Di Balik Satu Senyuman Petani, Tersembunyi Seribu Jeritan* __(Opini Seruan Hati Petani ; akan ASF Pada Babi & Virus Tanaman Pisang)

 KPK-SIGAP.com. Di ujung senja, di balik ladang yang mulai sepi dan kandang yang sunyi, seorang petani tersenyum menatap langit. Tapi siapa tahu, di balik satu senyuman itu, tersembunyi seribu jeritan yang tak pernah terdengar. Jeritan lelah, jeritan kecewa, jeritan harapan yang digantungkan pada langit dan janji-janji yang entah datang dari mana.
Daerah kita adalah bumi yang jantungnya berdenyut dari tanah dan ternak. Mayoritas warganya adalah petani dan peternak ‘rumahan’. Dengan alat sederhana dan ilmu warisan leluhur, mereka menanam jagung, merawat pisang, memelihara babi, ayam, kambing, sapi—semua dijalani dalam diam, tanpa keluhan yang lantang, tapi penuh keteguhan.
Pemerintah telah memberi banyak : benih, modal hibah, pendamping peternakan. Itu semua seperti cahaya pagi yang menjanjikan panen. Namun, sebagaimana hidup, tak semua cerita berakhir manis. Ketika hama menyerang tanaman pisang, ketika virus ASF menyapu kandang-kandang babi, hati para petani luruh tanpa daya. Mereka bukan ilmuwan, bukan dokter hewan, bukan ahli pertanian modern. Mereka hanya manusia yang bekerja dengan harap dan cinta pada tanah.
Mereka mencoba bertahan, mencari cara, mengobati dengan ilmu seadanya. Tapi jalan itu kadang buntu. Apalagi jika kabar menyebar bahwa penyakit itu tak ada obatnya. Maka, mereka pun menoleh ke satu-satunya tempat yang bisa mereka harapkan: Pemerintah.
Bukan semata bantuan dana yang mereka minta. Tapi kehadiran. Ya, kehadiran—dalam bentuk sosialisasi, penyuluhan, pencerahan. Mungkin juga dalam bentuk kunjungan petugas yang datang dari rumah ke rumah, mencatat jumlah pohon pisang yang mati, mendata babi yang telah dikubur dengan tangis sunyi. Kehadiran yang tak hanya datang saat panen raya, tapi juga saat ladang gagal dan kandang kosong. Dengan data, kita  bisa mengetahui yang sebenarnya tentang petani. Dengan kehadiran, kita bisa menguatkan hati petani. Sebab kadang, satu kalimat penyuluh di pekarangan rumah lebih berarti dari sepuluh halaman laporan di meja kantor.
Lalu kita bertanya pada diri sendiri: cukupkah kerja kita hanya dinilai dari daftar hadir dan absen? Sudahkah kita menjalankan tupoksi kita yang berkaitan langsung dengan kebun dan kandang, bukan hanya dengan layar komputer dan pendingin ruangan?
Petani butuh disentuh dengan kasih sayang otoritas kita. Jika kita tidak bisa berada di posisi mereka karena anugerah jabatan yang kita sandang, maka setidaknya, marilah kita datang dan mendengar. Melihat dari dekat. Menghitung bersama. Merasakannya bersama jika perlu.
Karena sesungguhnya, jeritan petani adalah jeritan bumi. Dan siapa yang tak mendengar jeritan bumi, lambat laun akan kehilangan pijakan di atasnya.                                                                                                                                                 KPK-SIGAP Red E. Embu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *