Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) : Mengangkat Harkat Martabat dan kesetaraan wanita Penyandang Cacat.

Kupang
Kpksigap.com .

Stigma dan persepsi  masyarakat yang terbangun  sekian lama  bahwa kaum  disabilitas adalah orang orang yang tidak berdaya dan hanya mengantungkan  harapkan hidupnya pada   belas kasihani dan  bantuan  dari orang  lain serta memposisikan mereka ( penyandang disabilitas) sebagai kelompok orang orang  yang hanya menempati  strata sosial lemah sesungguhnya  itu hanyalah  sebuah stigma yang tidak benar dan salah persepsinya.

Memahami  dan menanggapi  stigma dan persepsi masyarakat yang demikian  maka para penyandang Disabilitas berusaha untuk mengangkat harkat dan martabat mereka sendiri  melalui berbagai upaya yang bersumber pada diri sendiri demi  memberdayakan  potensi dan kemampuan yang dimiliki melalui berbagai cara dan pendekatan positif menuju kemandirian.

Melalui berbagai perjuangan yang panjang dan berliku akhirnya para wanita penyandang disabilitas di Indonesia  berjuang bersama sama mendirikan Organisasi Himpunan Wanita Disabilitas (HWI) nasional  pada 9 september 1997 dengan tujuan memperjuangkan  hak dan martabat  wanita penyandang disabilitas yang selama ini mengalami selalu mengalami berbagai  diskriminasi.

Organisasi  Himpunan Wanita Disabilitas  (HWD) memiliki Visi  dan Misi sebagai berikut ;
Visi:  Menghimpun dan memberdayakan para perempuan penyandang cacat  diseluruh Indonesia  untuk bersama sama memperjuangkan  hak hak dan perlindungan perempuan penyandang disabilitas.
Misi:  Memupuk solidaritas perempuan dan menjunjung tinggi kodrat martabat perempuan penyandang disabilitas serta mengupayakan terwujudnya kesejahteraan sosial perempuan penyandang disabilitas,  Memasyarakatkan dan mengupayakan terlaksananya peraturan perundang- undangan yang berkaitan dengan perempuan  penyandang  disabilitas terutama UU no.8 / 2016 tentang penyandang distabilitas dan UU no. 19/2011 tentang Pengesahan konvensi Hak penyandang disabilitas.

Petronela Sau Nai Kofi ketua DPD  Himpunan Wanita Disabilitas NTT yang ditemui KPK- SIGAP di kediamannya mengatakan bahwa, mereka para wanita penyandang disabilitas  sesungguhnya  juga adalah manusia manusia yang memiliki  harkat, martabat, kemampuan dan potensi yang sama seperti wanita wanita norma, hanya  karena selama ini mereka sendiri  belum sadar untuk memberdayakan diri sendiri akibat dari berbagai  hambatan  dan kendala yang selalu membatasi seperti   perhatian dan kesempatan  yang harus diberikan baik oleh pemerintah maupun masyarakat luas sangat sangat terbatas demi  mendapatkan akses akses pemberdayaan.

Namun sekarang kami bersyukur karena setelah terhimpun dalam wadah HWD  pemerintah  sadar akan keberadaan kami dan mulai   terbuka terhadap  peranan dan fungsi dari organisasi  Himpunan Wanita  Disabilitas sebagai mitra pemerintah dalam berkolaborasi termasuk siap  mendengar dan menerima  masukan dari suara suara wanita penyandang distabilitas, membangun  kerja sama serta ikut memperhatikan  hak hak perempuan disabilitas di NTT serta membuka ruang  demi pengembangan dan  pemberdayaan Sumber Daya  Wanita penyandang disabilitas agar dapat  berkibra.

Ela, nama sapaan harian ketua HWI  NTT, selanjutnya  mengatakan bahwa  sekarang pelan pelan pandangan masyarakat umum bahwa  para penyandang cacat  adalah kelompok orang orang yang harus diberi “belas kasihan” dan harus selalu dibantu karena mereka (kaum penyandang cacat)   karena tidak berdaya  kini mulai berkurang   dengan lahirnya kesadaran bahwa  para penyandang disabilitas juga adalah manusia yang memiliki hak dan martabat yang sama seperti orang orang normal serta memiliki potensi dan kemampuan yang perlu dikembangkan melalui sejumlah pemberdayaan .

Kami  mengharapkan agar terbangun kemitraan dan kerjasama yang harmonis dan produktif antara   para wanita penyandang disabilitas, pemerintah serta masyarakat luas  dapat memberi peluang positif dalam pemberdayaan  perempuan khususnya penyandang disabilitas, kata Ela.

Semoga baik pihak pemerintah, NGO dan lembaga lembaga yang lain serta masyarakat  selalu memberikan ruang dan  kesempatan agar para wanita penyandang  disabilitas mendapatkan hak hak mereka sama seperti para perempuan
normal lainnya.

Para wanita penyandang  disabilitas di NTT sudah banyak yang telah berusaha memberdayakan dirinya melalui pelatihan pelatihan  sehingga sekarang terjun ke dunia  usaha  melalui berbagai usaha produktif, sehingga dapat hidup mandiri tanpa bergantung sepenuhnya pada pihak lain,  kata Ela diakhir perbincangan.

(KPKsigap – RED – Yohanes Kupang)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *