KPK SIGAP INVESTIGASI JATIM BANYUWANGI
BANYUWANGI — Ratusan warga Dusun Resomulyo, RT 04/RW 03, Desa Genteng Wetan, Kecamatan Genteng, kembali menggelar tradisi tahunan tasyakuran adat Baritan dan Sedekah Bumi. Acara yang sarat akan nilai budaya ini berlangsung khidmat di Jalan Karimun, tepatnya di perempatan arah Makam Guna Karyo, pada Kamis, (2/7/2026) Pukul 16.00 Sore hari.
Tradisi Baritan ini merupakan ritual adat warisan leluhur masyarakat Jawa yang rutin diselenggarakan setiap setahun sekali, tepatnya pada bulan Muharram atau dalam penanggalan Jawa dikenal sebagai bulan Suro.
Kepala Dusun Resomulyo, Bapak Bisri Mustofa, yang turut hadir dalam acara tersebut, menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan sebuah momentum penting untuk mempererat tali silaturahmi antarwarga.
“Kegiatan ini adalah wujud nyata pelestarian adat istiadat yang sudah turun-temurun. Melalui Baritan ini, kita bersama-sama berdoa dan memupuk rasa gotong royong antarwarga Dusun Resomulyo,” ujar Bisri Mustofa saat memberikan sambutan.
Wujud Syukur dan Ritual Tolak Bala
Secara filosofis, upacara adat Baritan dan Sedekah Bumi ini memiliki makna yang mendalam bagi masyarakat setempat. Acara ini digelar sebagai ungkapan rasa syukur yang mendalam kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala limpahan rezeki, kesehatan, serta hasil bumi yang melimpah selama setahun terakhir.
Selain sebagai bentuk rasa syukur, ritual ini juga diyakini masyarakat sebagai sarana tolak bala—sebuah permohonan doa agar seluruh warga kampung dijauhkan dari segala marabahaya, penyakit, dan kemalangan di masa yang akan datang.
Sementara itu, Ketua Panitia sekaligus perwakilan pengurus RT/RW setempat, Bapak Katirin, mengapresiasi kekompakan warga yang telah menyukseskan acara ini. Menurutnya, swadaya dan antusiasme masyarakat menjadi kunci utama lestarinya tradisi ini.
“Kami sangat berterima kasih kepada seluruh warga RT 04/RW 03 yang telah bergotong royong, baik secara materi maupun tenaga. Kehadiran tokoh masyarakat dan seluruh elemen warga di perempatan jalan ini menunjukkan bahwa rasa kebersamaan kita masih sangat kuat,” ungkap Katirin.
Tradisi Berebut Tumpeng dan Hasil Bumi
Ada yang menarik dalam gelaran Baritan kali ini. Guna menyemarakkan acara dan memperkuat esensi sedekah bumi, pihak panitia telah menyiapkan 11 engkong nasi tumpeng serta 2 buah gunungan hasil bumi. Tidak ketinggalan, aneka jajanan dan snack anak-anak turut ditata rapi untuk diperebutkan oleh warga yang hadir.
Aksi saling berebut tumpeng, hasil pertanian, hingga makanan ringan ini menjadi salah satu momen yang paling dinanti. Suasana riuh penuh kegembiraan tampak jelas saat warga, mulai dari orang dewasa hingga anak-anak, antusias memperebutkan berkah tersemat yang dipercaya membawa kebaikan bagi yang mendapatkannya.
Pemilihan lokasi di perempatan jalan menuju Makam Guna Karyo pun mempertegas nilai simbolis ruang sakral perjumpaan warga dalam ritual ini.
Warga membawa berbagai macam makanan, tumpeng, serta hasil bumi dari rumah masing-masing untuk kemudian didoakan oleh sesepuh adat dan dinikmati bersama-sama.
Ditutup Doa Bersama dan Ramah Tamah
Setelah keseruan tersebut, jalannya acara memasuki prosesi inti yang khidmat. Seluruh warga dan tokoh masyarakat yang hadir duduk bersama di sepanjang jalan untuk melangsungkan ritual doa bersama. Dipimpin oleh sesepuh adat setempat, doa dipanjatkan dengan khusyuk agar ketenteraman dan kemakmuran selalu menaungi wilayah Dusun Resomulyo.
Acara tasyakuran adat ini kemudian diakhiri dengan sesi ramah tamah. Suasana keakraban begitu kental terasa saat seluruh warga membaur menikmati pembagian makanan yang telah dipersiapkan.
Melalui gelaran Baritan ini, masyarakat Dusun Resomulyo berharap agar berkah dan kedamaian selalu menyelimuti kampung mereka, sekaligus memastikan bahwa identitas budaya Jawa tetap hidup lestari. Sumber berita: (Red Kurnia)




