencekam pada Senin, 4 Agustus 2025. Sekitar pukul 05.00 WIB, terjadi tanah longsor besar di sekitar hilir Jembatan Melawi, dengan kedalaman mencapai hampir 20 meter. Yang lebih mengkhawatirkan, jarak longsoran hanya sekitar 3 meter dari rumah-rumah penduduk.
Hampir saja kena rumah warga. Sekitar 3 meter lagi bisa habis semua,” ujar pak M sarjono Ketua RT 16 RW 5 Kelurahan Kapuas Kanan Hulu, saat ditemui di lokasi kejadian. Ia menambahkan bahwa kejadian tersebut merupakan yang paling parah dalam beberapa tahun terakhir.
Lokasi longsor tepat berada di sekitar dermaga tikungan Lapter, sebuah wilayah yang telah lama dikenal rawan pergeseran tanah, terutama saat musim hujan deras. Kali ini, ancaman tersebut menjadi nyata, dengan dampak yang cukup serius dan mengancam keselamatan warga.
Beberapa warga mengaku panik dan tidak bisa tidur tenang sejak kejadian. “Kalau malam ini hujan turun lagi, kami tidak tahu harus ke mana. Rumah kami sudah terlalu dekat dengan tebing yang longsor,” ujar seorang warga yang rumahnya hanya berjarak beberapa meter dari titik longsor.
Ironisnya, hingga berita ini diturunkan, belum ada tindakan nyata dari pihak pemerintah setempat. Warga berharap agar penanganan segera dilakukan, karena risiko longsor susulan bisa terjadi kapan saja, terutama jika curah hujan kembali tinggi dalam waktu dekat.
Ancaman Nyata di Balik Jembatan
Jembatan Lintas Melawi bukan sekadar jalur penghubung vital antarwilayah. Kini, jembatan tersebut menjadi saksi bisu dari pergerakan tanah yang semakin mengancam pemukiman dan keselamatan warga. Ini bukan sekadar retakan tanah biasa—tetapi alarm keras bagi semua pihak akan pentingnya kesiapsiagaan terhadap bencana.
Harapan Warga: Jangan Tunggu Korban
Warga RT 16 RW 5 kini hanya bisa berharap ada langkah cepat dan konkret dari pemerintah. Mereka menegaskan, jangan sampai tindakan hanya diambil setelah ada korban jiwa atau rumah yang hancur diterjang longsor berikutnya.
Kejadian ini menjadi pengingat pahit bahwa pembangunan infrastruktur tanpa perhatian terhadap lingkungan bisa menjadi bumerang. Sinergi antara pemerintah dan masyarakat sangat dibutuhkan agar peristiwa serupa tidak kembali terulang, dan keselamatan warga dapat terjamin.
Sumber : M. Sarjono
Editor : Andi




