Proyek SPAM Rp10,4 Miliar di Lembah Bawang Disorot: Beton Diduga Tak Sesuai Spesifikasi, Besi “Banci”, Pengawasan Dipertanyakan warga menilai sarang korupsi
Bengkayang KPK sigap– Proyek Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) senilai Rp10,4 miliar yang berlokasi di Kecamatan Lembah Bawang, Kabupaten Bengkayang, menuai sorotan tajam. Proyek yang sejatinya bertujuan memenuhi kebutuhan dasar masyarakat ini justru diduga dikerjakan asal jadi dan tidak sesuai spesifikasi teknis (spek).
Berdasarkan temuan di lapangan, kualitas beton lantai dan beton dinding pada bangunan SPAM tersebut dinilai kurang maksimal. Beton terlihat rapuh, tidak padat, dan diduga menggunakan material pasir dompeng, yang secara teknis tidak direkomendasikan untuk pekerjaan struktur beton bertulang karena dapat menurunkan mutu dan daya tahan bangunan.
Sejumlah pihak yang melakukan pemantauan di lokasi menyebutkan bahwa mutu beton tidak mencerminkan proyek bernilai belasan miliar rupiah. Campuran beton diduga tidak memenuhi standar K (kekuatan tekan) sebagaimana tertuang dalam dokumen perencanaan dan kontrak kerja.
Tak hanya itu, besi tulangan yang digunakan juga menjadi perhatian serius. Besi yang terpasang di beberapa bagian bangunan disebut-sebut merupakan “besi banci”, istilah lapangan untuk besi yang diameter dan kekuatannya tidak sesuai standar, bahkan diduga di bawah ukuran yang disyaratkan dalam spesifikasi teknis.
Lebih mengkhawatirkan lagi, jarak pemasangan besi tulangan terlihat terlalu jarang, jauh dari ketentuan teknis konstruksi beton bertulang. Kondisi ini berpotensi besar mengurangi kekuatan struktur dan menimbulkan risiko kerusakan dini, bahkan membahayakan keselamatan dalam jangka panjang.
“Kalau beton dan besinya seperti ini, ini bukan soal estetika, tapi soal keselamatan dan ketahanan bangunan. Ini proyek air minum, bukan proyek coba-coba,” ujar salah satu sumber yang enggan disebutkan namanya.
Pengawasan Dipertanyakan, Kepala Dinas Disebut Tak Turun Lapangan
Sorotan juga mengarah pada fungsi pengawasan dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Bengkayang. Kepala Dinas PUPR setempat disebut hanya memberikan pernyataan di atas meja, tanpa melakukan pengecekan langsung ke lapangan untuk memastikan kualitas pekerjaan sesuai spesifikasi.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar terkait komitmen pengawasan proyek strategis daerah, terutama proyek yang bersentuhan langsung dengan hajat hidup masyarakat.
“Kalau pengawasan hanya di atas kertas, jangan heran kalau kualitasnya dipertanyakan. Proyek sebesar ini seharusnya diawasi ketat, bukan sekadar laporan administrasi,” kata seorang pemerhati konstruksi.
Bayangkan pasir aja mengunakan limbah Dompeng,(tidak berizin)
Desakan Audit dan Pemeriksaan Menyeluruh
Dengan berbagai temuan tersebut, masyarakat dan sejumlah pihak mendesak agar inspektorat, aparat penegak hukum, serta auditor teknis independen turun tangan melakukan audit menyeluruh, baik terhadap kualitas pekerjaan fisik, penggunaan material, maupun mekanisme pengawasan proyek.
Jika dugaan ini terbukti, maka proyek SPAM yang menelan anggaran Rp10,4 miliar itu dikhawatirkan hanya akan menjadi monumen pemborosan uang rakyat, alih-alih solusi krisis air bersih.
Menurut Irawan S,sos .SH.MH bahwa ada nya kejadian tersebut pintu masuk dari aktor pemain baik dari pelaksana dan dinas PUPR Bengkayang mengapa demikian,contoh beberapa kali proyek spam yang ada di Bengkayang dari tahun lalu orang nya itu saja tentu sudah terkondisikan dan hanya perusahaan aja yang di rubah untuk pelaksanaan,
Jelas semuanya sudah di atur permainan ungkap nya.
Reporter Damianus eko
Editor Mursyidi




