Masyarakat Mollo kab. TTS NTT naikan “Fanu dan Bunuk” melalui upacara Adat sebagai Perlawanan terhadap Status Tanaman Nasional Gunung Mutis.

Kupang
kpksigap.com

Gunung mutis merupakan satu satunya Gunung yang tertinggi di pulau Timor baik Timor Barat NKRI maupun Timor Leste..

Ignasius Sonbai, salah satu tokoh muda etnis dawan turunan Raja Sonbai mengatakan bahwa sejak jaman dahulu para leluhur menjadikan gunung Mutis dan keberadaannya sebagai seorang ibu yang dari kandungannya melahirkan serta menghidupkan orang Timor dengan sumber kekayaan sumber alam dan air yang memberi hidup serta memiliki kekuatan sakral khusus dalam pandangan orang dawan.
Sehingga ketika Pemerintah mencanangkan Gunung Mutis menjadi Tanaman Nasional terjadi berbagai aksi penolakan oleh masyarakat.
Igo, sapaan Ignasius selanjutnya katakan bahwa, jika pemerintah menginginkan agar Gunung Mutis dijadikan Taman Nasional maka perlu didahului dengan sosialisasi yang mendalam dan luas sehingga dapat dipahami dengan jelas oleh masyarakat karena terkesan bahwa masyarakat ulayat dipinghirkan dalam pengambilan keputusan yang bertentangan dengan etika dan norma transparasi di era ini.

Salah satu bentuk penolakan tersebut yang dilakukan oleh para Raja, tokoh adat dan masyarakat adalah melakukan berbagai pendekatan kepada pihak pihak pengambilan keputusan dan upaya lain yang dilakukan adalah pendekatan sosiocultural di mana
Masyarakat Adat Mollo Timor menggelar Ritual Adat “Nasaeb Fanu Ma Bunuk”, sebuah sumpah sakral kepada arwah, alam, dan Allah untuk menolak perubahan Mutis Timau menjadi Taman Nasional.

Mutis bukan sekadar hutan, tetapi rumah roh leluhur dan jantung kehidupan masyarakat adat. Tanpa persetujuan masyarakat adat, pemerintah mengubahnya menjadi Taman Nasional ke-56 di Indonesia.

Masyarakat adat Mollo memilih perlawanan dengan cara mereka sendiri.
Ritual ini dilakukan di berbagai titik sakral di Mutis:

Nausus, Desa Fatukoto – Ritual awal dengan tutur adat, doa, dan penyembelihan kambing sebagai simbol keberanian. Darah kambing disiram dengan sopi dan dioleskan ke batang pohon beringin yang akan ditanam di pintu masuk hutan adat.
Nu Metan, Desa Fatumnasi – Ritual persembahan ayam jantan sebagai simbol kejantanan. Darah ayam dipersembahkan kepada arwah, alam, dan Allah.

Benpan, Desa Fatumnasi – Ritual di atas jembatan, dengan pemotongan ayam jantan dan darahnya ditumpahkan ke sungai sebagai bentuk persembahan.

Bukit To Tiub, dalam kawasan Hutan Mutis – Ritual penutupan hutan secara adat (Nasaeba Banu), di mana Usif Oematan memimpin tutur adat untuk meminta restu leluhur. Dilakukan penyembelihan babi merah dan tumpahan sopi sebagai persembahan.

Pintu masuk Hutan Mutis – Ritual terakhir dengan penanaman empat pohon beringin yang telah dibasahi darah kambing sebagai penanda bahwa hutan adat Mutis telah ditutup secara adat. Darah ayam juga ditumpahkan ke atas pohon sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.

Setelah ritual ini, Mutis resmi ditutup secara adat. Siapa pun yang melanggar harus siap terima konsekuensinya.

(KPKsigap – RED – Yohanes)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *