Kapuas yang Terluka Saat Sungai Menangis Hukum Membisu

Sungai Kapuas,kpksigap.com – dulu dikenal sebagai urat nadi kehidupan di Kalimantan Barat, kini seperti tubuh yang disayat-sayat tanpa ampun.

Di Semerangkai, sebuah titik di Kecamatan Kapuas, Kabupaten Sanggau, deru mesin tambang menggantikan suara riak air. Kapuas tak lagi mengalirkan kedamaian—yang ada hanya keruh, getir, dan luka yang dalam.

Sekitar sepuluh mesin dongfeng berdiri gagah di atas rakit-rakit besi. Mereka bukan hanya mengeruk emas, tapi juga mengikis harapan warga yang tinggal di sepanjang bantaran sungai. Mesin-mesin itu, disebut milik seorang berinisial PP alias IN, warga Sintang, telah beroperasi selama tiga bulan tanpa hambatan.

“Sudah lama mereka di sana. Kami hanya bisa melihat, pasrah,” kata NU, seorang warga, Jumat (4/4/2025). Suaranya nyaris tenggelam dalam kebisingan aktivitas tambang yang terus berjalan. Setiap hari, suara logam menghantam batu, seolah menjadi nyanyian kematian bagi sungai yang dulunya jernih.

Air sungai kini tak bisa diminum, tak bisa dimandikan, apalagi digunakan untuk kehidupan sehari-hari. Lumpur dan limbah merkuri mencemari aliran Kapuas, membuatnya semakin dangkal dan mematikan kehidupan biota air. Banjir pun menjadi lebih sering datang, membawa serta trauma yang tak kunjung surut.

“Infonya ada yang membackup aktivitas itu. Kami pun tak berani bicara banyak,” tambah NN, warga lainnya. Di balik aktivitas ilegal itu, warga mencium aroma kekuasaan—entah dari mana asalnya. Tapi cukup kuat untuk membuat hukum tertunduk dan berpura-pura tak tahu.

Kegiatan PETI ini jelas-jelas melanggar Undang-Undang Minerba. Tapi ironisnya, aparat penegak hukum belum sekalipun terlihat melakukan tindakan tegas. Seolah-olah, hukum hanya berlaku untuk mereka yang lemah, sementara yang punya ‘kendali’ bisa bebas mencabik bumi sesuka hati.

Janji penertiban pernah terdengar, tapi hanya sebatas angin lalu. Warga sudah terlalu sering berharap, lalu kecewa. Yang datang ke lapangan bukan solusi, melainkan tanya yang tak pernah dijawab. Hingga kini, Kapuas terus mengalir, membawa luka yang terus bertambah.

“Kalau terus dibiarkan, Sungai Kapuas bisa rusak total. Kami tak butuh janji lagi, kami ingin tindakan nyata,” tegas NU. Sebab bila sungai ini mati, bukan hanya lingkungan yang hancur—tapi juga masa depan ribuan nyawa yang hidup di sekitarnya.

Editor  : Rahmad Maulana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *