kpksigap.com Tasikmalaya – Ciamis, Hari Sabtu 25 April 2026.
Jembatan Cirahong yang menghubungkan Ciamis dan Tasikmalaya memang memiliki daya tarik mistis dan sejarah yang sangat kuat di masyarakat Sunda. Istilah “ngarajah” atau melakukan ritual rajah di sana biasanya berkaitan dengan bentuk penghormatan terhadap sejarah dan sisi spiritual jembatan tersebut.
Berikut adalah beberapa hal yang melatarbelakangi ritual atau sisi mistis di Jembatan Cirahong:
1. Penghormatan kepada Eyang Rahong
Menurut kepercayaan lokal, nama Cirahong berasal dari sosok penjaga gaib yang dikenal sebagai Eyang Rahong. Ritual rajah atau do’a-do’a sering dilakukan sebagai bentuk “amit-parun” (izin lewat) agar diberikan keselamatan, terutama bagi mereka yang memiliki kepekaan batin tertentu atau sedang mengadakan acara di sekitar sana.
2. Legenda Tumbal Pengantin
Cerita yang sangat melegenda di masyarakat adalah tentang sepasang pengantin yang konon dijadikan tumbal saat pembangunan jembatan oleh Belanda pada tahun 1893. Rajah sering dipanjatkan untuk mendo’akan arwah-arwah yang dipercaya masih menghuni jembatan tersebut agar tetap tenang dan tidak mengganggu para pengguna jalan.
3. Fenomena Suara Gamelan
Banyak warga atau pemancing di Sungai Citanduy yang mengaku pernah mendengar suara gamelan dari bawah jembatan pada malam-malam tertentu. Dalam budaya lokal, rajah berfungsi sebagai pagar diri atau komunikasi spiritual agar manusia dan makhluk tak kasat mata bisa hidup berdampingan tanpa saling mengusik.
4. Tradisi “Rumat Sasak” (Merawat Jembatan)
Selain sisi mistis, ada juga gerakan budaya bernama Rumat Sasak Cirahong. Di sini, ngarajah dilakukan sebagai bagian dari seni pertunjukan dan do’a bersama.
Tujuannya adalah untuk mengingatkan masyarakat agar menjaga warisan sejarah ini (konservasi), sekaligus melestarikan adat Sunda dalam bentuk rajah pamunah atau rajah panyinglar (tolak bala).
Secara garis besar, ngarajah di Jembatan Cirahong adalah bentuk kearifan lokal untuk menghargai tempat yang dianggap sakral, menjaga keselamatan, dan melestarikan budaya luhur masyarakat Jawa Barat.
Reporter: M. Rahmat
Editor Mursyidi




