Ribuan Umat Kevikepan Mbay Gelar Aksi Damai Tolak Proyek Geothermal di Kantor Bupati dan DPRD Nagekeo

Nagekeo KPK-SIGAP.COM //– Ribuan umat Katolik dari Kevikepan Mbay menggelar aksi damai di depan Kantor Bupati dan DPRD Kabupaten Nagekeo pada Rabu (5/6), bertepatan dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Massa aksi menyuarakan penolakan terhadap rencana pembangunan proyek Geothermal (panas bumi) di wilayah Flores, khususnya di Kabupaten Nagekeo.
Aksi ini dipimpin oleh Koordinator Lapangan, Pater Marselinus Kabut, OFM, dan diisi dengan orasi-orasi moral dan ekologis oleh sejumlah tokoh Gereja, termasuk Romo Vikep RD. Aster Lado serta Suster Erna.
Dalam orasinya, Romo Vikep Aster Lado menegaskan bahwa rakyat Flores terpanggil untuk bertindak dalam menyelamatkan alam, terutama udara dan air, yang kini terancam akibat rencana eksploitasi panas bumi.
“Bukanlah pembangunan Geothermal yang cocok bagi Nagekeo atau pun Flores. Masih banyak opsi lain yang bisa dikembangkan. Pembangunan sejati adalah pembangunan yang menghidupkan, bukan yang mematikan,” tegas Romo Vikep.
Ia juga menyinggung dampak ekologis yang ditimbulkan oleh proyek ini, seperti pencemaran udara, potensi bencana ekologis yang tidak bisa dikendalikan, serta konflik horizontal di masyarakat adat. Romo Vikep menyayangkan minimnya informasi publik terkait proyek ini, yang dinilai melukai asas demokrasi dan partisipasi masyarakat.
“Gereja memiliki tanggung jawab moral dan sosial. Kami memohon kepada segenap pimpinan Kabupaten Nagekeo: jangan menandatangani surat penetapan proyek Geothermal. Jangan gadaikan Flores. Cabut penetapan Pulau Flores sebagai wilayah energi panas bumi,” lanjutnya.
Ia menegaskan bahwa jika proyek ini tetap dilanjutkan, maka Gereja bersama umat akan berdiri di barisan rakyat untuk menjaga bumi dan tanah air tercinta.
Suster Erna, dalam orasinya, menyuarakan keprihatinan terhadap kerusakan alam yang makin parah akibat ulah manusia. Ia menyoroti persoalan sampah dan pencemaran lingkungan sebagai krisis kemanusiaan.
 “Ini bukan sekadar isu lingkungan hidup. Ini krisis kemanusiaan. Kita hanya butuh keberanian dan keterbukaan hati. Menjaga bumi adalah tugas kita bersama sebagai umat manusia,” ungkapnya.
Suster Erna juga menyebutkan bahwa Indonesia menghasilkan lebih dari 60 ribu ton sampah setiap hari, yang mencemari lingkungan dan membunuh makhluk hidup lainnya. Ia mengajak semua pihak untuk mulai dari kesadaran kecil dalam menjaga kebersihan dan keindahan alam sekitar.
Aksi damai ini berlangsung tertib dan penuh semangat solidaritas ekologis. Para peserta membawa spanduk, poster, dan simbol-simbol ekologis sebagai bentuk cinta terhadap bumi Flores. Mereka menyerukan kepada pemerintah untuk lebih mendengar suara rakyat dan mempertimbangkan keberlanjutan lingkungan sebagai prioritas dalam pembangunan.
KPK SIGAP.COM- RED MAXX MARE

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *