‎Gubernur Sulut “Yulius Selvanus” Serahkan Lahan Strategis 10 Hektare, Sulut Pimpin Gerakan Sekolah Rakyat Presiden RI “Prabowo Subiyanto”.

‎MANADO — kpksigap.com, Senin, 21 Juli 2025.
‎Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara menunjukkan langkah nyata mendukung visi besar Presiden Prabowo Subianto dalam pengentasan kemiskinan. Tak tanggung-tanggung, Gubernur Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus Komaling (YSK) resmi menyerahkan 10 hektare lahan strategis di Desa Tampusu, Minahasa kepada Kementerian Sosial RI untuk pembangunan Sekolah Rakyat, sebagai bagian dari program nasional penghapusan kemiskinan ekstrem.

‎Langkah progresif ini merupakan tindak lanjut langsung dari Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 8 Tahun 2025 tentang optimalisasi program pengentasan kemiskinan, dan menandai peran Sulut sebagai provinsi pelopor dalam implementasi kebijakan pusat di tingkat daerah.

‎”Kami percaya pendidikan adalah pintu utama keluar dari kemiskinan. Maka saat Presiden bergerak, Sulut ikut berdiri di garis depan,” tegas Gubernur YSK dalam rapat koordinasi APBD 2025.

‎Penyerahan ini diformalkan melalui penandatanganan Berita Acara Serah Terima antara Pemprov Sulut dan Kemensos RI di Jakarta, pekan lalu. Menariknya, dari syarat minimal 7 hektare, Sulut justru menyerahkan 10 hektare—bukti komitmen ekstra untuk mewujudkan transformasi sosial di Bumi Nyiur Melambai.

‎Selain itu, Sentra Tumou Tou di Manado juga disiapkan untuk pembangunan Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP), menjadikan Sulut satu dari sedikit provinsi yang membangun dua sekolah sekaligus pada tahap awal proyek nasional ini.

‎”Ini bukan hanya soal sekolah, tapi tentang membangun harapan baru bagi anak-anak miskin ekstrem,” kata Sekjen Kemensos RI Robben Rico.

‎Sekolah Rakyat adalah gagasan personal Presiden Prabowo—sebuah model pendidikan berasrama berbasis karakter untuk anak-anak dari keluarga miskin ekstrem. Di Sulut, program ini menyasar mereka yang masuk Desil Terendah dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).

‎Konsep ini mencakup pembelajaran akademik, keterampilan hidup, pelatihan vokasional, dan pembentukan mental tangguh—dengan kolaborasi kuat antara Kementerian Sosial, PUPR, Pendidikan, dan lembaga teknis lain.

‎”Ini tim kesebelasan yang dimiliki Pak Presiden. Kolaborasi total,” ujar Robben.

‎Dari 100 lokasi tahap awal di 48 kabupaten/kota, Sulut dipilih karena memiliki angka putus sekolah menengah yang masih tinggi, serta potensi dampak berantai terhadap wilayah kantong kemiskinan.

‎Kompleks di Tampusu dan Manado nantinya tak hanya jadi sekolah, tapi juga pusat pelatihan untuk para orang tua, pemberdayaan UMKM lokal, dan pelatihan keterampilan masyarakat—sebuah intervensi multidimensi yang digariskan langsung oleh Inpres NO.8 tahun 2025.

‎Dengan langkah konkret ini, Sulut mengirim sinyal kuat: pengentasan kemiskinan bukan sekadar retorika, tapi membutuhkan keberanian mengambil tindakan nyata. Dan Sulut telah melangkah lebih dulu.

‎”Kami ingin pembangunan benar-benar menyentuh akar rumput. Kami tak hanya mengikuti perintah pusat, tapi menjadikannya bagian dari gerak hati dan nurani daerah,” tutup Gubernur YSK.***


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *