Kubu raya,kpksigap.com – Kalimantan barat Di saat malam datang dan kebanyakan orang bersiap beristirahat, warga Gg. Mawar RT 03 RW 014, Desa Parit Baru, Kecamatan Sungai Raya, justru berkumpul untuk bergotong royong.
Di bawah sorotan lampu seadanya, mereka mencampur semen, mengangkat pasir, dan memperbaiki jalan lingkungan yang sudah lama rusak. Bukan proyek dari pemerintah, melainkan murni hasil swadaya dan tekad kolektif warga yang sudah muak menunggu janji.

Jalan rusak yang becek saat hujan dan berdebu kala kemarau ini hanya berjarak beberapa kilometer dari pusat pemerintahan Kabupaten Kubu Raya. Namun entah mengapa, pembangunan seperti tak pernah menyapa kawasan padat penduduk ini. “Kami gotong royong malam hari karena siang kerja. Semua dari kantong sendiri, tidak ada bantuan pemerintah,” ungkap Pak Hendra, warga yang ikut ambil bagian.
Lebih dari sekadar proyek perbaikan, aksi ini adalah simbol dari kekecewaan dan frustrasi. Bertahun-tahun keluhan telah diajukan ke instansi terkait, namun hasilnya selalu nihil. Pemerintah desa dan kabupaten seolah menutup mata, membiarkan warga terperosok dalam lumpur ketidakpedulian. “Kalau hanya mengandalkan janji, kami tidak akan maju,” tegas seorang tokoh masyarakat setempat.
Yang membuat luka semakin dalam, gang-gang lain yang dianggap lebih “strategis” kerap mendapat perhatian dan alokasi dana. Sementara Gg. Mawar—dengan segala vitalitasnya—terasa seperti anak tiri di tanah sendiri. “Kami juga warga negara. Kami juga bayar pajak. Tapi kenapa kami harus membangun jalan sendiri?” tanya Bu Nur dengan nada getir.
Jalan ini bukan sekadar akses, tapi nadi kehidupan warga. Anak-anak harus melewatinya menuju sekolah, pedagang kecil mengandalkannya untuk berdagang, dan lansia menggunakannya untuk beraktivitas. Jalan rusak bukan hanya menyulitkan, tapi juga membahayakan. Namun hingga kini, belum ada tanda-tanda kepedulian dari pemangku kebijakan.
Sementara itu, spanduk pembangunan pemerintah berjejer megah di jalan-jalan utama: penuh janji, penuh klaim keberhasilan. Namun bagi warga Gg. Mawar, pembangunan nyata bukan soal baliho dan pidato, tapi soal hadir atau tidaknya negara dalam kehidupan sehari-hari. Di gang kecil inilah, warga belajar bahwa perubahan tidak datang dari atas, tapi dari kesadaran kolektif di bawah.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak Desa Parit Baru maupun Kecamatan Sungai Raya. Namun satu hal pasti: meski minim dukungan, warga Gg. Mawar telah membuktikan bahwa solidaritas bisa menjadi jalan. Dalam gelapnya malam dan diamnya pemerintah, rakyat tetap mampu menyalakan terang—dengan tangan sendiri.
Sumber : Hendra
Editor : Rahmad Maulana



