LANDAK,kpksigap.com – Harapan warga Desa Sebatih, Kecamatan Sengah Temila, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, untuk menikmati air bersih dari program Pamsimas 2024 pupus sudah. Proyek bernilai hampir Rp1,96 miliar itu kini terbengkalai, belum difungsikan, dan belum diserahterimakan ke desa. Warga yang sejak awal menaruh harapan besar kini hanya bisa gigit jari.
Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) ini sejatinya digulirkan pemerintah untuk menyediakan akses air bersih dan sanitasi bagi masyarakat desa. Namun kenyataannya, proyek tersebut tak memberi manfaat sedikit pun. Bangunan berdiri kokoh, tetapi air tidak pernah mengalir ke rumah warga sejak proyek ini selesai dikerjakan.
Sejumlah warga menyampaikan kekecewaannya. Mereka menuturkan bahwa sejak awal pembangunan hingga sekarang, air Pamsimas sama sekali belum pernah digunakan. Padahal, keberadaan air bersih sangat dibutuhkan, terutama saat musim kemarau. “Air dari Pamsimas itu tak pernah kami nikmati. Dari awal dibangun sampai sekarang tidak berfungsi sama sekali,” ujar salah satu warga Dusun Tolong.
Proyek Pamsimas Desa Sebatih ini dikerjakan dengan nilai kontrak Rp1.964.821.000. Sumber dananya berasal dari DAK 2024 melalui Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang dan Perumahan Rakyat Kabupaten Landak. Proyek dengan nomor kontrak 600.1.16/16/SPK/Fisik/DPUPRPERA-CK/2024 ini dikerjakan selama 150 hari kalender oleh CV. GHEA INGE dengan konsultan supervisi CV. DAFFANDRA POROSTUDIO. Sayangnya, hingga saat ini proyek tersebut belum juga diserahterimakan.
Kepala Desa Sebatih, Patrik Hariyadi, S.Pd, menyampaikan bahwa masyarakat di Dusun Tolong, Dusun Marimpakuk, dan Dusun Panangom sangat kecewa terhadap proyek ini. “Anggaran hampir dua miliar, tapi air tidak ngalir dan tidak bisa digunakan. Proyeknya terkesan asal-asalan dan tidak ada tanggung jawab dari pihak kontraktor,” tegasnya. Ia juga menambahkan, masa pemeliharaan selama 120 hari kerja sudah berjalan, namun pihak kontraktor tidak pernah datang.
Warga menilai keberadaan proyek ini seharusnya menjadi solusi di tengah musim kemarau seperti sekarang. Air bersih merupakan kebutuhan dasar, bukan kemewahan. Namun yang terjadi, bangunan Pamsimas ini hanya menjadi pajangan tanpa manfaat. Padahal, dengan dana sebesar itu, masyarakat seharusnya sudah dapat menikmati fasilitas air bersih yang memadai.
Masyarakat berharap pemerintah Kabupaten Landak dan lembaga terkait segera turun tangan. Mereka meminta ada audit menyeluruh terhadap pelaksanaan proyek ini serta sanksi tegas kepada pihak yang lalai dalam menjalankan tanggung jawabnya. Bagi warga, air bersih adalah kebutuhan mendesak yang tidak bisa ditunda.
Kasus ini menjadi potret buram pembangunan infrastruktur air bersih di daerah. Program yang seharusnya memberikan manfaat besar justru menjadi beban dan kekecewaan bagi masyarakat. Aparat penegak hukum diharapkan segera bertindak agar kejadian serupa tidak terus berulang, serta memastikan setiap rupiah uang negara benar-benar memberi manfaat untuk rakyat. RAHMAD MAULANA




