Maumere, Sikka- kpksigap.com
Sejak Minggu lalu banyak orang melontarkan pertanyaan macam-macam. Antara lain: mengapa Gereja mati-matian pertahankan tanah Nangahale? Atau untuk apa Gereja miliki tanah besar-besar seperti itu? Untuk Gereja berbisnis?
Bahkan beberapa pastor SVD yang sedang misionaris di luar negeri ikut juga bertanya: mengapa kita miliki tanah HGU Patiahu kalau memang tanah itu bermasalah? Tidak ada alternatif lain lagi kah untuk bisa hidup?
Sebagai seorang yang studi teologi misi Gereja Pastor Dr. Alexander Jebadu, SVD yang juga Dosen IFTK Ledalero memberikan tanggapan dalam rilisnya yang diterima media ini Minggu ( 02/02/2025).
Menurutnya,kalau kita perhatikan, dan kalau kita belajar sejarah masa lalu, sepak terjang karya misi Gereja dulu itu sangat diwarnai oleh ETOS (=semangat, spirit) bangsa dari mana misionaris Gereja itu datang dari Eropa.
Serikat misi Gereja yang lahir di Spanyol dan Portugal misalnya tambahnya lagi sangat kuat devosi-devosi termasuk devosi kepada Santu Santu.
Patung-patung didirikan di mana-mana. Sedangkan misi di bidang sosial ekonomi dengan beli tanah, buka sawah, buka sekolah tukang kayu, sekolah peternakan itu kurang mendapat penekanan.
Dikatakan SVD yang lahir di Jerman, sangat berbeda dengan tarekat-tarekat lain di dalam Gereja Katolik. SVD didirikan oleh pendiri orang Jerman di negara Jerman yang SDA dan SDM-nya sudah tinggi dari dulu, dan umatnya sangat dermawan dari kelimpahan mereka.
Bapa Arnoldus Janssen, sambil tetap berprinsip “untuk keperluan misi uang ada di saku umat”, juga telah didik tarekat SVD sejak awal supaya kuat ” self-suffience” alias harus tetap kuat usaha sendiri juga (kemandirian).
Karena etos inilah, tidak seperti tarekat-tarekat lain dalam Gereja Katolik, Bapa Arnoldus Janssen selalu dirikan pusat biara atau pusat misi SVD di tengah hutan di mana tanah masih murah dan luas untuk tanam ubi sendiri, tanam sayur sendiri, tanam jagung sendiri, piara babi sebdiri, sapi sendiri, kambing, ayam sendiri dan telur ayam sendiri untuk biaya misi penginjilan termasuk untuk makan minum para calon misionaris tarekatnya.
Itu sebabnya, pusat misi di Jerman St Arnoldus Jannaeb tidak dirikan di tengah Kota Berlin, di Kota Bonn atau Kota Koln tapi ia pilih hutan di antara Kota Bonn dan Kota Koln yaitu tempat yg saat ini menjadi SANK AGUSTIN.
Hal yang sama dengan Techny sebagai pusat rumah misi SVD di AS tidak pilih kota Chicago (kota besar kedua di AS setelah New York tapi pilih TECHNY sebuah tempat hutan saat itu yang letaknya 30 km di luar kota Chicago),Seminari Tinggi pertama di Flores tidak pilih kota Bajawa tapi pilih Hutan Mataloko, tidak pilih Maumere tapi pilih Nita di Ledalero, untuk Seminari menengah tidak pilih kota sumpek Larantuka tapi pilih Hutan luas di Hokeng,tidak pilih Atambua tapi pilih hutan Lalian/ Nenuk, tidak pilih kota Ruteng tapi pilih hutan lembah Kisol dan seterusnya.
Tujuannya apa? Jawabannya adalah untuk dapat tempat luas untuk tanam Ubi dan piara babi sapi serta ayam sendiri untuk biaya karya misi Allah sambil harapkan hati dermawan dari umat.
Pastor Alexander mengatakan Tanah Nangahale dan Patiahu, sebelum menjadi tanah HGU setelah Indonesia merdeka tahun 1945, dibeli SVD dengan uang GULDEN (mata uang Belanda waktu itu) dari perusahaan Belanda untuk kepentingan missio Dei / misi Allah.
Tanah Nangahale dibeli untuk tanam Ubi dan piara babi, sapi dan ayam untuk suplai sendiri makan minum bagi para calon missionaris imam diosesan Se Nusa Tenggara di Ritapiret dan tanah Patiahu dibeli dari perusahaan Belanda untuk tanam ubi, piara sapi, babi dan ayam untuk suplai makan minum dari para calon missionaris SVD bagi misi Gereja sedunia) di Ledalero.
Dari studi tentang model karya misi tarekat- tarekat religius, hanya SVD yang punya strategi misi seperti ini yang diwariskan dari St Arnoldus Janssen.
Sewaktu St Arnoldus Janssen cari tempat untuk rumah student SVD Jerman yang mau studi teologi di Kota Roma, banyak orang tawarkan rumah di sekitar Vatikan. Bapa Arnoldus tdk mau. Sebaliknya dia pilih lahan luas di hutan yang berada di luar tembok kuno kota Roma (FUORI DI MURO) yg menjadi Pusat Jenderalat SVD sekarang ini.
Di Roma, mungkin hanya SVD saja yang mempunyai rumah dengan pekarangan yg luas sampai ada hutan cemara di sekelilingnya dan dilindungi sebagai salah satu paru- paru kota Roma.
Ini hasil dari Otak Jenius seorang putera Jerman St Arnoldus Janssen dan diikuti oleh SVD anak buahnya sewaktu mereka bermisi di seluruh dunia termasuk di Flores, termasuk di Maumere, dengan beli tanah Nangahale dan tanah Patiahu yang dijual oleh penjajah Belanda kala itu untuk suplai makan minum para calon missionaris di Ritapiret dan di Ledalero yang nanti Melayani umat Allah.
Romo- romo SVD dan Romo- romo di Flores yang Anda kenal dan sedang layani Anda telah diberi makan oleh tanah Nangahale dan Patiahu yg diberi oleh SVD anak buah St Arnoldus Janssen dari Jerman.
Dan ini ini bukan bisnis seperti yg dituduhkan atau di salahmengerti oleh banyak k orang. Sebaliknya, ini karya Misi keselamatan dari Allah via SVD – via Gereja termasuk saat ini via Gereja Keuskupan Maumere.
Yg persoalkan tanah HGU Nangahale dan Tanah HGU Patiahu lawan karya Allah sendiri. Hati-hati!!
Semua Umat Katolik, pater- Pater dan romo-romo Gereja Nusa Tenggara seharusnya bersyukur dan berterimakasih karena Gereja Katolik Nusa Tenggara telah dibangun, didesain dan diletakkan dasar-dasarnya oleh sebuah tarekat misi dgn ETOS misi Gereja Jerman via seorang puteranya yaitu St Arnoldus Janssen. Jangan menjadi seprti kacang lupa kulit. Terkutuk nanti. Ingat kacang yg sombong lupa kulitnya sendiri lalu tinggal di dalam karung akan dimasak jadi sayur. Karena itu, Hati-hati.
(KPKsigap – RED – Sikka- Yuven)




