Kekeringan, Bencana Rutin di Sumbar
Mufridawati, SP
Staf bag.dampak perubahan iklim, BPTPH Sumbar
Sumbar, KPK sigap.com- Sumatera Barat terletak di pesisir barat di bagian tengah pulau Sumatra yang terdiri dari dataran rendah di pantai barat dan dataran tinggi vulkanik yang dibentuk oleh Bukit Barisan. Provinsi ini memiliki daratan seluas 42.297,30 km² yang setara dengan 2,17% luas Indonesia. Dari luas tersebut, lebih dari 45,17% merupakan kawasan yang masih ditutupi hutan lindung. Garis pantai provinsi ini seluruhnya bersentuhan dengan Samudra Hindia sepanjang 2.420.357 km dengan luas perairan laut 186.580 km².[11] Kepulauan Mentawai yang terletak di Samudra Hindia termasuk dalam provinsi ini (BPS Sumbar, 2023)
Seperti daerah lainnya di Indonesia, iklim Sumatera Barat secara umum bersifat tropis dengan suhu udara yang cukup tinggi, yaitu antara 22,6 °C sampai 31,5 °C. Provinsi ini juga dilalui oleh Garis khatulistiwa, tepatnya di Bonjol, Pasaman. (BPS Sumbar, 2023).
Sumatera Barat merupakan daerah yang subur, hujan sepanjang tahun. sehingga pertanian merupakan sektor paling penting sejak dahulu.
Sumbar Adalah satu dari sekian banyak zamrud khatulistiwa Indonesia., memiliki sungai2 besar dan sedang dan kecil yang banyak memberikan manfaat dalam mengendalikan pertanian di Sumatera Barat.
Hasil pertaniannya melimpah terutama beras sehingga jadi daerah sumber beras provinsi tetangga seperti Riau. Ini berlangsung bertahun tahun sampai sekarang.
Salah satu factor pembatas peningkatan produksi beras di Sumatera Barat adalah bencana kekeringan pada tanaman padi.
Kekeringan sejak Mei s/d Agustus pada tanamanan padi yang terjadi di beberapa kabupaten kota yang berada di belakang jajaran bukit barisan di Sumatera Barat yang merupakan daerah bayangan hujan dan hampir terjadi setiap tahun. Kekeringan tahun ini boleh dikata kekeringan terpanjang waktunya dan dikabupaten limapuluh kota dan tanah datar sudah sampai pada tahap keringnya air tanah di persawahan dan sungai sehingga mitigasi dengan cara apapun sulit dilakukan.
Alhasil, tanaman padi terpapar kering dipersawahan, tidak ada penanganan.
Kabupaten kota yang merupakan daerah zom yang selalu terdampak kekeringan seperti kabupaten Solok, Sijunjung, Agam, Tanah Datar, Limapuluh Kota, Pasaman, Kota Solok, Payakumbuh dan Sawahlunto, Tanaman padi adalah yang paling rentan dan sering terkena. Seperti tahun 2025, terjadi lebih dari 1000 ha tanaman padi terdampak kekeringan di daerah ini sejak Mei sd Agustus. Kekeringan terluas terjadi di kabupaten Limapuluh Kota, menyusul Tanah Datar.Berikut datanya kabupaten Limapuluh Kota (377 ha), Tanah Datar (288 ha) , Agam (217 ha), Solok (162 ha), Kota Sawahlunto (138 ha) dan sisanya di kabupaten/kota lainnya dengan kriteria ringan sampai puso (BPTPH, 2025).
Penanganan atau mitigasi terhadap kekeringan ini sudah banyak dilakukan baik dari APBN maupun APBD provinsi dan kabupaten kota yang bersangkutan. Beberapa aksi seperti pengadaan mesin pompa air, pemasangan biopori, pembuatan bak-bak penampungan air, pembuatan sumur bor, menanam tanaman yang tidak banyak membutuhkan air dalam menyelesaikan siklus pertumbuhannya seperti tanaman jagung, kedele, kacang tanah dan ubi jalar dan bawang merah, sampai memberikan sosialisasi kepada petani tentang ilmu terkait iklim, kekeringan dan banjir dan lain-lain melalui kegiatan Sekolah Lapangan Iklim.yang sudah berlangsung sejak tahun 2007. Bentuk mitigasi yang dilakukan ini tidak merata dilakukan di semua lokasi kekeringan dan berpindah ke tempat lainnya pada tahun berikutnya.
Dari pengamatan selama 20 tahun ini dapat diambil benang merah bahwa beberapa penanganan atau mitigasi kekeringan yang pernah dilakukan seperti 1. pembuatan bak-bak penampungan air, 2. menanam tanaman yang tidak banyak membutuhkan air dan 3. sosialisasi tentang dampak perubahan iklim kepada masyarakat terutama petani dapat dipertahankan. Program 2. Tidak membutuhkan biaya yang besar, petani tetap melakukan budidaya tanam hanya mengganti jenis tanaman yang biasa ditanam (Padi) dengan jenis palawija dan sayuran. Program 2 memberikan hasil yang nyata menguntungkan petani. Petani tetap panen. Pundi2 keuangan keluarga tetap terpenuhi.
Adapun no.1 dan 3 membutuhkan biaya yang tidak kecil terutama no 1. Membuat bak-bak penampungan air di daerah -daerah yang selalu terdampak kekeringan sudah jadi kebutuhan. Bak – bak ini akan terisi dengan air hujan dan atau sumber lainnya selama musim hujan dan digunakan saat musim kering. Jika bak yang dibangun besar dan dapat memenuhi kebutuhan air tanaman disekitarnya, insya Allah tidak akan terdengan lagi berita kekeringan melanda tanaman padi di Sumatera Barat. Begitu juga dengan program 3. Memberikan sosialisasi tentang dampak perubahan iklim pada masyarakat terutama petani, para ibu dan generasi muda.
Terbatasnya anggaran menjadi factor pembatas penanganan dampak perubahan iklim ini (kekeringan). Alhasil bencana kekeringan yang selalu datang tiap tahun tidak dapat dikendalikan. Penanganan yang dilakukan seolah tidak membawa hasil. Laporan tentang tanaman padi yang sudah puso selalu mengisi data BPTPH Sumbar.
Terbatasnya anggaran di dinas-dinas pemerintah mustahil bisa dengan sukses melaksanakan program ini. Dana pokok pikiran (pokir) anggota dewan perwakilan rakyat dan dana desa /nagari bisa kita manfaatkan. Sudah saatnya dana masyarakat kembali lebih banyak kepada masyarakat. ***
Editor mursyidi




