Di Balik Layar Ujian: Kejujuran Siswa SMA Giovanni Kupang Jadi Sorotan

 

KPK sigap.com KUPANG, 21/4/2026

Pelaksanaan ujian akhir sekolah di SMA Katolik Giovanni Kupang tahun ajaran 2025/2026 berlangsung dengan sistem berbasis online yang dirancang ketat untuk menekankan kejujuran peserta didik melalui pengawasan digital.

Kepala SMA Katolik Giovanni Kupang, RD. Drs. Stefanus Mau, Pr kepada media ini mengungkapkan bahwa sebanyak 340 siswa dari 10 rombongan belajar mengikuti ujian yang digelar sejak 13 hingga 20 April 2026.

“Ujian tahun ini menggunakan sistem online dari Yayasan Swastisari Keuskupan Agung Kupang. Sistem ini dirancang untuk memastikan kejujuran siswa. Sekolah hanya menyiapkan soal, baik soal utama maupun susulan,” ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (20/4/2026), kata Romo Stef, sapaan kepala SMA katolik Giovani Kupang.

Menurutnya, aplikasi yang digunakan mampu memantau aktivitas peserta secara real-time. Setiap pergerakan, termasuk saat siswa keluar dari halaman ujian, akan langsung terdeteksi oleh sistem.

“Jika siswa keluar dari jaringan, sistem akan mencatat. Apakah karena gangguan sinyal atau upaya mencari jawaban dari luar seperti Google atau aplikasi lain. Ini yang membuat ujian benar-benar menguji kejujuran,” jelasnya.

Ia menegaskan, nilai kejujuran menjadi fokus utama dalam pelaksanaan ujian, selain mengukur capaian akademik siswa.

Pelaksanaan ujian juga dilakukan dengan standar operasional ketat. Setiap ruang diisi sekitar 20 siswa dengan dua orang pengawas.

Sebelumnya, selanjutnya sekolah telah melaksanakan ujian praktik untuk beberapa mata pelajaran seperti PJOK dan seni musik. Meski berjalan lancar, ujian tidak lepas dari kendala teknis, terutama terkait jaringan internet.

“Gangguan jaringan masih menjadi tantangan. Ada siswa yang harus keluar kelas untuk mencari sinyal, namun tetap dalam pengawasan,” ungkapnya.

Selain itu, kedisiplinan waktu juga menjadi perhatian. Sekolah menerapkan aturan tegas, di mana siswa yang terlambat lebih dari 30 menit tidak diperkenankan mengikuti ujian utama dan harus mengikuti ujian susulan dengan soal berbeda.

“Tercatat ada sekitar lima siswa yang mengikuti ujian susulan karena terlambat,” tambahnya.

RD. Drs. Stefanus berharap para siswa tidak hanya meraih hasil akademik yang baik, tetapi juga menjunjung tinggi nilai disiplin dan kejujuran sebagai bekal melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.

“Setiap tahun, sekitar 90 persen lulusan kami melanjutkan ke perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta, termasuk sekolah kedinasan serta TNI/Polri,” katanya.

Sementara itu, siswa kelas XII mengaku sistem ujian berbasis aplikasi memberikan pengalaman baru yang menantang. Mario Assan, siswa kelas XII B, menyebut ujian kali ini menguji pemahaman menyeluruh dari materi kelas X hingga XII.

“Ujian ini cukup menantang, tapi membantu saya mengingat kembali materi sebelumnya yang penting untuk masa depan,” ujarnya.

Hal serupa disampaikan Ellen Rigby, siswi kelas XII A. Ia menilai penggunaan aplikasi justru mendorong kejujuran siswa karena tidak memungkinkan akses ke sumber lain saat ujian berlangsung.

“Aplikasi ini membuat kita tidak bisa mencari jawaban di luar. Jadi benar-benar mengandalkan kemampuan sendiri,” katanya.

Reporter Yohanes Tafaib

Editor Mursyidi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *