Semarak dan Sarat Makna: Ribuan Warga Larut dalam Tradisi Lebaran Kopat Boyolangu

KPK SIGAP INVESTIGASI JATIM BANYUWANGI

 

BANYUWANGI – Sepekan setelah perayaan Idul Fitri, suasana di Kelurahan Boyolangu, Kecamatan Giri, Banyuwangi, kembali berdenyut kencang. Ribuan warga tumpah ruah di sepanjang jalan protokol kelurahan untuk merayakan Lebaran Kopat (Lebaran Ketupat), sebuah tradisi turun-temurun yang menjadi simbol rasa syukur sekaligus ajang mempererat tali silaturahmi.

 

Simbol Kebersamaan di Atas “Ancak”

Puncak kemeriahan terlihat saat ritual Ider Bumi dimulai. Warga mengarak tumpeng ketupat berukuran raksasa serta ratusan ancak (nampan bambu) berisi ketupat dan lepet lengkap dengan lauk pauk khasnya, seperti pecel ayam dan sayur lodeh.

 

Ketua Panitia pelaksana menyampaikan bahwa tradisi ini bukan sekadar pesta makan bersama.

 

“Lebaran Kopat di Boyolangu adalah warisan leluhur. Ketupat melambangkan pengakuan kesalahan (ngaku lepat), sedangkan anyaman janur yang rapat melambangkan persatuan warga yang tidak boleh terputus,” ujarnya di sela-sela acara.

 

Ritual dan Doa Bersama

 

Acara diawali dengan pembacaan doa dan selamatan di makam tokoh lokal atau sesepuh desa. Setelah prosesi doa selesai, warga duduk bersila berjajar di sepanjang jalan sepanjang hampir satu kilometer. Di sinilah momen paling ikonik terjadi: makan bersama secara massal.

 

Tidak ada sekat antara pejabat, tokoh agama, warga lokal, hingga wisatawan yang sengaja datang. Semuanya membaur, menikmati hidangan ketupat yang disajikan di atas daun pisang.

 

Daya Tarik Wisata Budaya

Bagi Kabupaten Banyuwangi, Lebaran Kopat Boyolangu telah masuk dalam kalender wisata budaya tahunan. Keunikan tradisi ini terletak pada konsistensi masyarakatnya dalam menjaga orisinalitas ritual.

 

Beberapa poin penting yang membuat tradisi ini bermakna:

 

Gotong Royong: Setiap rumah secara sukarela memasak ketupat untuk disajikan kepada tamu dan tetangga.

 

Filosofi Janur: Penggunaan janur kuning (sejatine nur) melambangkan harapan akan cahaya keberkahan dari Tuhan.

 

Kearifan Lokal: Menjadi sarana rekonsiliasi sosial setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa.

 

Hingga matahari terbenam, keceriaan masih terpancar di wajah warga. Lebaran Kopat Boyolangu kembali membuktikan bahwa di tengah arus modernisasi, nilai-nilai spiritual dan kebersamaan masyarakat Osing Banyuwangi tetap kokoh berdiri. Sumber berita: (Red Kurnia Tim Media Kpk Sigap)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *