Di Duga Salah Satu Pegawai BNPB Bersinergi Dengan Oknum Pegawai BPBD Acèh Timur Persulit Kinerja Relawan (Pewarta Pers)
Acèh timur,Idi rayeuk KPK sigap; Kegiatan pendataan rumah korban banjir di Acèh umumnya,terkhusus di Acèh timur yang sudah berjalan selama tujuh(7)hari semenjak Rabu tanggal 21 s/d 27 Januari oleh pihak Badan Nasional Penanggulangan Bencana BNPB/BPBD Badan Penanggulangan Bencana Daerah ACÈH timur dengan merekrut sejumlah relawan dari unsur mahasiswa dan insan Pers yang berdomisili di Acèh timur.
BNPB Bersinergi BPBD merekrut 220 mahasiswa asal Aceh Timur untuk menjadi tim verifikasi data kerusakan rumah Pasca hidrotologi di beberapa Kecamatan dalam Kabupaten Aceh Timur.
Mahasiswa-mahasiswi ini berasal dari 11 perguruan tinggi dan sekolah tinggi di Aceh, sebagian diantaranya Universitas Malikussaleh (Unimal), Universitas Syiah Kuala (USK)Abuliyatama (UNAYA),dan IAIN Langsa.
Mereka dipilih untuk melakukan validasi data kerusakan rumah di lapangan,agar penyaluran bantuan perbaikan rumah dapat tepat sasaran.BNPB berharap proses administrasi hingga tahap rekonstruksi pasca bencana di Aceh Timur dapat berjalan lebih cepat, transparan, dan akuntabel.
Dari insan juga ikut bagian dalam proses pendataan tersebut, sekitar ± 34 orang awak media tergabung sebagai relawan membantu BNPB/BPBD Acèh timur dengan membentuk Korlap di setiap Kecamatan.
Entah apa gerangan dan salah apa, salah satu personil relawan dari awak media KPK~SIGAP berinisial “ZF” yang di tugaskan ke Kecamatan Serbajadi dengan membentuk Korlap tanpa sepengetahuan relawan.
Peran Petugas Damkar,yang di tunjukkan selaku Korlap Kecamatan Serbajadi merasa terkejut dan tanpa Konfirmasi,bahkan dia tidak di beri perbekalan tata cara teknis melaksanakan tugas validiasi data rumah korban banjir di Acèh timur.
Sebelumnya “ZF” yang ikut tergabung dalam regu relawan yang di komandoi oleh Peran merasa tidak bisa menerima hal tersebut,di tambah lagi kejadian mised komukasi yang di atur secara sistematis oleh oknum Pegawai BNPB Bersinergi dengan salah satu oknum BPBD di Pemkab Acèh timur., sehingga perang “ZF” bagai tidak dianggap ada dalam penugasan kegiatan mulia tersebut.
” Saya merasa di Persulit,bahkan bisa berangapan saya terzalami dalam permasalahan ini,karena tanpa di beri perbekalan alat penunjang tugas pendataan,jangan kan tas,sepatu,serta topi form pengisian data pun tidak di berikan kepada saya, bagaimana saya bisa melakukan pendataan dengan baik kalau begini caranya”.Ungkap “ZF” dengan begitu kecewa.
Reporter Fikri
Editor mursyidi




