Digerus Sampai Habis: Sungai Bedono Telan Rumah, Makam, dan Harapan Warga Tepus Wetan

 

Purworejo — KPKsigap.com, Bencana yang terjadi di Desa Tepus Wetan, Kecamatan Kutoarjo, seharusnya sudah lama masuk kategori darurat. Namun yang terjadi justru sebaliknya: abrasi Sungai Bedono dibiarkan menggerus tanah, rumah, bahkan makam, seolah kehilangan tak punya arti.

Di sepanjang RW 01 hingga RW 04, pemandangan yang tersisa bukan lagi permukiman, melainkan luka yang terus melebar. Tanah amblas sedikit demi sedikit, rumah warga hilang tanpa sisa. Bukan rusak, bukan retak—tetapi benar-benar lenyap ditelan arus.

Sedikitnya empat rumah sudah hilang. Beberapa lainnya menunggu giliran. Bahkan makam warga pun tak luput, tersapu begitu saja, menghapus jejak dan sejarah yang seharusnya dijaga.

Di tengah kondisi itu, warga hanya bisa bertahan dengan rasa cemas yang tak kunjung reda.

Wahyuningsih, warga RT 02/RW 03, menyaksikan sendiri bagaimana tempat usahanya perlahan menuju kehancuran.

“Tempat usaha saya hampir hilang karena tanah terus terkikis arus sungai,” ujarnya, Sabtu (18/4/2026), dengan nada yang tak lagi sekadar khawatir—melainkan putus asa.

Kisah yang lebih menyayat datang dari Mbah Ngadisi (76). Bagi dirinya, abrasi bukan sekadar ancaman, tapi kenyataan pahit yang sudah berulang.

“Sudah dua kali rumah saya hilang. Tahun 1981, lalu 1985 hanyut lagi. Tidak ada bantuan sama sekali,” tuturnya lirih.

Ironisnya, penderitaan itu masih ditambah beban administratif yang terasa tak masuk akal. Tanah yang sudah berubah menjadi aliran sungai, tetap tercatat sebagai objek pajak.

“Tanah sudah hilang, tapi SPPT tetap kami bayar,” keluhnya.

Abrasi Sungai Bedono bukan kejadian baru. Ini bukan bencana mendadak, bukan pula fenomena sesaat. Ini adalah kerusakan yang terjadi bertahun-tahun—perlahan, pasti, dan terus diabaikan.

Pertanyaannya sederhana: sampai kapan?

Jika tidak ada langkah nyata, bukan tidak mungkin Desa Tepus Wetan benar-benar akan hilang dari peta. Bukan karena alam semata, tetapi karena pembiaran yang terlalu lama.

Dan ketika itu terjadi, yang tersisa bukan hanya sungai yang melebar—tetapi juga catatan panjang tentang bagaimana jeritan warga kalah oleh diamnya para pengambil kebijakan.

Edvin Riswanto

Editor Mursyidi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *