KPK SIGAP INVESTIGASI JATIM BANYUWANGI
BANYUWANGI — Status Gunung Raung yang saat ini masih bertahan pada Level II (Waspada) justru menjadi momentum berharga bagi dunia pendidikan. Sebanyak puluhan mahasiswa dari Universitas Udayana (Unud) Bali memanfaatkan momen ini untuk melakukan kunjungan edukasi langsung ke Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) Raung guna mempelajari sistem pemantauan aktivitas vulkanik.
Dalam kunjungan tersebut, para mahasiswa yang mengambil Program Studi Fisika dengan konsentrasi Ilmu Bumi didampingi langsung oleh petugas pengamat setempat. Mereka diberikan kesempatan langka untuk melihat dan membedah cara kerja berbagai instrumen pemantauan, seperti peralatan seismik dan Global Positioning System (GPS), yang selama ini menjadi sumber data utama dalam mitigasi bencana Gunung Raung.
Ketua PPGA Raung, Agung Tri Subekti, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan jembatan penting untuk menyelaraskan teori akademis dengan realitas di lapangan.
“Mereka adalah mahasiswa Universitas Udayana jurusan Fisika dengan konsentrasi Ilmu Bumi. Tujuan kedatangannya untuk mempelajari secara langsung bagaimana sistem pemantauan gunung api bekerja, khususnya peralatan seismik dan GPS yang digunakan untuk memonitor aktivitas Gunung Raung,” ujar Agung saat dikonfirmasi pada Sabtu (20/06/2026).
Menurut Agung, pembelajaran berbasis lapangan semacam ini memberikan kedalaman pemahaman yang tidak bisa digantikan oleh ruang kelas. Mahasiswa dapat menyaksikan alur kerja data vulkanolog secara utuh, mulai dari hulu hingga hilir.
“Kalau di kampus mereka banyak mempelajari teori. Nah, di sini mereka bisa melihat langsung alatnya, bagaimana sensor bekerja, bagaimana data direkam dan diteruskan ke pusat pemantauan. Ini menjadi pengalaman yang sangat berbeda dibandingkan hanya belajar di ruang kelas,” jelasnya menambahkan.
Simulasi Sensor Seismik
Tidak hanya melihat, para mahasiswa juga diajak berinteraksi langsung melalui simulasi sederhana untuk menguji sensitivitas sensor seismik yang tertanam di area pos pengamatan. Mereka diminta memberikan getaran mekanis pada permukaan tanah guna melihat bagaimana respons alat pemantau tersebut secara real-time.
Aktivitas ini sempat menarik perhatian karena para mahasiswa tampak menghentakkan kaki secara bersamaan di sekitar area sensor. Agung meluruskan bahwa tindakan tersebut murni bagian dari praktik edukasi kedaruratan dan sains.
“Yang terlihat menghentak-hentakkan tanah itu sebenarnya bagian dari simulasi pengujian sensor seismik. Mereka ingin mengetahui bagaimana getaran kecil yang terjadi di permukaan dapat direkam oleh alat dan ditampilkan dalam bentuk grafik seismogram,” terang Agung.
Melalui kunjungan edukasi ini, diharapkan para calon ilmuwan bumi ini tidak hanya membawa pulang pelengkap nilai kuliah, tetapi juga kesadaran mendalam mengenai pentingnya teknologi mitigasi bencana demi keselamatan masyarakat di lingkar gunung api.
Pembatasan aktivitas di radius aman Gunung Raung saat ini pun disikapi secara positif sebagai laboratorium alam yang hidup bagi para mahasiswa. Sumber berita: (Red Kurnia)



