Jembatan Ambruk, Enam Desa di Butuh Terputus: Warga Dipaksa Memutar, Aktivitas Lumpuh

 

Purworejo — KPKsigap.com, Ambruknya jembatan gantung di Kecamatan Butuh menjadi pukulan telak bagi ribuan warga. Akses utama yang menghubungkan enam desa—Lubanglor, Tegalgondo, Polomarto, Lubangindangan, Lubangsampang, hingga Lubangkidul—kini terputus total, melumpuhkan mobilitas dan aktivitas harian masyarakat.

Tak hanya ekonomi dan pertanian yang terdampak, akses pendidikan pun ikut terganggu. Pelajar yang selama ini bergantung pada jembatan tersebut kini harus menghadapi perjalanan lebih panjang dan melelahkan.

“Warga terpaksa memutar sejauh 5 sampai 6 kilometer. Ini sangat memberatkan, baik waktu maupun biaya,” ujar Sukono, warga Desa Lubanglor.

Momen ambruknya jembatan bahkan nyaris berujung tragedi. Saat kejadian, sejumlah pelajar madrasah ibtidaiyah tengah melintas. Sebagian sudah berada di tengah jembatan ketika struktur tiba-tiba runtuh, membuat mereka terpisah di dua sisi sungai.

“Anak-anak sempat terjebak, sebagian di timur dan sebagian di barat. Yang tidak bisa melanjutkan harus memutar lewat jalur lain,” ungkap Ahmad Khusnan, Kepala Dusun sekaligus Ketua Kelompok Tani setempat.

Meski tidak menimbulkan korban jiwa, peristiwa ini menjadi alarm keras terkait keselamatan infrastruktur yang digunakan setiap hari oleh warga. Jembatan tersebut selama ini bukan sekadar penghubung, melainkan urat nadi distribusi hasil pertanian dan penggerak ekonomi desa.

Kini, setelah ambruk, roda kehidupan warga ikut tersendat.

Desakan pun menguat. Warga meminta pemerintah segera bertindak cepat dan konkret. Program pembangunan seperti “Jembatan Merah Putih” diharapkan tidak hanya menjadi wacana, tetapi benar-benar menjawab kebutuhan riil masyarakat.

“Kalau memang ada program itu, jembatan ini harus jadi prioritas. Ini kebutuhan mendesak,” tegas Ahmad Khusnan.

Senada, Kepala Desa Lubanglor, Slamet Iskandar, menekankan pentingnya langkah nyata, bukan sekadar rencana di atas kertas. “Dampaknya sudah jelas dirasakan masyarakat. Harus ada percepatan penanganan,” ujarnya.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi terkait waktu maupun skema perbaikan. Warga hanya bisa berharap pemerintah segera turun tangan, agar akses yang menjadi penopang hidup mereka kembali pulih.

Peristiwa ini menjadi pengingat keras: di balik pembangunan, keselamatan dan keberlanjutan infrastruktur desa tak boleh diabaikan.

Reporter Edvin

Editor Mursyidi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *