Proyek SPAM senilai Rp10,4 miliar di Kecamatan Lembah Bawang, Bengkayan pusat kontroversi panas.
Bengkayang, Kalbar KPK sigap— Proyek Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) senilai Rp10,4 miliar di Kecamatan Lembah Bawang, Kabupaten Bengkayang, kini berada di pusat kontroversi panas.
Warga marah, tokoh masyarakat geram, dan dugaan kegagalan distribusi manfaat, penyimpangan teknis, serta maladministrasi anggaran membuat proyek ini berpotensi menjadi skandal nasional.
Dusun Jenang Teraliri Air? Nyatanya Tidak di Desa Godang Damar, Dusun Jenang, menemukan fakta yang mengejutkan: meski proyek SPAM telah berjalan dan menelan anggaran miliaran rupiah, puluhan rumah warga belum teraliri air sama sekali. Bahkan warga mengaku tetap mengandalkan air sungai dan sumur tradisional.
“Air tidak pernah sampai ke rumah kami. Dari awal sampai sekarang, kami tetap pakai air sungai dan sumur. Padahal katanya proyek air bersih sudah selesai,” ungkap salah seorang warga, sambil menunjuk saluran SPAM yang tak berfungsi.
Fakta ini menegaskan dugaan bahwa proyek SPAM tidak hanya bermasalah secara teknis, tapi juga gagal memenuhi tujuan utama: menjamin akses air bersih bagi seluruh masyarakat sasaran.
Ketimpangan Distribusi, Data Penerima Manfaat Dipertanyakan
Tim media mencatat ketimpangan distribusi yang mencolok: beberapa titik rumah telah teraliri air, sementara banyak rumah lain tidak. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar:
Apakah data penerima manfaat akurat?
Apakah perencanaan sambungan rumah (SR) dilakukan adil dan transparan?
Apakah ada indikasi penyelewengan atau proyek “hanya untuk sebagian orang”?
Menurut salah satu tokoh masyarakat, ketidakmerataan ini memicu kecemburuan sosial dan ketegangan warga, karena air bersih adalah kebutuhan dasar yang sangat vital.
Tokoh Masyarakat Buka Suara: Proyek Berpotensi Picu Konflik
Tokoh masyarakat Desa Godang Damar, Pak Tapa, secara terbuka mengecam proyek SPAM yang dianggap tidak merata dan bisa memicu konflik sosial.
“Kami sebagai warga berhak mendapatkan perlakuan adil. Faktanya, di Dusun Jenang masih banyak yang tidak kebagian air bersih. Kalau ini memang program untuk rakyat, seharusnya dirasakan bersama, bukan hanya sebagian saja,” tegas Pak Tapa, Selasa (16/12/2025).
Kepala Desa Dinilai Tutup Mata, Publik Meradang
Saat dikonfirmasi, Kepala Desa Godang Damar tidak menyajikan data rinci mengenai jumlah KK penerima manfaat, rumah yang sudah teraliri, maupun rumah yang belum mendapatkan sambungan SPAM. Pihak desa justru menyarankan media untuk mengonfirmasi ke Dinas PUPR Kabupaten Bengkayang.
Sikap ini dinilai publik sebagai lempar tanggung jawab, memperkuat dugaan ketidaksinkronan data antara pemerintah desa dan kondisi lapangan, serta menimbulkan tanda tanya besar soal transparansi dan akuntabilitas proyek.
Anggaran Jumbo, Pengawasan Dipertanyakan
Proyek SPAM Kecamatan Lembah Bawang menghabiskan Rp10.366.442.000, dengan rincian:
Desa Papan Uduk: Rp4.094.135.000
Desa Godang Damar: Rp3.004.780.000
Desa Saka Taru: Rp3.267.527.000
Dengan nilai sebesar itu, masyarakat mempertanyakan:
Apakah perencanaan teknis sudah sesuai standar?
Apakah pengawasan kontraktor dan pelaksana berjalan ketat?
Apakah uang rakyat digunakan tepat sasaran, atau ada indikasi penyalahgunaan?
Temuan Lapangan: Kualitas Pekerjaan Diragukan
Tim media juga menemukan saluran distribusi yang rusak, pipa bocor, dan intake air yang dangkal. Beberapa titik rumah bahkan tidak tersambung sama sekali, menimbulkan dugaan kontraktor lalai atau proyek dikerjakan asal jadi.
“Jika proyek ini gagal, bukan hanya warga yang dirugikan, tapi juga negara,” kata seorang aktivis lokal yang enggan disebut nama.
Publik Tuntut APH dan Inspektorat Turun Tangan
Masyarakat kini menuntut Aparat Penegak Hukum (APH), Inspektorat, dan pengawas proyek segera turun ke lapangan.
Warga menegaskan: ketimpangan distribusi, dugaan maladministrasi, dan potensi kerugian negara harus ditindaklanjuti sebelum proyek SPAM ini menjadi skandal nasional.
“Jangan sampai proyek air bersih ini jadi simbol kebobrokan pengelolaan anggaran publik, sementara rakyat tetap menimba air dari sungai dan sumur. Aparat harus bertindak sekarang juga!” tegas Pak Tapa.
Ancaman Krisis Kepercayaan Publik
Jika tidak ditindaklanjuti, proyek SPAM Rp10,4 miliar ini bisa merusak kepercayaan publik terhadap pemerintah daerah dan instansi terkait, sekaligus menjadi bukti lemahnya pengawasan anggaran publik.
Air bersih, yang seharusnya menjadi hak dasar rakyat, kini justru menjadi simbol ketidakadilan, kekecewaan, dan potensi konflik sosial di Kabupaten Bengkayang.
Reporter Damianus eko
Editor Mursyidi




