Kapuas Hulu,kpksigap.com – Kalimantan Barat Di jantung rimba Kalimantan Barat, tepatnya di Kecamatan Suhaid, suara mesin dompeng kembali meraung. Sungai Batang Suhaid tak lagi hanya mengalirkan air, tapi juga emas – emas ilegal. Dan di balik gemerlap kilau logam itu, tersimpan kisah yang lebih gelap dari lumpur tambangnya: soal kekuasaan, uang, dan nama-nama yang selama ini tak terdengar.
Seorang warga Suhaid – sebut saja WS – memecah keheningan. Melalui pesan WhatsApp yang dikirim ke redaksi pada Selasa, 3 Juni 2025, ia mengungkap peta kekuatan yang mengendalikan jaringan PETI (Penambangan Emas Tanpa Izin) di wilayahnya. Nama-nama yang disebut WS bukan sembarangan: Pak De Ogeng, Pak Muksin, Pak Gu, hingga Pak Ugeng Sugali. Bukan tokoh cerita rakyat, tapi tokoh nyata yang disebutnya sebagai “panitia penyelenggara PETI”.
“Mereka itu yang ngatur semua, Bang. Dari lokasi kerja sampai distribusi solar. Bahkan sekarang mereka mulai tarik inkam, 300 ribu per minggu,” beber WS.
Tapi yang lebih mengejutkan adalah sosok misterius pemasok BBM solar. Bukan perusahaan besar atau mafia kelas kakap—tapi dengan nama yang lebih cocok untuk menu dapur: “Kacang Hijau”.
“Solar buat PETI dikondisikan sama ‘Kacang Hijau’. Dia pengepul bahan bakar. Semua udah diatur,” lanjut WS.
Sungai, Desa, dan Kematian yang Dilupakan
Menurut WS, tambang ilegal ini telah menjalar seperti akar beringin tua – mencengkeram tiga desa sekaligus: Tanjung Harapan, Tanjung, dan yang kini paling ramai: Desa Mantan. Lokasinya bukan sembarangan. Tepat di titik yang dulu dikenal angker, tempat seorang warga tewas tertimpa pohon di malam hari.
> “Dulu orang situ meninggal ketimpa pohon. Sekarang malah jadi pusat tambang. Langting jek mereka, Bang!” kata WS, menyebut lokasi “Langting Jek” yang dipercaya warga memiliki sejarah kelam.
Namun, cerita ini tak berhenti di lapangan tambang. Ada nama besar yang disebut-sebut jadi pengendali utama: Kepala Desa Mantan, Moses.
“Daerah Mantan itu gak pernah disentuh aparat hukum, karena dikendalikan langsung sama Kades Moses,” tegas WS.
Moses, sosok kepala desa yang disebut WS seolah jadi perisai hidup para penambang. Dengan kekuasaan administratif dan kemungkinan relasi kuat, ia dituduh menjadi gembok yang mengunci mulut penegak hukum.
Jerit Sunyi dari Dalam
WS bukan sedang cari sensasi. Ia meminta identitasnya dirahasiakan. Bukan takut dibalas warga – tapi takut lenyap tanpa jejak.
“Tolong rahasiakan nama saya, Bang. Ini demi kontrol sosial. Kasihan masyarakat yang kena imbas buruk PETI ini.”
Tambang emas ilegal di Suhaid bukan lagi cerita bisik-bisik. Ini adalah alarm keras yang butuh respons cepat dari aparat penegak hukum, termasuk Polda Kalbar dan Polres Kapuas Hulu.
Redaksi media ini membuka ruang hak jawab seluas-luasnya bagi pihak-pihak terkait. Kebenaran tak berpihak, tapi masyarakat berhak tahu siapa yang menggenggam tambang dan siapa yang membungkam hukum.(RM)
Tim Redaksi




