Tradisi bersih desa kembali digelar oleh warga Lingkungan Balapan, Kelurahan Sukorejo, Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar, Kamis (29/5) malam. Acara yang berlangsung khidmat ini diawali dengan ziarah ke makam sesepuh desa, Mbah Imam Sopingi, sosok yang diyakini sebagai pembuka dan pelopor awal berdirinya wilayah Balapan.
Tradisi ini telah menjadi agenda tahunan warga sebagai bentuk penghormatan dan pelestarian sejarah lokal (babad kelurahan). Dalam kegiatan tersebut, warga tak hanya mengirim doa untuk leluhur, namun juga menggelar khataman Al-Qur’an yang kemudian dilanjutkan dengan pengajian akbar oleh Kyai H. Imam Ghozali dari Sanankulon, Blitar.
Acara dimulai pukul 19.00 WIB hingga selesai, dengan dihadiri oleh Lurah Sukorejo Mastur Hudi, tokoh agama, tokoh masyarakat, perangkat kelurahan, serta warga lingkungan Balapan yang memadati area acara dengan penuh kekhidmatan.
Lurah Sukorejo Mastur Hudi menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh warga yang telah menjaga dan merawat tradisi ini dari generasi ke generasi.
“Ziarah ini bukan hanya mengenang sosok Mbah Imam Sopingi, tapi juga momentum memperkuat persaudaraan warga dan rasa syukur kita atas warisan nilai-nilai luhur yang beliau tanamkan,” ujar Lurah Mastur Hudi.
“Saya juga mengucapkan terima kasih kepada juru kunci makam yang setia menjaga situs sejarah ini dan kepada seluruh warga yang telah bergotong royong demi suksesnya kegiatan malam ini,” tambahnya.
Lebih lanjut, Lurah Sukorejo juga menegaskan komitmennya dalam mendukung pelestarian seni dan budaya Jawa di tengah masyarakat yang kian modern.
“Tradisi seperti ini adalah bagian dari nguri-uri budaya Jawa yang sarat dengan nilai-nilai etika luhur. Kita harus terus menjaga dan mewariskannya kepada anak cucu agar tidak hilang ditelan zaman,” ucapnya.
“Seni dan budaya Jawa itu bukan hanya hiburan, tapi cerminan karakter masyarakat kita—yang santun, guyub, dan menjunjung adab,” imbuhnya.
Sementara itu, dalam ceramahnya, Kyai H. Imam Ghozali menekankan pentingnya menjaga tradisi dan menghargai jasa para leluhur sebagai bagian dari ketaatan spiritual dan sosial.
“Ziarah ini bukan bentuk penyembahan, tapi bentuk penghormatan dan pelajaran. Kita diajarkan untuk mengenang jasa orang-orang terdahulu yang telah membuka jalan bagi kita,” jelas Kyai Ghozali.
“Melalui kegiatan seperti ini, mari kita jaga silaturahmi, kebersamaan, dan nilai-nilai Islam yang sejuk dan membawa kedamaian,” ungkapnya.
Acara berjalan lancar dan penuh kekhusyukan hingga selesai. Warga berharap tradisi ini terus dijaga dan diwariskan kepada generasi muda sebagai bentuk pelestarian sejarah, budaya, dan identitas kultural Kelurahan Sukorejo.
KPK SIGAP INVESTIGASI JATIM BANYUWANGI Sumut – Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mendampingi Presiden Prabowo Subianto meninjau langsung lokasi pengungsian korban banjir di Tapanuli […]
KPK SIGAP INVESTIGASI JATIM BANYUWANGI Tegalsari – Tim KKN-PPM UGM Semerbak Banyuwangi melaksanakan program kerja bertajuk “EcoPrint Kids: Akar Alam dari Tangan Kecil” di […]
KPK SIGAP INVESTIGASI JATIM BANYUWANGI Rumah milik pegawai PLN Cabang Kantor Muncar, Latif Hamdani, 44, di Dusun Sumberkepuh, Desa Kedungwungu, Kecamatan Tegaldlimo terbakar pada hari […]