KPK sigap, com Kupang, 26/4/2026
Defisit 15 Truk, TPA Alak Antre 3 Jam, Denda Rp500 Ribu Mandul. Pengamat: “Rumus Kota Bersih = Armada + Denda Jalan + Warga x Aturan Tegas.
Di tengah euforia HUT ke-30 Kota Kupang, pekerjaan rumah lama masih mencoreng wajah kota: sampah berserakan dan semak belukar menguasai trotoar. Seorang tokoh senior di Kota Kupang, yang meminta namanya tidak dipublikasikan, menegaskan bahwa persoalan ini bukan soal “orang Kupang jorok”, melainkan belum ditemukannya sistem yang tepat dan efektif yang dibiarkan menahun.
*Defisit Armada, TPA Overload, Denda Mandul*
Data yang dihimpun media ini menunjukkan Kota Kupang dengan ±450 ribu jiwa hanya dilayani ±30 unit truk sampah. Padahal standar ideal 1 truk per 10 ribu warga, artinya Kupang defisit 15 unit. Akibatnya, jadwal angkut molor 3–4 hari dan TPS liar menjamur.
Kontur berbukit dan angin tenggara kencang membuat sampah dari TPS terbuka beterbangan ke jalan. Musim hujan, sampah menyumbat drainase dan memicu banjir.
Dari APBD 2024, Dinas Lingkungan Hidup hanya mendapat ±Rp45 miliar. 60% habis untuk gaji dan BBM. Sisa operasional lapangan cuma ±Rp5 miliar setahun, padahal sekali perbaikan trotoar butuh Rp2 miliar.
“Perda denda Rp500 ribu bagi pembuang sampah sembarangan ada, tapi penindakannya belum maksimal di lapangan. Warga masih buang sampah di sembarang tempat, termasuk di pinggir jalan, pinggir kali, dan pesisir laut karena tidak ada yang menangkap,” kata sumber di DLH yang enggan disebut nama.
Puncaknya di TPA Alak. Beroperasi 20 tahun tanpa sanitary landfill, truk harus antre 3 jam. Sopir memilih buang sampah di jalan demi mengejar 3 ritase per hari.
*Trotoar Masih Ditumbuhi Semak karena Desain Belum Tepat*
Iklim Kupang hujan 3 bulan, kemarau 9 bulan membuat rumput tumbuh 1 meter lalu mengering jadi ilalang. Desain trotoar memperparah: nat keramik renggang dan tanah terbuka lebar. “Rumput seperti sengaja dikasih tempat tumbuh,” ujar pengamat tata kota.
Kewenangan tumpang tindih. PUPR menyebut itu ranah DLH, DLH menyebut hanya angkut sampah dengan alasan tak ada anggaran. Tak ada yang “punya” trotoar. Anggaran babat rumput pun hanya cukup 2 kali setahun: jelang 17 Agustus dan Natal.
*“Perang Sampah” 100 Hari: Tak Perlu Beli Truk*
Solusi jangka pendek 3–6 bulan tak butuh belanja modal besar. Pertama, tambah ritase bukan truk: terapkan 2 shift sopir pagi-malam. Angkutan naik 2 kali lipat.
Kedua, bentuk 1.000 Bank Sampah RT dengan insentif Rp500/kg plastik. Surabaya sukses pangkas 30% sampah ke TPA dengan cara ini. Ketiga, pasang CCTV di 20 titik rawan dan viralkan pelanggar kena denda Rp500 ribu. “Efek malu lebih kuat dari denda,” kata sumber. Keempat, umumkan jadwal angkut fix per kelurahan plus WA hotline pengaduan.
*Ubah Sistem: Swastanisasi & Adopsi Trotoar*
Untuk 1–2 tahun, swastanisasi angkut per zona jadi opsi. Swasta dibayar per ton sampah yang masuk TPA. Buang di jalan = tidak dibayar. Makassar bukti skema ini bikin jalanan bersih.
Bangun TPS 3R di tiap kelurahan untuk pilah organik jadi kompos. Beban TPA Alak bisa turun 70%. TPA Alak wajib dibenahi jadi sanitary landfill agar antrean truk dari 3 jam turun 15 menit.
Untuk semak, terapkan “Adopsi Trotoar”: ruko/minimarket wajib rawat 10 meter trotoar depan. Tak mau, izin usaha ditahan. Bandung dan Solo sudah buktikan. Saat rehab jalan, tutup semua tanah terbuka dengan paving rapat. Bentuk “Pasukan Kuning” 50 orang babat 5 km trotoar tiap hari. Gaji UMR total Rp2,3 miliar/tahun, lebih murah dari bangun 1 trotoar baru.
*Kunci: Anggaran 4% dan Penegakan Aturan*
Semua solusi mentok jika anggaran kebersihan tetap <1% APBD. Kota bersih seperti Surabaya alokasikan 4% APBD untuk DLH.
“Pasang 5 CCTV, denda 10 orang, viralkan. Minggu depan Kupang bisa 50% lebih bersih. Tetapi itu tak jalan kalau tidak disertai blusukan jam 05.00 ke TPS oleh pejabat terkait,” tegas sumber.
Rumusnya: Kota bersih = [Armada cukup + Denda jalan + Warga dilibatkan] x Penegakan aturan yang tegas.
Kupang pernah bisa. Dulu Jalan El Tari kumuh, kini jadi taman kota. Lomba kebersihan insidentil hanya buang-buang uang karena kota bersih sesaat.
*30 tahun otonom, kado terbaik untuk Kupang adalah sistem kebersihan yang berjalan, bukan seremoni.*
Reporter Yohanes Tafaib
Editor Mursyidi




