Proyek Rp 9 Miliar Mulai Gelar Hotmix Sekmen 1: Bupati Manggarai Kebanjiran Ucapan Terima Kasih Warga Masyarakat Wela & Golo Worok !

KPK SIGAP.COM – Pelaksanaan program kegiatan pembangunan jalan, paket pekerjaan Peningkatan Kapasitas Struktur Jalan Cancar -Batas Kabupaten, HRS, Kec. Ruteng, Kabupaten Manggarai, Flores – Nusa Tenggara Timur, kini memasuki tahap penghamparan/ gelar hotmix /HRS.

Pantauan media ini di lokasi pekerjaan di Desa Golo Worok-Kecamatan Ruteng, pihak pelaksana telah memulai kegiatan gelar hotmix pada Sabtu malam (22/11/2025)

Pelaksana lapangan, Geri Syukur, kepada media ini menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari pekerjaan mayor (Utama) dalam rangkaian kegiatan yakni penghamparan lapisan penutup agregat Klas A dengan campuran aspal panas / Hotmix jenis HRS.

” Hari ini kami mulai gelar hotmix / HRS sebagai bagian dari pekerjaan mayor (pekerjaan utama) dalam pekerjaan jalan jalur Wella – Golo Worok. Kami hampar Hotmix mulai di Sekmen 1 sepanjang 1.950 meter. Kegiatan ini dijadwalkan selama 4 hari mulai hari ini Sabtu tanggal 22 November. Jika tidak ada hambatan dengan produksi Hotmix di AMP, maka pekerjaan untuk Sekmen 1 bisa tuntas hari Selasa 25 November 2025,” terang Geri, di lokasi pekerjaan jelang dimulainya kegiatan hampar Hotmix Sabtu malam, 22 November 2025.

Geri, menuturkan bahwa dalam kegiatan itu, jumlah produksi Hotmix/ HRS untuk hari pertama sebanyak 19 Dumb Truck (DT), dan tiap DT terdapat Hotmix sebanyak 7 ton.

Kegiatan Malam Hari Cegah Kemacetan Lalu Lintas

Dalam pantauan media ini di lokasi pekerjaan, kegiatan penghamparan Hotmix/ HRS dimulai pukul 20.00 -24.00 WITeng, Sabtu malam (22/11)

Ditanya kenapa kegiatan dilakukan malam hari. Geri me jelaskan tujuannya untuk mencegah kemacetan lalu lintas akibat antrian panjang saat kegiatan gelar hotmix berlangsung siang hari.

” Kami pilih waktu malam hari untuk mencegah antrian panjang kendaraan yang melintas di jalur ini saat kami hampar Hotmix siang hari. Antrian akan sangat panjang dan jalanan bisa macet dan menghambat aktifitas masyarakat pengguna jalan,” tegas Heri .

Hotmix 303 Ton Untuk 900 Meter

Lebih lanjut, kepada media ini Geri menyampaikan bahwa untuk kegiatan hari kedua, Minggu malam ( 23/11) telah menghambat HRS sebanyak 24 DT atau setara dengan 170 ton. Material ini, lanjut Geri digunakan untuk penghamparan sepanjang 500 meter. Dengan demikian, memasuki hari kedua, pekerjaan gelar HRS sudah mencapai 900 meter, dengan jumlah HRS 303 ton. Adapun sisa pekerjaan Sekmen 1 sepanjang 1 km, diperkirakan akan tuntas sesuai jadwal semula , hanya empat hari.

” Ya, bisa selesai sesuai jadwal, asal mesin produksi Hotmix di AMP tidak mengalami gangguan,” kata Geri penuh keyakinan.

Diketahui, pekerjaan dengan pagu sebesar Rp 9.968.383.300 (sembilan miliar sembilan ratus enam puluh delapan juta tiga ratus delapan puluh tiga ribu tiga ratus rupiah), bersumber dari Dana Alokasi Umum Tahun Anggaran ( DAU – TA 2025). Dana ini digunakan untuk membiayai pekerjaan sepanjang 4,2 km jalan jalur Wela – Cancar. Pekerjaan ini dilaksanakan oleh CV. Davidtiano Putra, dengan Konsultan Pengawas CV. Bayu Pratama. Masa pelaksanaan ditetapkan 120 hari kalender terhitung sejak 1 September 2025.

” Lama waktu untuk menyelesaikan pekerjaan ini hanya 120 hari dimulai sejak 1 September 2025,” tutur Geri saat ditemui media ini di lokasi pekerjaan (18/10/2025)

Geri menuturkan bahwa dalam menuntaskan pekerjaan yang dimulai dari perbatasan Kabupaten Manggarai Barat di Golo Welu-Kecamatan Kuwus berbatasan dengan Wela, Desa Golo Worok menuju Cancar, Kec.Ruteng-Kabupaten Manggarai, diawali dengan kegiatan penggalian daerah milik jalan (Damija) berupa pembersihan /penggusuran dengan alat, serta penggalian saluran drainase dan deker. Disusul dengan penghamparan dan pemadatan material urukan pilihan (urpil) berupa campuran krikil dan pasir kali.

” Yang pertama kami kerja galian. Pembersihan Damija. Gali saluran drainase dan sejumlah deker. Lalu kerja tembok penahan tanah, drainase dan pasangan mortar serta deker pada sejumlah titik. Hal ini adalah bagian dari pekerjaan minor (tambahan) diluar pekerjaan mayor, antara lain penghamparan Hotmix /HRS,” terang Geri.

Ia melanjutkan bahwa setelah penghamparan Hotmix/ HRS, pekerjaan belum selesai. Sebab, bagian kiri dan kanan jalan yang telah dihotmix kata Geri, perlu diikuti dengan pekerjaan rabat dengan ketentuan lebar minimal 50 cm dan maksimal 150 cm dengan ketebalan 20 cm. Namun, lanjut Geri, lebar rabat disesuaikan dengan kondisi di lokasi. Jika memungkinkan tentu bisa lebih lebar dari ketentuan minimal dan sebaliknya bisa kurang.

” Rabat itu wajib dikerjakan untuk sisi kiri dan kanan jalan. Lebar minimal 50 cm dengan kedalaman 20 Cm. Tetapi tergantung kondisi di lapangan. Jika memungkinkan bisa lebih dari 50 Cm , bisa sampai 150 cm. Tapi jika kondisinya tidak memungkinkan, bisa saja lebar rabat jalan kurang dari ketentuan minimal,” tutur Geri.

Pelaksana Berkomitmen Kerja Sesuai Spek

Ditanya tentang spesifikasi teknis/ spektek pekerjaan terkait ketebalan lapisan urpil dan agregat serta Hotmix/ HRS. Kepada media ini Geri menjelaskan bahwa setiap lapisan material memiliki ketebalan yang berbeda. Untuk urpil, ketebalan gembur ditetapkan antara 25-26 Cm, dan setelah digilas dengan alat berat akan mencapai ketebalan padat hingga 20 Cm. Di atas lapisan urpil dihampari lagi dengan material agregat Klas A dengan ketebalan gembur antara 21-22 Cm, lalu digilas dengan alat berat dengan bobot 6 bahkan 8 ton hingga mencapai ketebalan padat tersisa hanya 15 Cm. Terakhir, lapisan agregat dilapisi / ditutup dengan campuran aspal panas atau hosmix/HRS dengan ketebalan gembur antara 5,1-5,2 Cm lalu digilas / dipadatkan hingga mencapai ketebalan padat hanya 4 Cm.

” Kami berkomitmen untuk melaksanakan pekerjaan sesuai spesifikasi teknis atau spek pekerjaan. Urpil, ketebalan gembur 25-26 Cm, dan ketebalan padat 20 Cm. Agregat, ketebalan gembur antara 21-22 Cm dan ketebalan padat hanya 15 cm. HRS, ketebalan padat antara 5,1-5,2 Cm, dan ketebalan padat 4 Cm,” ulas Geri penuh kepastian.

Warga Masyarakat Wela-Golo Worok Berterimakasih kepada Bupati Manggarai

Ekspresi kegembiraan warga masyarakat di sepanjang jalur jalan jalur Wella-Cancar yang temui media ini, terungkap lewat pernyataan spontan yang intinya sama, mereka sangat senang, bersyukur dan merasa perlu berterima kasih kepada Bupati Manggarai, Heribertus Gradus Laju Nabit, SE., MA.

” Sekarang kami sangat senang dan gembira. Dulu, jalan di wilayah kami rusak parah sekian tahun. Kondisinya sangat jelek. Kami mengeluh dan berharap ada perhatian dari Bupati untuk bangun jalan yang bagus di wilayah kami seperti juga di tempat lain. Harapan ini tidak muluk-muluk karena kondisi jalan memang sangat buruk. Rusak parah. Semua pengguna jalan yang lewat jalan ini tahu dan merasakan kondisi jalan yang buruk ini sekian lama. Kini kami sangat senang karena apa yang sudah lama kami rindukan, sekarang sudah terwujud, ” ungkap seorang Ibu Rumah Tangga, Maria Imakulata Hadia didampingi suamimya Lorensius Madur di Wela saat ditemui media ini, Senin (24/11/2025)

Senada dengan Istrinya, Lorens, demikian Suami Ima biasa disapa, juga menuturkan bahwa harapan akan hadirnya pembangunan jalan itu bukanlah sesuatu yang muluk-muluk dan berlebihan. Harapan ini muncul dari kondisi riil di Wella, jalanya rusak parah sejak lama.

” Harapan kami supaya ada perhatian dari Pemerintah untuk bangun jalan raya yang lebih bagus di wilayah kami bukan hal yang berlibihan. Tidak muluk-muluk karena memang sebelumnya jalan ini sangat buruk. Rusak parah tanpa ada perbaikan. Sehingga sudah selayaknya kami warga masyarakat menaruh harapan kepada Bupati. Dan kami sangat bersyukur dan juga berterima kasih kepada Pak Bupati. Karena apa yang kami dambakan, sekarang sudah terlaksana,” tutur Lorens penuh kegembiraan.

Ungkapan dari sepasang suami istri di Wela itu sungguh mewakili perasaan hati dan pikiran yang sama dari warga masyarakat Wela dan Golo Worok yang berhasil ditemui media ini di tempat berbeda di hari yang sama, Senin (24/11/2025)

Sejumlah warga Wela dan Golo Welu yang kami temui dan meminta tanggapan antara lain ; Maksimus Ladur (Maksi) dan Albertus Ma ngugur (Bertus) di Golo Worok. Kemudian sejumlah warga masyarakat Wela : Engelius Darmantio (Arman), Cristian Boy Mandu (Tian), Donatus Nadut (Don), Lowisa Umut (Wisa), Stanislaus Ganti (Tanis) dari Coal, Maria Nganur (Ria) Ibunda Kandung dari Leksi Arman Jaya selaku anggota DPR Kabupaten Manggarai dari Partai Demokrat, Yohana Jesiana Alul (Jesi), Kori Jemu (Kori), dan Paskalis Agung (Kalis).

“Sekarang baru nampak adanya perubahan di Wella. Terutama jalan raya yang dulu rusak parah, tapi kini sudah bagus. Akses jalan dari dan ke Wella sekarang sudah bagus, ” ungkap Jesi, Gadis Wela yang mengaku baru saja tamat SMA.

Ungkapan senada diamini Pemuda Wela lainnya, Arman.” Jalan disini sudah lama sekali rusak parah. Sekarang sudah ada jalan Hotmix, kami semua senang dan terima kasih kepada Bupati Manggarai.” tegas Arman mantap.

Dukung Bupati Manggarai Jadi Gubernur NTT

Pekerjaan jalan jalur Wela-Cancar sepanjang 4,2 Km belum juga tuntas. Baru 900 meter yang sudah dihotmix hari kedua di Sekmen 1 di Golo Worok, dengan total panjang 1.950 meter. Namun luapan kegembiraan dan rasa syukur serta terima kasih dari warga masyarakat sudah tak tertahankan. Warga menyadari bahwa pagu anggaran sebesar Rp 9 miliar lebih untuk pembangunan jalan itu adalah bentuk nyata adanya perhatian dari Bupati Manggarai terhadap rakyatnya di Kecamatan Ruteng termasuk Wella dan Golo Worok. Olehnya, tidak berlebihan jika warga meluapkan kegembiraan sembari berterima kasih kepada Bupati Manggarai dua periode itu.

Maksimus Ladur, seorang petani asal Golo Worok, kepada media ini meluapkan kegembiraan seta ucapan terima kasih darinya untuk Bupati Manggarai. Bahkan, Maksi, demikian sapaanya, menyatakan agar Bupati Manggarai maju jadi Calon Gubernur NTT dan berani mengklaim jika warga Desa Golo Worok siap memberikan dukungan penuh. Dukungan ini lanjutnya Maksi, akan diberikan sebagai wujud rasa terima kasih atas perhatian yang menurutnya sangat besar dari Bupati Manggarai yang satu ini.

” Jalan ini , sejak 15 tahun lalu sudah rusak. Sekarang baru diperbaiki dengan jalan Hotmix. Saya ini sudah tua, masih bisa menikmati jalan Hotmix. Saya dan warga masyarakat sangat senang dan berterima kasih kepada Bupati Manggarai, Heri Nabit. Kalau bisa maju lagi jadi Bupati 3x, kami pasti dukung. Tapi kalau dilarang oleh aturan, biar Bupati maju jadi Gubernur NTT saja 2029, Kami pasti dukung karena sudah kasih perhatian besar untuk kami berupa jalan hotmix,” ungkap Maksi.

Titip Harapan Akan Tembok Penahan Tanah

Sembari meluapkan rasa syukur dan terima kasih berlimpah kepada Bupati Heri bersama Dinas PUPR Kabupaten Manggarai, warga masyarakat Wela juga menitipkan harapan agar Dinas PUPR juga berkenan memberikan perhatian untuk bangun tembok penahan tanah. Terutama di depan rumah warga yang terdampak penggusuran daerah milik jalan (Damija) dengan tening yang sangat tinggi dan jurang yang dalam. Harapan ini datang dari Paskalis Agung dan Lorens Madur bersama Istrinya, Imakulata Hadia.

” Sesuai hasil rapat Dinas PU Kabupaten Manggarai bersama warga masyarakat Wela dan Golo Worok yang dilaksanakan di Golo Worok tahun 2023. Setiap depan rumah warga yang terdampak penggusuran jalan akan dibangun Tembok Penahan Tanah (TPT) setinggi paling kurang 1-1,5 meter. Di rumah warga yang lain, ada tembok penahan tanah. Padahal kondisinya tidak terlalu berbahaya. Sedangkan di depan rumah kami ada tebing/ jurang setinggi /sedalam kurang lebih 6 meter, harusnya dibangun TPT. Namun kata pelaksana dan pihak dinas, di depan rumah kami tidak ada dalam RAB,” ungkap Ima di Amini Lorens suaminya.

Keduanya sungguh berharap, jika masih ada sisa anggaran agar diprioritaskan untuk membangun Tembok Penahan Tanah khusus di depan rumah mereka yang memang rawan longsor dan sangat mengancam keselamatan hidup keluarga ini jika bencana tanah longsor sewaktu-waktu terjadi.

” Kami berharap kiranya Dinas PU berkenan bangun TPT depan rumah kami yang sangat rawan terjadi bahaya longsor sewaktu-waktu.”

Lorens, menuturkan bahwa sebelum penggusuran, kondisi tebing/jurang di depan rumah mereka terbilang masih aman. Terutama karena masih ada tumpukan tanah longsor yang dianggap sebagai tumpuan pengaman tebing setinggi 6 meter. Namun setelah penggusuran, lanjut Lorens, tidak ada lagi tumpuan tanah hasil longsoran sebelumnya sebagai pengaman. Hal inilah yang dipandangnya sebagai potensi bahaya yang sangat mengancam keselamatan hidup sekeluarga.

” Disini sebelum ada penggusuran masih ada tumpukan tanah longsor sebagai pengaman. Sekarang tidak ada lagi karena sudah di gusur. Ini sangat. Kondisi ini sangat berbahaya dan mengancam keselamatan kami sekeluarga jika sewaktu-waktu terjadi tanah longsor seperti sebelumnya.,***

Editor : Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *