KPK SIGAP INVESTIGASI JATIM BANYUWANGI
BANYUWANGI – Jumat malam (9/1/2026) di Pendopo Sabha Swagata bukan sekadar malam pergantian tongkat komando. Malam itu menjadi saksi bisu betapa kuatnya ikatan emosional antara seorang pemimpin dengan rakyatnya. Kombes Pol Dr. Rama Samtama Putra, S.I.K., M.Si., M.H., secara resmi mengakhiri masa tugasnya sebagai Kapolresta Banyuwangi, namun ia meninggalkan sesuatu yang jauh lebih berharga dari sekadar laporan kinerja: jejak pengabdian yang mendalam.
Panggung pisah sambut seketika berubah menjadi muara kasih sayang. Satu per satu, mulai dari jajaran Forkopimda, tokoh lintas agama, hingga perwakilan petani dan nelayan, naik ke panggung membawa bingkisan. Namun, suasana haru yang tercipta menunjukkan bahwa benda-benda tersebut bukanlah sekadar simbol protokoler.
Cendera mata yang mengalir deras malam itu adalah representasi dari rasa terima kasih atas kebijakan-kebijakan Kombes Pol Rama yang dikenal “membumi”. Bagi masyarakat Banyuwangi, beliau bukan hanya penegak hukum yang tegas, melainkan sosok pendengar yang baik di tengah konflik sosial dan sahabat bagi para pelaku UMKM.
Alur kepemimpinan Kombes Pol Rama selama di Banyuwangi ditandai dengan gaya “Belanja Masalah”. Ia jarang hanya duduk di balik meja. Dari pesisir Muncar hingga kaki Gunung Ijen, kehadirannya dirasakan langsung oleh masyarakat akar rumput.
“Keberhasilan seorang pimpinan Polri tidak hanya diukur dari angka penurunan kriminalitas, tapi dari seberapa nyaman warga saat melihat seragam polisi di tengah mereka,” ungkap salah satu tokoh masyarakat saat memberikan testimoni.
Ia berhasil mengubah wajah Polresta Banyuwangi menjadi institusi yang lebih dialogis. Pendekatan persuasif dalam menjaga Kamtibmas terbukti efektif meredam potensi konflik tanpa mengabaikan aspek keadilan.
Langkah Kombes Pol Rama selanjutnya adalah mengemban amanah sebagai Dirreskrimsus Polda Papua. Sebuah tugas berat yang menuntut integritas tinggi, sebagaimana yang telah ia tunjukkan di Banyuwangi.
Dalam sambutan perpisahannya yang penuh getar haru, Kombes Pol Rama menegaskan bahwa Banyuwangi telah menjadi rumah kedua baginya. Ia mengapresiasi sinergi luar biasa dari seluruh elemen yang telah membantunya menjaga kondusivitas daerah.
Malam itu berakhir dengan jabat tangan panjang dan pelukan hangat. Fenomena “banjir cendera mata” ini menjadi pengingat bagi setiap pejabat publik: bahwa jabatan bersifat sementara, namun integritas dan kebaikan yang ditanamkan di hati masyarakat akan menjadi warisan yang abadi.
Banyuwangi melepas Kombes Pol Rama dengan doa, sementara Polda Papua menyambutnya dengan harapan besar. Pengabdian tulus memang tidak pernah salah memilih tempat di hati rakyat. Sumber berita: (Red Kurnia Tim Media Kpk Sigap)




