Larantuka, Flotim- kpksigap.com
Dampak negatif dari erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki Flores Timur, Nusa Tenggara Timur tidak hanya mencakup dampak fisik saja namun juga dampak psikologis dan sosial atau yang biasa disebut Psikososial yang dialami oleh semua usia baik anak maupun orang dewasa.
Anak termasuk salah satu kelompok yang rentan dalam situasi bencana untuk meningkatkan resiliensi anak dan mengurangi resiko mengalami kesehatan mental yang lebih buruk maka telah dilakukan dukungan psikososial awal kepada anak untuk melindungi dan meningkatkan kesejahteraan psikososial anak di tengah situasi bencana alam serta merujuk pada layanan lebih lanjut yang dibutuhkan anak.
Demi psikologis anak tetap terjaga pada saat berakhirnya tanggap darurat, dukungan psikososial sebaiknya tetap dilakukan dan yang menjadi fasilitator adalah relawan dari desa-desa terdampak.
Untuk itu pekerja kemanusiaan/ relawan yang melakukan dukungan psikososial harus memiliki kapasitas tentang perlindungan anak, safe guarding dan dukungan psikososial awal agar anak merasa aman dan nyaman mengikuti kegiatan di Ruang Ramah Anak serta tidak membuat kondisi anak menjadi lebih buruk.
Yayasan FREN dan ChildFund berkolaborasi dengan Dinas P2KBP3A, PKBI, Universitas Nusa Nipa ( Unipa) Maumere dan UNICEF menyelenggarakan Pelatihan Perlindungan Anak dan Dukungan Psikososial bagi Relawan dari 11 desa dan PLKB di Kecamatan Wulanggitang dan Ilebura Kabupaten Flores Timur tanggal 18-19 Desember 2024 dan diikuti oleh 29 peserta.
Project Coordinator Yayasan FREN Maria M. Pelapadi mengungkapkan pelatihan ini bertujuan meningkatkan pemahaman peserta tentang dukungan psikososial bagi anak dan penerapannya dalam kegiatan kemanusiaan. Selain itu lanjut Lentje akrab disapa, meningkatkan pemahaman peserta tentang perlindungan anak dalam situasi bencana dan diterapkan dalam berkegiatan dengan anak.
Lentje lebih lanjut menerangkan materi hari pertama tentang perlindungan anak. Peserta dibuka wawasan dasar tentang Perlindungan Anak menurut Undang- Undang Perlindungan nomor 35 tahun 2014 oleh Dinas P2KBP3A Kabupaten Flores Timur.
Selain itu tambahnya lagi, peserta mendapatkan penguatan tentang kode etik seperti safe guarding oleh FREN dan PSEA oleh UNICEF serta prinsip- prinsip dasar kemanusiaan.
Hari ke dua kata Lentje lagi,materi yang disampaikan berkaitan dengan dukungan psikososial seperti permasalahan psikososial Bencana / Kekerasan dan kegiatan terstruktur psikososial dari Universitas Nusa Nipa ( Unipa) Maumere. Serta dukungan psikososial Korban Bencana Alam / Kekerasan dari PKBI dan manajemen kasus dan rujukan dari UNICEF.
Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan Dinas P2KBP3A Joria Parmin, SST, M. Keb dalam pemaparannya mengatakan berdasarkan data dan informasi Dinas P2KBP3A Kabupaten Flores Timur bahwa pada tahun 2024 ( Januari- November) terdapat 87 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak saat ini Kabupaten Flores Timur “Gawat Darurat Kekerasan Seksual”.
“Selain melakukan dukungan psikososial kepada anak-anak penyintas pasca tanggap darurat para relawan juga diharapkan mengedukasi kepada masyarakat tentang perlindungan anak, melaporkan jika menemukan kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan menggunakan mekanisme rujukan yang ada dan melakukan dukungan psikososial awal bagi korban kekerasan anak maupun perempuan. Mereka adalah aset bagi desanya maupun bagi Dinas P2KBP3A, ” ungkap Joria.
Ketua Yayasan FREN Bona Kowan Kornelis dalam sambutannya berharap para relawan mendapat bekal pengetahuan dan keterampilan untuk melakukan dukungan psikososial pada anak ketika dihadapkan dengan bencana. Pelatihan ini dibuka Kadis P2KBP3A Kabupaten Flores Timur Anselmus Yohanes Maryanto, S. Sos. Dalam sambutan beliau berharap agar para relawan dapat mendamping anak pasca masa tanggap darurat bencana.
Pada kesempatan itu pula penyerahan masker sebanyak 32 ribu lembar kepada 11 desa terdampak erupsi Lewotobi Laki-Laki dan 5 Poslap ( Kobasoma, Ile Gerong, Bokang, Lewolaga, Konga) masing-masing 2000 lembar. Masker ini merupakan donasi dari ChildFund International melalui FREN dan YPPS.
KPK SIGAP – Yuven Fernandez



