Gerangan Lumbung Hidup Aisyiyah (GLHA), Basis Ketahanan Pangan Keluarga

Gerangan Lumbung Hidup Aisyiyah (GLHA), Basis Ketahanan Pangan Keluarga

Oleh Mufridawati, SP

Ketua Divisi Ketahanan Pangan MEK PWA Sumbar/ Staf bagian DPI UPTD BPTPH -Disbuntanhor Sumbar

Latar Belakang
Isu Global : Krisis pangan dunia
Kondisi pangan dunia saat ini menunjukkan peningkatan jumlah orang yang mengalami kelaparan akut karena konflik, guncangan ekonomi akibat pandemi COVID-19 dan perang, serta dampak perubahan iklim (iklim ekstrem seperti kekeringan dan banjir, serangan hama penyakit tanaman, penurunan kesuburan lahan, konversi lahan pertanian).
Di sisi lain, kondisi ketahanan pangan Indonesia relatif stabil, meskipun menghadapi tantangan seperti tingginya sampah makanan, penurunan produktivitas komoditas pertanian karena dukungan diseminasi inovasi yang kurang efektif dan ketergantungan impor pada beberapa komoditas pangan. Indonesia mengimpor beras 3,6 jt ton tahun 2024 (tertinggi dalm 5 tahun terakhir).
Saat ini 56 negara mengalami kelaparan serius. 725 juta penduduk dunia kekurangan gizi, 55% terdapat di Asia, 35% di Afrika (FAO, 2023). 7-16% penduduk Indonesia rentan kelaparan dan 21,5% mengalami stunting (kemendagri, Kemendes,2023). Laporan terbaru menunjukkan peningkatan jumlah orang yang mengalami kelaparan akut, mencapai lebih dari 295 juta orang di 53 negara pada tahun 2024. Dunia hari ini memasuki tahap darurat pangan.

Gerakan Lumbung Hidup ‘Aisyiyah (GLHA)
Apa itu GLHA?
Gerakan Lumbung Hidup ‘Aisyiyah adalah bagian dari upaya ‘Aisyiyah yang digerakkan ibu-ibu dalam menjawab isu global yakni kelangkaan pangan dan perubahan iklim, dengan memberikan akses pangan sehat, menciptakan peluang ekonomi, dan meningkatkan pengetahuan serta keterampilan anggota masyarakat dalam bidang pertanian dan manajemen usaha.
. Gerakan Lumbung Hidup ‘Aisyiyah adalah salah satu upaya pemberdayaan masyarakat melalui pemanfaatan pekarangan yang dikelola secara mandiri, kelompok dengan memanfaatkan sumberdaya lahan yang tersedia di lingkungannya.
Tujuan dan Manfaat
Kemandirian Pangan:
GLHA bertujuan untuk mewujudkan kemandirian pangan keluarga dan masyarakat melalui pemanfaatan lahan yang tersedia di lingkungan sekitar.
Ketahanan Pangan:
Gerakan ini berkontribusi dalam menciptakan ketahanan pangan, baik di masa normal maupun saat menghadapi krisis seperti pandemik, dengan mengantisipasi kelangkaan pangan.
Pemberdayaan Ekonomi:
Program ini memberikan peluang ekonomi tambahan melalui penjualan hasil panen yang berlebih.
Peningkatan Pengetahuan dan Keterampilan:
Anggota mendapatkan pengetahuan, wawasan, dan keterampilan baru terkait penanaman, perawatan tanaman, dan pengelolaan hasil panen.
Akses Pangan Sehat:
Masyarakat memiliki akses yang lebih mudah dan terjangkau terhadap bahan makanan segar dan sehat.
Kesehatan Lingkungan:
Pemanfaatan lahan pekarangan secara optimal juga berkontribusi pada peningkatan ketersediaan oksigen dan udara bersih di lingkungan.
Mekanisme Pelaksanaan
Pengelolaan Pekarangan:
Anggota memanfaatkan lahan pekarangan untuk ditanami berbagai jenis tanaman, seperti sayuran organik atau tanaman palawija, dan ada yang dikembangkan dengan metode hidroponik atau budikdamber (budidaya ikan dalam ember).
Penyuluhan dan Pelatihan:
Kegiatan mencakup penyuluhan, pelatihan, praktik langsung, dan pendampingan dalam hal media tanam, penanaman, perawatan, dan pengelolaan hasil panen.
Organisasi dan Kerjasama:
Gerakan ini dilakukan secara berkelompok dan terorganisir, serta seringkali menjalin kerjasama dengan dinas pemerintah terkait dan pihak-pihak lain yang peduli lingkungan untuk memperluas dampaknya.

Ciri Khas Gerakan
Keterlibatan Perempuan:
GLHA mempertegas peran perempuan sebagai motor penggerak dan pengatur dalam ketahanan pangan dan kemandirian ekonomi keluarga.
Ciri Khas ‘Aisyiyah:
Gerakan ini menjadi salah satu ciri khas gerakan ‘Aisyiyah yang terorganisir di berbagai lini kehidupan, baik di lingkungan rumah tangga, komunitas, maupun amal usaha ‘Aisyiyah.
Menjawab Isu Global:
Gerakan ini responsif terhadap isu global seperti kelangkaan pangan, inflasi, perubahan iklim, serta kebutuhan akan udara bersih.
GLHA diharapkan mampu memberikan kontribusi ketersediaan pangan secara mandiri baik di masa sekarang dan masa depan untuk mengantisipasi masalah kelangkaan pangan yang menjadi isu global.
Gerakan ini diluaskan di daerah masing-masing dan akan membuat sebuah ciri khas kegiatan ‘Aisyiyah. “Ciri khas ini bisa terlihat dari rumah ibu-ibu ‘Aisyiyah, dari lingkungan tempat tinggal, kantor, juga amal usaha ‘Aisyiyah. Ini semangat yang harus kita bangun untuk dapat memanfaatkan lahan pekarangan secara optimal, secara berkelompok, terorganisir, dan membuahkan hasil untuk menjawab isu global kelangkaan pangan dan isu kekurangan oksigen dan udara bersih.
Berdasarkan data per Maret 2022 GLHA sudah ada di 428 titik di Indonesia yang dilakukan oleh ibu-ibu ‘Aisyiyah di berbagai lokasi secara mandiri. Juga dilaksanakan di 27 titik yang sudah bekerja sama dengan dinas maupun pihak-pihak lain yang terkait serta memiliki kepedulian terhadap lingkungan ( Dyah, PPA , 2022).

Apa saja kegiatan GLHA?
Gerakan Lumbung Hidup ‘Aisyiyah (GLHA) berfokus pada pemberdayaan masyarakat melalui pemanfaatan pekarangan untuk ketahanan pangan dan ekonomi keluarga. Kegiatan utamanya meliputi pelatihan budidaya berbagai tanaman (palawija, sayuran, buah-buahan, tanaman obat), peternakan (ayam, ikan), dan pengolahan hasil panen. Selain itu, GLHA juga melakukan penyuluhan, pendampingan, dan pengembangan produk lokal, serta berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya gizi dan kesehatan.
Pimpinan Pusat Aisyiyah mendorong terwujudnya ketahanan pangan keluarga, ‘Aisyiyah,. agar dapat mendukung pemenuhan gizi keluarga dari pekarangan sendiri. Upaya ini terlaksana di berbagai daerah dan untuk keluarga yang tidak memiliki pekarangan di rumahnya , Aisyiyah mendorong dengan memberikan media tanam. dan polybag serta bibit (tanaman atau hewani) agar mereka dapat bertanam dan harapannya dari kegiatan ini jika hasilnya berlebih juga dapat menjadi pemasukan bagi mereka.
Disamping itu, untuk mendukung Gerakan ini, di setiap ranting sangat perlu adanya kelompok Wanita tani Aisyiyah (KWTA), pembentukan bank sampah untuk mengelola sampah organic dan an organic agar tercipta lingkungan hidup yang bersih, sejuk, asri dan indah. Berbagai kegiatan bisa kita buat melalui kelompok kelompok ini. Insya Allah ini menjadi agenda divisi ketahanan pangan majelis ekonomi dan ketenaga kerjaan Pimpinan Wilayah Aisyiyah Sumatera Barat.

FATHUN MINALLAH WA FATHUN QARIIB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *