KPK SIGAP INVESTIGASI JATIM BANYUWANGI
Pasangkayu, Sulawesi Barat – Di balik seragam kebanggaan PT Permodalan Nasional Madani (PNM), Hijrah (19) adalah seorang pejuang sejati. Selama setahun, karyawati muda ini telah berjuang keras demi keluarganya, bekerja sebagai petugas penagih utang. Namun, tugas terakhirnya di Desa Sarjo, Pasangkayu, justru menjadi akhir dari hidup dan perjuangannya.
Setelah dua hari tidak dapat dihubungi, Hijrah ditemukan tewas di tengah kebun pada Sabtu (20/9/2025). Kondisinya sangat mengenaskan, dengan tubuh penuh luka dan hanya menyisakan pakaian dalam. Kematiannya menyisakan duka mendalam bagi keluarga dan rekan-rekan kerjanya.
Pesan Terakhir yang Menjadi Firasat, Sebelum dinyatakan hilang kontak, Hijrah sempat mengirimkan sebuah pesan WhatsApp kepada rekan kerjanya, Wizrah. Pesan singkat itu berisi firasat buruk dan ketakutan yang luar biasa. “Dia bilang takut, karena jalan yang dilewati bukan rumah-rumah tapi malah masuk ke kebun,” ungkap Wizrah.
Hijrah mengaku saat itu sedang dibonceng oleh pelaku bernama Risman (34) suami dari salah satu nasabahnya yang akan ditagih. Namun, jalur yang mereka lalui justru menyimpang jauh ke area perkebunan yang sepi. Itulah pesan terakhir yang dikirimkan Hijrah. Ia tak sempat menyebut nama nasabahnya, dan setelah itu, ponselnya mati dan tak bisa dihubungi lagi.
Pesan singkat yang penuh ketakutan itu kini menjadi petunjuk utama bagi polisi dalam memburu pelaku di balik tragedi ini. Kasus ini menjadi pengingat yang pilu akan risiko besar yang dihadapi oleh para petugas lapangan “ekonomi kerakyatan” yang berjuang di garis depan. Sumber berita: (Red Kurnia – Tim Media Kpk Sigap)




