Petani padi di wilayah irigasi Mbay, Kabupaten Nagekeo, sedang menghadapi krisis serius

Kpksigap.com – Mbay, NTT — // Petani padi di wilayah irigasi Mbay, Kabupaten Nagekeo, sedang menghadapi krisis serius. Mesin panen yang sangat dibutuhkan jumlahnya sangat terbatas. Akibatnya, proses panen tersendat hingga berminggu-minggu. Banyak padi rusak karena hujan atau roboh diterpa angin sebelum sempat dipanen.
Masalah ini menjadi perhatian banyak warga dan ramai dibahas di media sosial. Seorang pengguna Facebook bernama Bal Bevo menulis di grup Mbay Online:
“Mbay Nagekeo kewalahan mesin panen, berharap dengan mesin Dinas Pertanian tapi dorang kolo kase didalam macet, hancur moda jelas.”
𝗣𝗲𝘁𝗮𝗻 𝗠𝗲𝗻𝘂𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗠𝗲𝘀𝗶𝗻, 𝗣𝗮𝗱𝗶 𝗠𝗲𝗺𝗯𝘂𝘀𝘂𝗸
Emanuel Suarez, petani dari KM3 II Kanan, mengaku harus antre mesin panen selama berhari-hari.
“Kami tunggu sampai seminggu. Alat panen sangat kurang. Sementara padi sudah mulai rusak dan tumbang,” ujarnya.
Seorang petani lainnya menyebutkan, ada penyedia jasa panen yang justru memanfaatkan situasi.
“Waktu padi masih hijau, mereka rajin datang. Sekarang, saat dibutuhkan, mereka susah dihubungi. Kadang harga sewa juga dinaikkan seenaknya.”
𝗣𝗲𝘁𝗮𝗻𝗶 𝗞𝗲𝗰𝗶𝗹 𝗣𝗮𝗹𝗶𝗻𝗴 𝗧𝗲𝗿𝗱𝗮𝗺𝗽𝗮𝗸
Bagi petani kecil, panen tepat waktu sangat penting. Jika terlambat, hasil panen bisa menurun kualitasnya, bahkan rusak total. Banyak petani hanya bergantung pada satu atau dua musim tanam untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka.
Hamka, petani dari Aloripit, berharap pemerintah tidak tinggal diam.
“Jangan terus-terusan kasih traktor. Kami butuh mesin panen. Kami siap bayar sewanya, asal alatnya cukup dan harganya wajar. Itu juga bisa jadi pemasukan untuk daerah,” jelasnya.
𝗗𝗶𝗻𝗮𝘀 𝗣𝗲𝗿𝘁𝗮𝗻𝗶𝗮𝗻 𝗔𝗸𝘂𝗶 𝗞𝗲𝗸𝘂𝗿𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗔𝗹𝗮𝘁
Plt. Kepala Dinas Pertanian Nagekeo, Primus Nuwa, mengakui ketersediaan mesin panen sangat minim.
“Kami hanya punya tiga mesin panen. Dua rusak berat. Satu lagi sedang kami upayakan untuk diperbaiki,” katanya.
𝗛𝗮𝗿𝗮𝗽𝗮𝗻 𝗕𝗮𝗻𝘁𝘂𝗮𝗻 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗧𝗲𝗽𝗮𝘁 𝗦𝗮𝘀𝗮𝗿𝗮𝗻
Yohanes Paga, petani dari Kelurahan Towak, menegaskan bahwa bantuan dari pemerintah harus benar-benar menyentuh kebutuhan petani.
“Kalau bisa tambah 6 atau lebih mesin panen. Itu akan sangat membantu. Panen bisa lebih cepat, tenaga kerja lokal bisa terserap, dan pemerintah juga bisa dapat pemasukan dari sistem sewa,” katanya.
Petani Mbay kini sangat berharap adanya perhatian serius dari pemerintah, terutama dalam pengadaan mesin panen. Jika tidak segera diatasi, krisis ini bisa kembali terjadi di musim panen berikutnya.
Anyo Subiasy | kpksigap.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *