Kuburaya,kpksigap.com – Hanya berjarak 4,6 kilometer dari Kantor Bupati Kubu Raya, kondisi jalan utama di Parit Sembin, Desa Parit Baru, Kecamatan Sungai Raya, justru menunjukkan potret kontras pembangunan.
Jalan yang menjadi akses vital warga ini rusak parah bertahun-tahun, dan hanya diperbaiki secara tambal sulam. Setiap tahun, paling banyak 200 meter jalan diaspal, sisanya tetap dibiarkan seperti sedia kala—berlubang, becek, dan sulit dilalui.
Ironisnya, pembangunan justru terfokus di titik-titik strategis yang terlihat mata, menciptakan ilusi seolah kemajuan terus terjadi. Beberapa meter aspal baru digelar di depan mata publik dan kamera, namun setelahnya hanya jalan rusak yang menanti. Ini bukan sekadar soal infrastruktur, tapi juga simbol ketimpangan dan kegagalan keberpihakan pemerintah.
Dengan panjang jalan sekitar 4 kilometer dan kecepatan pembangunan hanya 100–200 meter per tahun, warga dengan getir menghitung bahwa butuh waktu 20 hingga 40 tahun untuk menyelesaikan seluruh ruas. Itu pun jika tidak ada kerusakan ulang. Gang-gang kecil di dalam kampung yang juga rusak parah bahkan tidak pernah tersentuh pembangunan sama sekali.

“Kami ini bukan minta lebih, cuma minta adil. Jalan utama ini saja seperti dikasih sisa. Gang-gang kami apalagi, kayaknya sudah dihapus dari peta,” keluh salah satu warga. Kekecewaan warga kian menumpuk karena merasa terus-menerus dipinggirkan, padahal lokasinya sangat dekat dari pusat pemerintahan kabupaten.
Yang paling menyakitkan bagi warga adalah kenyataan bahwa perhatian dari pemerintah biasanya baru muncul saat mendekati pemilu. Saat suara rakyat dibutuhkan, janji pembangunan mengalir deras. Tapi ketika rakyat menjerit karena jalan rusak, mereka diminta bersabar, mengajukan proposal, lalu menunggu giliran yang tak kunjung datang.
Mereka juga mulai mempertanyakan keadilan dalam distribusi pembangunan. Jalan yang masih cukup layak justru diperbaiki lebih dulu karena berada di kawasan yang dianggap strategis secara politik. Sementara daerah-daerah seperti Parit Sembin dianggap bukan prioritas, karena tidak memberi keuntungan politik yang besar.
Pertanyaan pun mengemuka: apakah pembangunan di Kubu Raya berdasarkan peta kebutuhan atau peta suara? Apakah DPRD dan pemerintah benar-benar bekerja untuk rakyat atau hanya untuk menjaga loyalitas politik dan mempertahankan kekuasaan? Warga merasa suara mereka hanya dihargai saat kampanye, bukan dalam keseharian mereka yang penuh perjuangan.
Warga Parit Sembin kini tak lagi ingin janji. Mereka hanya menuntut satu hal: jalan yang layak untuk kehidupan yang lebih baik. Bukan untuk kenyamanan mewah, tetapi untuk mobilitas, keselamatan, dan masa depan anak-anak mereka. Karena kesabaran warga sudah terlalu lama dijadikan bahan kampanye—sementara jalan mereka tetap rusak di depan mata penguasa.
Sumber : handi warga setempat
Editor : Rahmad Maulana




