Noemuti, TTU – kpksigap.com
Mama Sirih atau menyirih sudah menjadi tradisi di kalangan masyakat Timor Nusa Tenggara Timur. Mirisnya, budidaya tanaman sirih belum mendapat perhatian serius untuk melestarikannya. Selain tanaman tradisi, hasil budidaya Sirih sungguh menjanjikan.
Melihat peluang itu Lambertus Bifel ( 58), warga kampung tua Kote desa Noemuti Kecamatan Noemuti, Kabupaten Timor Tengah Utara menyulap pekarangan rumah seluas 1200 meter persegi dengan membudidayakan tanaman sirih serta aneka tanaman lainnya.
Nampak ketika memasuki halaman rumahnya yang berdampingan dengan Gereja Noemuti Kote, pengunjung akan disuguhkan dengan pemandangan hijau, asri, asri dan enak dipandang.
Ada aneka tanaman seperti cendana, cemara India, nangka, sirsak, mahoni, bambu, surya, advokad. Selain itu ada tanaman bumbu seperti jahe, pala, lengkuas, sereh, dan kunyit.Juga sejumlah polibag anakan sirih.
“Sirih dipilih sebagai tanaman yang dibudidayakan karena memiliki nilai budaya dan ekonomi yang tinggi di wilayah Kecamatan Noemuti. Dalam budaya Timor Sirih bukan sekedar tanaman tapi juga simbol persaudaraan, penghormatan dan penerimaan tamu, ” ujar Lambert kepada wartawan kpksigap.com Selasa ( 14/01/2025).
Kebiasaan mama Sirih atau Menyirih kata Lambert lebih lanjut merupakan bagian penting dari kehidupan masyarakat orang Noemuti khususnya atau Atoin Pah Timor umumnya. Karena Sirih digunakan dalam berbagai upacara adat seperti pernikahan, perdamaian, penyambutan tamu dan menjadikannya sebagai kebutuhan yang selalu dicari.
Teruskan Warisan Orang Tua
Ketika Lambert resign sebagai Distributor Buku Pelajaran untuk Indonesia Timur JP Books Surabaya ( Temperina) Jawa Timur tahun 2015 saya kembali menempati rumah tua bapa dan mama di Noemuti Kote karena kedua orang tua sudah meninggal dunia.
“Usaha budidaya tanaman Sirih ini saya teruskan warisan orang tua sebelumnya dimana mereka masih menanam secara tradisional. Kemudian saya kembangkan dengan anakan di polibeg untuk memenuhi pesanan. Sedangkan diluar pesanan saya siapkan stock daun sirih untuk jual baik dalam jumlah sedikit maupun besar, ” ungkap anak ke 6 dari 12 bersaudara dari Pasutri Matias Bifel dan Yoakina Osi Muki ini.
Dikatakan, saat musim hujan banyak permintaan anakan Sirih di polibeg untuk tanam. Sedangkan pada bulan Juli-November orang berbondong-bondong datang untuk membeli daun sirih dan buahnya untuk keperluan konsumsi sendiri maupun disuguhkan kepada tamu atau ada hajatan.
“Setiap hari pada musim panas saya bisa raup uang Rp 25 ribu. Sementara sebulan bisa mendapatkan uang Rp 750 ribu bahkan lebih. Kalau ada orang meninggal saya jual per karung Rp 100 ribu, ” jelas Lambert.
Tambah Lambert lagi, hasil budidaya tanaman Sirih untuk memenuhi kebutuhan pembeli di tiga desa yakni desa Noemuti, Banfanu dan Kiuola.
Kepada orang muda Noemuti Lambert berpesan agar memanfaatkan pekarangan atau lahan kosong untuk ditanam dengan tanaman produktif.
“Jangan hanya mau menikmati warisan orang tua tapi rajin bercocok tanam. Lahan kosong yang ada jangan dibiarkan ditumbuhi semak belukar tapi tanam dengan tanaman produktif, “pinta Lambert.
Sementara Hendrikus Kou Warga Desa Bijeli Kecamatan Noemuti mengapresiasi usaha budidaya tanaman Sirih yang telah dilakukan Lambertus Bifel.
Menurut Hendrik, hasil budidaya tanaman Sirih telah memberikan kontribusi kepada masyarakat didalam memenuhi kebutuhannya. Dengan menjual daun sirih salah satu usaha untuk memperoleh uang tambahan untuk menunjang kehidupan ekonomi keluarga.
“Tradisi orang Timor atau Dawan ketika orang bertamu yang pertama disuguhkan adalah Sirih pinang. Ini sebuah etika dari tuan rumah menghargai tamu sekaligus mengikat tali kekeluargaan,” kata Hendrik.
KPK SIGAP- Yuven Fernandez




