KPK SIGAP INVESTIGASI JATIM BANYUWANGI
BANYUWANGI – Persiapan menyambut Hari Lahir (Harlah) ke-56 Pondok Pesantren Mansya’ul Huda sekaligus menyongsong Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah memasuki babak akhir. Agenda besar berupa Dzikir Nasional tersebut dimatangkan dalam pertemuan hangat antara Mursyidul A’am Jama’ah Dzikir Nurul Wathon, KH. Fathulloh Suyuti Thoha, dan Ketua Umum DPP, Prof. Dr. Drs. Teguh Sumarno, M.M., pada Sabtu malam (13/6).
Acara religius ini dijadwalkan berlangsung pada Selasa, 16 Juni 2026, pukul 13.00 WIB, bertempat di halaman Ponpes Mansya’ul Huda, Desa Kedungwungu, Kecamatan Tegaldlimo, Banyuwangi.
Poin Penting Rencana Kegiatan:
Sinergi Lintas Elemen: Kedua tokoh menekankan pentingnya kolaborasi antara panitia, pemerintah, aparat keamanan, dan masyarakat demi kelancaran acara.
Ribuan Jamaah Diprediksi Hadir: Acara ini akan menjadi ruang silaturahmi akbar bagi para ulama, kiai, habaib, tokoh masyarakat, santri, hingga jamaah dari berbagai penjuru daerah.
Rangkaian Acara Menarik: Dimulai dengan penampilan hadrah, dilanjutkan paduan suara kolaborasi TNI-Polri yang akan membawakan lagu-lagu nasionalis-religius seperti Mars Nurul Wathon, lagu Buya Hamka, dan Yalal Wathon.
Ikhtiar Spiritual untuk Bangsa: Inti acara diisi dengan Istighotsah Akbar dan Dzikir Nasional demi keselamatan NKRI, serta doa khusus untuk Presiden RI Prabowo Subianto beserta jajaran pemimpin bangsa.
Penguatan Organisasi di Tingkat Nasional
Selain membahas teknis acara, Prof. Teguh Sumarno yang juga menjabat sebagai Ketua Umum PB-PGRI memanfaatkan momentum ini untuk mengonsolidasikan organisasi. Ia memaparkan perkembangan penguatan struktur kepengurusan Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Nurul Wathon di beberapa daerah strategis seperti Jawa Timur, Bali, Kalimantan Timur, dan Sulawesi.
“Dzikir Nasional ini adalah momentum strategis untuk memperkokoh ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah wathaniyah. Kami berharap masyarakat bisa hadir dan memetik manfaat spiritualnya,” ujar Prof. Teguh.
Melalui persiapan yang matang, agenda ini diharapkan tidak sekadar menjadi seremonial tahunan, melainkan mampu menyebarkan energi positif, mempererat persatuan, sekaligus menegaskan peran pesantren sebagai benteng penjaga nilai keagamaan dan kebangsaan di Indonesia. Sumber berita: (Red Kurnia Tim Media Kpk Sigap)



