Pengadilan Surga Untuk Para Imam: Cerita Inspiratif Akhir Pekan Oleh Edi Danggur !
Jakarta,KPKSIGAP.com -// Tim Investigasi Nasional KPK SIGAP mendapatkan ‘hadiah’ akhir pekan dari seorang praktisi pendidikan dan hukum asal Manggarai, Flores – Nusa Tenggara Timur yang telah lama berdomisili di Jakarta , Edi Danggur,S.H., M.M., MH. Minggu pagi, 29 Juni 2025.
Hadiahnya bukan mobil mewah atau barang antik dan unik , melainkan sebuah cerita inspiratif akhir pekan dengan judul ” Pengadilan Surga Untuk Para Imam” ditulis oleh: Edi Danggur. Berikut cerita selengkapnya.
Ada tiga orang imam hendak menghadiri sebuah konferensi mengenai teologi. Ketiganya ingin tahu konsep teologi yang paling mutakhir dan kontekstual saat ini.
Konsep teologi usang yang mereka pelajari dari buku-buku teologi Barat di masa lalu, hendak mereka singkirkan. Mereka tidak mau terjebak lagi dalam kontroversi geosentris versus heliosentris seperti tahun 1600-an.
Ketiga imam itu berasal dari tiga ordo, serikat atau tarekat yang berbeda: Fransiskan, Jesuit dan Dominikan.
Di mana saja dan kapan saja, imam Fransiskan biasanya mempromosikan hidup sederhana, miskin dan hemat, termasuk di hadapan kedua rekan imamnya dari Dominikan dan Jesuit.
Maka, imam Fransiskan itu mengajak dua imam lainnya mengendarai mobil yang sama ke arena konferensi teologi tersebut. Tidak efisien jika ketiga imam itu mengendarai mobil dari biara mereka masing-masing
Sialnya, di tengah jalan mobil yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan. Ketiganya tidak selamat alias meninggal. Pada hari yang sama, jiwa ketiga imam tersebut berangkat ke surga.
Di surga, ketiga jiwa penuh bakti di dunia itu akan diadili. Apakah masuk surga atau neraka. Sungguh sangat manusiawi bahwa ketiganya gugup juga, menghadapi suasana pengadilan surgawi.
Santo Petrus memanggil dan mengarahkan jiwa ketiga imam ini menghadap Tuhan Allah untuk diadili. Tuhan Allah yang mereka lihat, persis sama seperti digambarkan dalam teologi di bangku kuliah mereka dulu.
Tuhan Allah bertahta dalam sebuah singgasana terbuat dari emas, dan semua hiasan dari segala sisi tahta itu terbuat dari emas pula.
Santo Petrus mengingatkan ketiganya: “Sekalipun kamu bertiga adalah imam yang penuh bakti selama hidup di dunia, tetapi tidak ada jaminan bahwa kamu bertiga pasti masuk surga”.
Ketiganya tambah gugup dan saling memandang. Seolah-seolah ada pikiran yang sama terbersit di kepala mereka: siapa diantara mereka bertiga yang bakal masuk surga dan siapa pula yang bakal masuk ke neraka.
Sebelum nama mereka dipanggil satu-satu masuk ke ruang paling privat untuk menghadapi persidangan di depan Tuhan Allah, Santo Petrus membacakan peraturan dan tata tertib persidangan.
Salah satu butir peraturan dan tata tertib persidangan adalah muka orang yang diadili harus menunduk selama Tuhan Allah membacakan daftar amal kebaikan dan dosa mereka selama mereka hidup.
Ketika nama imam Fransiskan dipanggil masuk ruang sidang, sikapnya sangat sopan, dan dengan muka menunduk, ia mendengar semua amal kebaikan dan dosanya selama hidupnya.
Tuhan Allah mengatakan: “Hai anak dari Santo Fransiskus, dalam catatan di surga, engkau telah menunjukkan kesederhanaan dan kemiskinan di depan umat. Engkau juga peduli pada lingkungan hidup”. Maka wajarlah engkau jadi penghuni surga.
Imam Fransiskan itu dengan penuh gembira bersujud syukur di hadapan Tuhan Allah karena surga yang ia rindukan selama hidupnya di dunia, benar-benar jadi kenyataan saat ini.
Giliran kedua yang dipanggil adalah imam Dominikan. “Dalam catatan di surga, engkau sebagai anak dari St Dominikus telah menjalani hidup doa, studi, pewartaaan dan hidup berkomunitas dengan baik”.
Imam dari Ordo Dominikan itu sedikit mengangguk untuk membenarkan catatan yang dibacakan oleh Tuhan Allah itu. “Hai anak dari St. Dominikus, engkau telah melakukan semua itu demi keselamatan jiwamu sendiri dan jiwa orang lain”, puji Tuhan Allah sambil menunjukkan jempolnya ke arah imam Dominikan itu.
Kini tibalah giliran bagi imam Jesuit dipanggil ke ruang sidang pengadilan surgawi. Ia masuk dan langsung menundukkan kepalanya sekedar untuk memenuhi peraturan dan tata tertib sidang.
Tetapi ketika Tuhan Allah mulai membuka buku catatan berisi amal bakti dan dosanya selama hidup di bumi, Tuhan Allah heran, karena imam Jesuit itu berani menatap wajah Tuhan Allah. Tidak seperti sikap dua imam terdahulu yang terus menundukkan kepala selama persidangan berlangsung.
“Anak dari Santo Ignatius Loyola, apa yang kamu percayai selama kamu hidup di dunia sampai pada saat kamu diadili saat ini di surga?”, tanya Tuhan Allah.
Dengan sangat percaya diri, imam Jesuit itu berkata: “Wah, satu hal ini yang saya percayai bahwa Anda sedang duduk di kursi saya!”
Tuhan Allah kaget dan Santo Petrus hanya bisa geleng-gelengkan kepala melihat kelakuan imam Jesuit itu.
*****
Seorang guru sedang menceritakan cerita di atas kepada para muridnya di sebuah ruang kelas di sekolah. Seorang murid bertanya kepada gurunya, apa maksud cerita di atas.
Gurunya hanya menjawab: “Jangan meremehkan cerita. Uang emas hilang, bisa ditemukan kembali dengan lilin kecil. Tetapi, kenyataan paling dalam ditemukan dengan menggunakan sebuah cerita”.
Para murid tambah bingung. Melihat para muridnya tambah bingung, guru itu justru melanjutkan: “Kamu harus tahu, anak-anakku, jarak paling dekat antara manusia dan kebenaran adalah cerita”.
_Jakarta, akhir pekan jelang hari raya Santo Petrus dan Paulus 29 Juni 2025_***
KPK SIGAP Red
Editor mursyidi
Reporter, Adrianus Jehamat




