Pembakaran 1000 Lilin: Mengenang September Kelam, Turut Hadir Anggota DPRD Kota Baubau dalam Doa Bersama
Kpksigap.com – Baubau, 1 Oktober 2025 – Dalam suasana penuh khidmat dan keheningan, Puluhan Mahasiswa Cipayung Plus Kota Baubau dan elemen masyarakat berkumpul di halaman Kampus UMButon pada malam 30/9/25 untuk mengikuti acara Pembakaran 1000 Lilin dalam rangka mengenang September Kelam—sebuah peristiwa sejarah yang masih meninggalkan luka dan pertanyaan di hati bangsa.
Acara ini diselenggarakan oleh Cipayung Plus Kota Baubau sebagai bentuk penghormatan kepada para pejuang dan korban, dalam upaya untuk menjaga ingatan kolektif terhadap pelanggaran hak asasi manusia yang pernah terjadi di masa lalu. Acara ini juga menjadi wadah refleksi dan edukasi publik, yang diisi dengan orasi ilmiah, doa lintas iman, pembacaan puisi, dan penyalaan seribu lilin secara simbolis.
Turut hadir dalam acara tersebut, Ardiansyah Farmin S.T, selaku Wakil Ketua DPRD Kota Baubau yang memberikan orasi ilmiah bertajuk “Sejarah, Kemanusiaan, dan Tanggung Jawab Generasi Muda”. Dalam orasinya, beliau menekankan pentingnya keterbukaan sejarah dan perlunya keberanian untuk belajar dari masa lalu agar tidak mengulang luka yang sama.
“Peristiwa September Kelam bukan hanya soal masa lalu, tapi juga tentang masa depan. Jika kita gagal mengingat, maka kita gagal melindungi kemanusiaan,” tegasnya di tengah suasana yang hening dan penuh empati.
Beliau juga mengajak mahasiswa dan masyarakat, khususnya generasi muda, untuk aktif mempelajari sejarah dengan pendekatan kritis dan ilmiah, sebagai bagian dari tanggung jawab moral dan intelektual dalam menjaga nilai-nilai keadilan, demokrasi, dan kemanusiaan.
Setelah penyampaian orasi ilmiah, acara dilanjutkan dengan doa bersama lintas iman yang dipimpin oleh perwakilan dari IMM Doa-doa tersebut mengalun menyuarakan harapan untuk perdamaian, penyembuhan luka sejarah, dan penguatan solidaritas antarumat manusia.
Cahaya lilin yang dinyalakan serentak oleh seluruh peserta menambah nuansa haru dan mendalam. Lilin-lilin tersebut membentuk simbol perdamaian di tengah lapangan, menyiratkan bahwa meskipun kegelapan pernah melingkupi sejarah, cahaya harapan dan keadilan tetap bisa dinyalakan bersama.
Melawan Lupa, Menolak Diam
Sebagai penutup, perwakilan Cipayung Plus Kota Baubau menyampaikan pernyataan sikap moral, mendesak pemerintah untuk membuka akses terhadap kebenaran sejarah dan menuntaskan berbagai kasus pelanggaran HAM yang hingga kini belum mendapatkan penyelesaian yang adil dan transparan.
“Malam ini bukan hanya tentang mengenang, tapi tentang menolak lupa. Kita hadir sebagai saksi sejarah dan penjaga nurani bangsa,” ujar salah satu orator muda dari kalangan mahasiswa.
Acara Pembakaran 1000 Lilin ini diharapkan menjadi ruang perenungan bersama bahwa kemanusiaan harus selalu dijaga dan diperjuangkan—dengan ingatan, keberanian, dan solidaritas.
Reporter La Ode
Editor Mursyidi




