Jatim Banyuwangi, kpksigap.com,-
senin 9 Desember 2024
Satu lagi event dalam rangkaian Banyuwangi Festival (B-Fest) 2024 digelar di kabupaten the Sunrise of Java.
Pada Sabtu malam (7/12), ribuan warga dan wisatawan dihibur Festival Kuwung. Ajang yang digelar di Kecamatan Genteng ini menampilkan beragam tradisi seni dan budaya yang ada di Banyuwangi.
Panggung utama festival yang berlokasi di kawasan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Maron, Genteng, dimeriahkan dengan pertunjukan seni budaya yang memukau, seperti tari gandrung, kuntulan, jaranan buto, jakripah, barong, dan sebagainya.Iringan gamelan dan angklung Banyuwangian yang dimainkan secara langsung menambah semarak suasana.
Tidak hanya di panggung utama, musik yang dibawakan secara live itu juga turut berparade mengiringi langkah ribuan penampil. Parade mobil hias dengan miniatur budaya daerah juga tak kalah menarik perhatian.
Bupati Ipuk Fiestiandani mengatakan, kuwung bermakna pelangi yang menggambarkan warna-warni tradisi dan budaya Banyuwangi.Semua ini menghasilkan harmoni yang menjadi modal sosial membangun Banyuwangi,” ujarnya saat membuka acara.
Tahun ini Festival Kuwung mengusung tema ”Peningset Cinde Sutro” yang bermakna keberagaman suku, agama, dan ras di Banyuwangi terikat menjadi satu. Pada Festival Kuwung tahun ini, keberagaman tradisi Banyuwangi ditampilkan dalam lima distrik.
Distrik Banyuwangi dan kecamatan sekitarnya menampilkan tradisi ”Jamasan”, prosesi memandikan pusaka peninggalan Buyut Cungking Wongso Karyo, berupa Tombak Gagak Rimang.Distrik Blambangan menampilkan tradisi ”Baritan”, yakni upacara selamatan di sekitar mata air sebagai wujud syukur dan permohonan hasil panen yang melimpah.
Selanjutnya, Distrik Bangorejo menghadirkan tradisi ”Pedut Tlatah Purwo”, yakni doa dan ritual sesajen di Alas Purwo.Sedangkan Distrik Rogojampi menampilkan tradisi ”Sangyang Tuwuh”, ritual masyarakat Aliyan dengan tembang-tembang yang berisi harapan kebaikan.
Defile ditutup oleh Distrik Genteng dengan tradisi ”Kawin Tebu”, yaitu prosesi perkawinan dua batang tebu terbaik yang diibaratkan sebagai mempelai.
”Semangat merawat keberagaman inilah yang menjadi spirit Banyuwangi Festival untuk terus digelar setiap tahunnya dengan melibatkan banyak elemen masyarakat mulai dari anak-anak hingga para sesepuh,” pungkas Ipuk.
(KPKsigap – RED – Pranko)




