Pontianak,kpksigap.com – Kalimantan Barat Jika hidup di negeri ini adalah sebuah film, maka ini bukan lagi drama, bukan thriller, apalagi komedi. Ini sudah masuk genre “Survival Reality Show”, di mana rakyat harus berjuang setiap hari melawan kenaikan harga, kelangkaan barang, dan skema ekonomi yang makin absurd.
Dan kini, kita sampai di episode terbaru: “Minyakita: Ketika 1 Liter Itu Hanya Angka di Label.”
BAB 1: PLOT TWIST DI PASAR TRADISIONAL
Tanggal 8 Maret 2025. Menteri Pertanian RI, Andi Amran Sulaiman, turun ke Pasar Jaya Lenteng Agung. Harapan beliau? Melihat minyak goreng tertata rapi, harga stabil, dan rakyat bisa memasak tanpa drama.
Minyakita yang seharusnya 1 liter, ternyata cuma 750-800 ml. Seperempat liter menghilang entah ke mana. Dicuri jin botol? Menguap karena pemanasan global? Atau ini eksperimen ala film sci-fi di mana benda bisa menyusut tanpa alasan logis.
Belum cukup sampai situ, harganya pun bikin kepala cenat-cenut. Seharusnya Rp 15.700 per liter, tapi di pasar rakyat dipalak sampai Rp 18.000! Ini bukan inflasi biasa, ini semacam “level up” dalam game bertahan hidup ala ekonomi Indonesia.
Rakyat jadi korban double kill:
Isinya berkurang.
Harganya naik.
Satu kata: GILA!
BAB 2: KETIKA MARAH HANYA SEBATAS TRENDING TOPIC
Seperti biasa, rakyat ngamuk! Media sosial langsung panas. Meme-meme bermunculan, TikTok dipenuhi satire, dan WhatsApp keluarga mulai ramai dengan pesan berantai ala “Negara Kita Ini Gimana Sih.
Tapi… kita tahu babak selanjutnya: besoknya tetap beli juga.
Karena apa? Karena gorengan adalah sumber kebahagiaan nasional.
Hidup tanpa bakwan, tahu isi, dan pisang goreng? Itu bukan hidup, itu ujian keimanan. Jadi, meskipun minyak oplosan, harga menggila, dan volume makin mini, rakyat tetap antre beli. Dengan hati dongkol tapi tangan tetap merogoh dompet.
BAB 3: PEMERINTAH TURUN TANGAN (KITA SUDAH TAHU ENDINGNYA)
Tentu saja, drama ini tak lengkap tanpa adegan wajib: “Pemerintah Bertindak Tegas.”
Menteri Pertanian langsung perintahkan penyelidikan. Satgas Pangan dan Bareskrim Polri ikut turun. Konferensi pers diadakan: “Kami akan menindak tegas.
Tapi, kita sudah hafal skenarionya:
1. Awalnya heboh, semua media memberitakan.
2. Muncul janji investigasi, sidak ke pasar, bahkan mungkin ada pelaku ditangkap.
3. Rakyat mulai berharap.
4. Lalu… pelan-pelan berita ini menghilang, tenggelam di antara isu lain.
5. Rakyat lupa. Sampai nanti ada kasus baru, dan siklus berulang lagi.
Bukankah kita pernah menonton film ini sebelumnya?
Pertamax oplosan? Hilang dari pembahasan.
LPG 3 kg langka? Sudah basi.
Beras naik? Paling cuma jadi keluhan sambil makan mi instan. Yang paling menyakitkan dari semua ini adalah… kita bukan sekadar penonton, kita adalah tokoh utama yang terus-menerus ditipu skenario. Setiap kali beli minyak goreng, kita tahu ada yang aneh. Tapi kita tetap membelinya. Bukan karena kita bodoh, tapi karena kita tidak punya pilihan lain.
Dan besok, kalau volume Minyakita makin menyusut jadi 600 ml, lalu 500 ml, kita tetap akan berkata:”Yah… yang penting masih bisa makan gorengan.”Karena di negeri ini, hidup itu keras. Tapi hidup tanpa gorengan, jauh lebih keras.
Jangan kira ini akhir. Kita semua tahu, Negeri Oplosan selalu punya sekuel. ini
Minyakita.
Besok bisa beras.
Lusa mungkin kopi, gula, atau bahkan udara berbayar.
Tapi sampai saat itu tiba, kita hanya bisa bertahan, sambil menikmati gorengan yang entah kapan akan jadi barang mewah.
Editor : Rahmad Maulana




