Guncang Jetun Silangit! 700 Orang Lintas Agama Bersatu: “Tutup TPL Permanen atau Alam Terus Melawan!”
Tapanuli utara, (sumut) kpksigap.com – Sebuah gelombang perlawanan tak biasa pecah di Jetun Silangit. Bukan dengan senjata, melainkan dengan doa dan tekad baja. Sekitar 700 orang dari berbagai latar belakang—mulai dari tokoh lintas iman, aktivis, akademisi, hingga keluarga penyintas bencana—berkumpul dalam satu barisan: Sekretariat Bersama (Sekber) Gerakan Oikumenis untuk Keadilan Ekologis.
Ini bukan sekadar perayaan Bona Taon biasa. Ini adalah “Alarm Kematian” bagi para perusak lingkungan di Sumatra Utara.
Satu Keluarga, Satu Luka: Saat Lintas Iman Tak Lagi Bersekat
Pemandangan langka terlihat ketika umat Kristen dari berbagai sinode bersalaman erat dengan umat Muslim dari Tapanuli Selatan. Mereka tidak bicara soal perbedaan dogma, melainkan soal tanah yang longsor dan air yang meluap.
”Perjuangan ini bukan milik satu agama. Kita adalah satu keluarga kemanusiaan yang sama-sama terluka oleh keserakahan,” ungkap salah satu peserta di tengah suasana haru.
Tamparan Keras dari Para Pemimpin Gereja
Kehadiran para pucuk pimpinan gereja—Ephorus HKI, Ephorus GKPS, Ephorus HKBP, dan Sekjen GKPI—memberikan pesan yang menggelegar. Mereka menegaskan bahwa bencana di Tapanuli bukan sekadar “takdir Tuhan,” melainkan buah busuk dari eksploitasi dan pengabaian kearifan lokal.
Para pemimpin ini menyerukan “Pertobatan Ekologis”. Pesannya jelas: Iman tanpa tindakan adalah mati. Berdoa tanpa menjaga hutan adalah kemunafikan.
Gong Perlawanan: “Tutup TPL Secara Permanen!”
Puncak ketegangan terjadi saat Pastor Walden Sitanggang dari Sekber berdiri dan menyuarakan tuntutan yang selama ini dianggap tabu oleh sebagian pihak: Tutup PT Toba Pulp Lestari (TPL) secara permanen!
Seruan ini disambut gemuruh peserta. Bagi mereka, penutupan TPL bukan sekadar urusan ekonomi, melainkan soal harga diri, hak masyarakat adat, dan keselamatan generasi mendatang. Sekber menegaskan empat poin tuntutan mutlak:
Penutupan permanen TPL.
Pemulihan total kerusakan lingkungan.
Ganti rugi yang adil bagi rakyat.
Perlindungan mutlak bagi masyarakat adat.
Simbol Perlawanan Nasional
Gerakan dari Silangit ini diprediksi akan menjadi api pemantik bagi daerah lain di Indonesia. Ketika iman, nurani, dan ilmu pengetahuan bersatu, tembok kekuasaan sebesar apa pun diyakini akan goyah.
”Keadilan bagi manusia dan alam bukan pilihan, tapi kewajiban!” pungkas Pastor Walden.
Reporter (Once JHG)
Editor Mursyidi




