*MEMPERINGATI HARI ASYURA, MENGISTIMEWAKAN HARI ASYURA DAN REFLEKSI INTROSPEKSI DIRI*
OPINI : ROSDIANA HADI.S.Sos
Wartawan KPK sigap biro Makassar
Hari Asyura atau Asyura adalah salah satu hari yang dimuliakan dalam tradisi Islam. Secara bahasa Asyura berarti hari yang kesepuluh. Maksudnya adalah hari kesepuluh di bulan Muharram. Beberapa ahli bahasa berpendapat bahwa kata Asyura adalah serapan dari bahasa Ibrani “Asyur” yang kemudian di-Arab-kan.
Dua arus besar Islam, yaitu Sunni dan Syiah, sama-sama mempunyai tradisi peringatan Asyura. Namun, keduanya saling berbeda dalam cara memperingati hari tersebut.
Islam Sunni memperingati Asyura karena meyakini hari tersebut adalah hari kemenangan. Dalam kitab I’anatut Thalibin, seorang ulama besar Madzhab Syafi’i dari kalangan dzuriat Nabi bernama Sayyid Bakri Syatha mencatat sejumlah “kemenangan” yang dicapai para nabi pada hari Asyura. Diantaranya, Nabi Ibrahim selamat dari api Namrudz, Nabi Musa selamat dari pengejaran Fir’aun, dan kemenangan-kemenangan lainnya. Kendati demikian, Imam Ibnu Jauzi dalam kitab Al-Maudhu’aat, bab fi dzikri Asyura’ mengatakan bahwa sebagian ulama mengatakan kisah-kisah keutamaan Asyura adalah mawdhu’ (dibuat-buat).
Sementara, dalam tradisi Syi’ah, Asyura diperingati sebagai simbol kezaliman penguasa terhadap keluarga Rasulullah shalallahu alaihi wa aalih wa sallam. Hal ini terkait dengan peristiwa pembantaian tentara Yazid bin Mu’awiyah terhadap Sayyidina Husein, putera kedua Sayyidatina Fathimah di Padang Karbala.
Di Banua, Islam Sunni dan Islam Syiah juga sama-sama memperingati Asyura. Umat Islam Sunni, umumnya memperingati dengan puasa dan memasak bubur yang disebut dengan Bubur Asyura. Bubur ini kemudian dibagikan secara gratis. Mereka juga bersedekah kepada anak yatim, dan menghibur mereka.
Islam Syi’ah mengadakan peringatan dengan mengenang peristiwa pembantaian Sayyidina Husein dan keluarga serta pengikutnya. Mereka mengadakan “Majlis Duka” dengan membaca puisi-puisi ratapan, serta memotivasi umat Islam agar senantiasa melawan kezaliman dan mencintai keluarga Nabi. Sebagian dari mereka mengamalkan “puasa” atau menahan diri dari makan dan minum hingga kisaran waktu Ashar atau sebelum matahari tenggelam.
Sebagai mayoritas, tentu saja peringatan ala Sunni yang lebih dominan mewarnai tradisi Asyura di Banua. Namun ini juga tidak menyurutkan langkah kalangan Syi’ah yang walau minoritas namun sebagian besar pengikutnya adalah para habaib, untuk mengadakan peringatan ala Syi’ah. Biasanya kalangan Syi’ah mengadakan peringatan di gedung atau tempat pertemuan yang muat menampung banyak orang.
Terlepas dari perbedaan dalam tradisi peringatan Asyura, umat Islam sama-sama meyakini bahwa hari kesepuluh bulan Muharram ini sebagai hari yang berbeda dengan hari-hari lainnya dalam penanggalan Hijriyah.
Umat Islam juga bersepakat bahwa hari ini adalah simbol perseteruan antara kezaliman versus keadilan. Baik yang terjadi antara Namrudz versus Nabi Ibrahim, Fir’aun versus Nabi Musa, maupun Yazid bin Muawiyah versus Sayyidina Husein.
Sebenarnya, kalau kita mau jujur, dalam tradisi Sunni tidak ada riwayat yang kuat mengenai bentuk peringatan Asyura, selain dari puasa sunnah.
Seorang ulama besar Madzhab Syafi’i, Al Allamah Al Ajhuri, sebagaimana dikutip Sayyid Bakri Syatho dalam kitab I’anatuth Thalibin mengatakan: Sungguh aku telah bertanya sebagian imam hadits dan fiqh mengenai bercelak, memasak biji-bijian, memakai pakaian baru, menampakkan kegembiraan, beliau menjawab: Dalam hal-hal tersebut tidak diriwayatkan hadits yang shahih dari Nabi shallallaahu alaihi wasallam, dan juga tidak dari para shahabat, dan juga tidak ada satupun imam-imam muslimin yang menyunnahkannya.
Bahkan berhias dan menampakkan kegembiraan di hari Asyura termasuk perbuatan yang dicela para ulama. Sebagian ulama pengikut madzhab Hanafi berkata, sesungguhnya bercelak pada hari Asyura, karena menjadi tanda kebencian kepada Alul Bait (Keluarga Nabi) maka wajib ditinggalkan.
Walhasil, kata Imam Al-Ajhuri sebagaimana dikutip Sayyid Bakri Syatha, apa yang diriwayatkan berupa amalan sepuluh macam pada hari Asyura tidak ada yang shahih kecuali hadits berpuasa dan memberi kelonggaran atas keluarga.
Karenanya, sepatutnya kita memposisikan Hari Asyura sebagaimana seharusnya. Tidak berlebihan dalam memperingatinya hingga keluar dari ajaran syariat Islam, namun juga tidak mengabaikan sama sekali dengan menganggap hari tersebut sama seperti hari lainnya.
Asyura kita peringati sebagai simbol perlawanan terhadap kezaliman. Sebagai simbol ketundukan kita pada ajaran agama, meski dalam kondisi terjepit dan di bawah tekanan orang-orang yang berkuasa. Kita berpuasa sebagaimana dicontohkan oleh Baginda Rasulullah shalallahu alaihi wa aalih wa sallam, kita juga memberi kelonggaran baik dalam sikap ataupun dalam uang belanja kepada keluarga kita.
Semoga menjadi pahala amal jariyah untuk semua
*Sekelumit Puisi Hari Asyura10 Muharram*
Memperingati Hari Asyura Berpuasalah Yang Bertepatan 10 Muharram
Berpuasalah dengan tawadhu
Di hari sepuluh, bulan pertama,
Langit dan bumi bersatu berdoa.
Asyura, nama yang penuh makna,
Dari bahasa ‘asyara’ artinya sepuluh,
Hari yang menjadi saksi rahmat dan ampunan.
Dahulu, Adam terjatuh dari surga,
Bukan karena durhaka, tapi rindu
yang membara.
Tangannya gemetar,
bukan murka yang
ditakuti,
Melainkan rindu
pada kasih Ilahi.
Dalam debu dan air mata, dia bersujud,
Memohon ampunan yang luas dan kudus.
Hari itu meski belum disebut Muharram,
dikenal sebagai Asyura,
Tanda bahwa Allah
Maha Pengampun.
Di padang Karbala,
darah mengalir,
Imam Husain teguh melawan tirani,
Mewariskan keberanian,
keadilan, dan cinta,
Simbol abadi dalam setiap jiwa yang berharap.
Di masa itu Musa terbebas,
Laut terbelah menyelamatkan umat-Nya.
Kini kita puasa dengan penuh syukur,
Menghapus dosa dan menyambut rahmat.
Asyura bukan sekadar hari sepuluh,
Tapi pelajaran tentang taubat, pengorbanan, dan setia.
Mengajarkan kita kembali pada fitrah,
Menjadi hamba yang selalu dekat pada cinta.
Kita menatap masa depan dengan harap,
Membawa pelajaran sejarah yang tak pernah pudar,
Menempa jiwa dalam doa dan pengorbanan,
Agar cinta pada Allah selalu menjadi penuntun.
Puasa Asyura, amalan mulia nan agung,
Menghapus dosa setahun, menggapai rahmat dan ampunan,
Mengajak kita kembali pada fitrah suci,
Menjadi hamba yang selalu dekat pada Ilahi.
*Introfeksi diri cerminan kesadaran diri untuk lebih baik lagi*
Selamat memperingati 10 Muharram, Hari Asyura
Hari penuh berkah ini mengingatkan kita akan pentingnya kesabaran, keteguhan, dan pengorbanan dalam menjalani kehidupan.
Semoga momentum Asyura menjadi titik awal untuk meningkatkan kualitas ibadah kita, memperkuat keimanan, serta mendekatkan diri kepada Allah SWT
Mari kita manfaatkan hari yang mulia ini untuk memperbanyak dzikir, doa, dan amal shaleh, introspeksi diri kita sendiri untuk lebih baik lagi ke depannya, sehingga hidup kita senantiasa diberkahi dan diridhoi-Nya.
آمين يااللّه يارب العالمين



