KPK SIGAP INVESTIGASI JATIM BANYUWANGI
BANYUWANGI — Ratusan peserta yang terdiri dari pengurus partai, santri, hingga masyarakat umum menghadiri peringatan Haul Bung Karno yang digelar di Pondok Pesantren Mabadiul Ihsan, Desa Karangdoro, Kecamatan Tegalsari, Banyuwangi, pada Sabtu (20/06/2026). Kegiatan yang dimulai sejak pukul 13.00 WIB ini menjadi momentum memperkuat sinergi antara kaum nasionalis dan religius.
Sejumlah tokoh penting tampak hadir di lokasi acara. Di antaranya adalah Ketua DPP PDI Perjuangan H. Abdullah Azwar Anas, Pengurus DPD PDI Perjuangan Jawa Timur Hj. Ipuk Fiestiandani, serta Ketua DPRD Banyuwangi I Made Cahyana Negara bersama jajaran anggota Fraksi PDI Perjuangan.
Selain itu, hadir pula Ketua DPC PDI Perjuangan Banyuwangi Ana Aniati beserta jajaran pengurus DPC, Pengurus Anak Cabang (PAC), hingga pengurus tingkat ranting.
Meluruskan Sejarah dan Mengikis De-Sukarnoisasi
Sebelum memasuki inti acara, rangkaian kegiatan diawali dengan aksi sosial berupa penyerahan santunan kepada anak-anak yatim piatu. Setelah itu, para peserta mengikuti prosesi utama haul di dalam lingkungan pondok pesantren dengan khidmat.
Dalam sambutannya, Ketua DPP PDI Perjuangan yang juga mantan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB), H. Abdullah Azwar Anas, menyoroti pentingnya meluruskan catatan sejarah terkait kedekatan Presiden pertama RI, Sukarno, dengan para tokoh agama. Ia juga menyentuh isu de-Sukarnoisasi yang sempat masif dilakukan pada masa pemerintahan Orde Baru.
“Bagaimana sebenarnya hubungan Sukarno dengan para tokoh agama dan bagaimana de-Sukarnoisasi di zaman Orde Baru, menyembunyikan sosok Sukarno yang religius. Fakta sejarah ini yang harus dibuka agar generasi muda tahu sejarah sebenarnya,” ujar Azwar Anas di hadapan para hadirin.
Sinergi Nasionalis dan Religius
Pada kesempatan yang sama, Ketua Panitia Haul Bung Karno, Fajar Isnaeni, menjelaskan bahwa pemilihan pondok pesantren sebagai lokasi pelaksanaan haul membawa pesan mendalam. Menurutnya, acara ini merupakan wujud nyata dari nilai kegotongroyongan dan persatuan bangsa.
“Haul Bung Karno kita adakan di pesantren adalah ‘kirim doa’ untuk Bapak Bangsa Bung Karno, dan doa agar Indonesia wabil khusus Banyuwangi menjadi baldatun toyyibatun warabbun ghafur,” kata Fajar.
Fajar menambahkan, kehadiran elemen partai politik di tengah lingkungan pesantren mencerminkan hubungan yang tidak dapat dipisahkan dalam membangun Indonesia. “Inilah sinergi yang tidak bisa dipisahkan antara nasionalis dan religius. Simbol kegotongroyongan Indonesia,” tegasnya.
Acara peringatan tersebut kemudian dilanjutkan dengan pembacaan surat Yasin dan tahlil bersama secara khusyuk oleh seluruh peserta yang hadir, sebelum akhirnya resmi ditutup dengan doa bersama untuk keselamatan bangsa. Sumber berita: (Red Kurnia)




